Perjuangan Wanita Saat Melahirkan

Perjuangan seorang ibu untuk melahirkan sang buah hati sering diibaratkan sebagai perjuangan hidup dan mati. Mungkin agak berlebihan, tetapi tidak bisa dipungkiri ada banyak risiko yang dihadapi para ibu selama proses persalinan. Karenanya perjuangan saat melahirkan tidaklah mudah.

Terlebih bila melahirkan anak pertama, biasanya proses mencari jalan untuk sang bayi keluar, lumayan lama. Pengalaman penulis yang melahirkan anak pertama dengan normal dan anak ke 2 dan 3 dengan Caesar. Melewati masa-masa sulit yang berbeda. Melahirkan normal berjuang agar bayi cepat keluar dengan cara mengejan untuk membantu proses pembukaan pintu rahim dalam hitungan 1 sampai 10. Untuk menuju bukaan 1 atau 2 itu untuk anak pertama lumayan diajak untuk segera hadir ke dunia.

Setelah 2 kali ke rumah sakit baru mau keluar. Beda lagi dengan anak ke 2 dan 3, setelah berbagai bayi terlilit tali plasentanya dan hampir membiru karena tidak bisa bernapas, akhirnya dipilih operasi cesar. Dan sakitnya itu setelah operasi. Karena proses pengeringan dan rapatnya lumayan berhati-hati. Sisi lain, beberapa wanita harus melewati perjuangan antara hidup atau mati, saat menjelang lahirnya sang bayi. Entah karena tensi atau penyakit lain yang timbul sebagai ujian. Luar biasa, rasa syukur itu adalah, kala bayi lahir dengan selamat setelah perjuangan itu.

Saat-saat kehamilan itu juga menentukan. Bagaimana sikap wanita menghadapi kehamilan dan lingkungannya. Melewati masa-masa per triwulan kehamilan, dengan hormon yang mengganggu kehidupan normal seorang wanita. Namun itulah letak kebahagiaan, dan rasa syukur yang tak terhingga. Berapa banyak wanita yang merindukan kehadiran sang bayi dalam rahimnya, namun tak kunjung hadir. Sementara, kita yang di beri kehadiran itu tak tahan melewati beratnya perjuangan saat melahirkan. Padahal di situlah letak ibadah seorang wanita, dengan keikhlasannya.

Dengan perjuangan itu, melahirkan berjuta rasa tak terhingga, seperti tumbuhnya rasa kasih sayang ibu yang akan melahirkan anaknya, lebih sensitive dan peka pada hati perempuan lainnya, merasakan bagaimana seorang ibu, sehingga lebih hormat dan berterimakasih kepada ibunya yang telah melahirnya mereka dulu dengan perjuangan yang sama dengannya saat ini dan masih banyak lagi. Subhanallah, nikmat mana lagi yang akan kita ingkari dengan kehamilan ini. Sehingga perjuangan saat melahirkan, betul-betul dinikmati sebagai puncak atas kesabaran melewati kehamilan dengan aneka perasaan. Dan saat sang bayi lahir itu menjadi obat dan hadiah terbaik atas segala perjuangan.

Dari Abu Hirairah Radhiyallahu Anhu, beliau berkata “Seseorang datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan berkata. ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab. ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Masya Allah, sungguh mulia kedudukan seorang Ibu sehingga kita diharuskan berbakti padanya melebihi kepada sang Ayah. Menganai hal ini Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya Al-Jami’ul Al-Ahkamil Qur’an’ mengatakan bahwa hadits tersebut menunjukkan tiga kecintaan dan pengorbanan seorang ibu yang patut di-hadiah-i surga.

Masya Allah, sungguh surgalah hadiah yang pantas bagi seorang ibu atau wanita yang mengasihi dan mendidik anaknya hingga menjadi seorang yang shaleh. Setelah perjuangannya saat melahirkan, tidak berhenti sampai di situ saja. Tapi saat setelah bayi itu lahir dan besar. Yuk raih surgaNya dengan keikhlasanmu wahai wanita sholihah. Itu dimulai dari perjuangan saat melahirkan.

Rate this article!
Tags:
author

Author: