PERCAYA DIRI DI DEPAN DAN BELAKANG LAYAR

Apa yang terlintas dalam pikiran kita saat disebutkan kata ‘percaya diri’ (PD) ? Biasanya PD ini dihubungkan dengan kemampuan seseorang tampil di depan umum, baik sebagai MC ataupun pengisi acara yang lain. Iya gak? Bener juga sih. Tapia pa bener Cuma sebatas itu? Saya menemukan pemikiran baru tentang ilmu PD ini.

Sore kemarin, saya iseng bikin status di facebook. “Lebih pilih mana? Jadi orang di depan layar atau belakang layar? Ada beberapa yang komentar dan kebanyakan teman facebook saya menjawab lebih nyaman di belakang layar. Mungkin mereka sama seperti saya, yang lebih suka berkarya dalam diam, merenungkan suatu momentum lalu membagikannya lewat karya-karya, baik dalam bentuk tulisan, audio, gambar dll. Saya rasa semua karya itu takkan tercipta jika taka da rasa percaya diri kan?

Ketika saya menanyakan pertanyaan yang sama pada siswa saya, mereka galau. Ada yang bilang di depan layar, abis itu ganti lagi bilang di belakang layar. Nah, jawaban siswa saya ini menunjukkan beum tumbuhnya kepercayaan diri, bahkan untuk menjawab tentang keinginan dirinya saja mereka masih plin-plan. Kepercayaan diri itu memang harus dimunculkan bahkan dalam tahap awal sebelum berkarya. Ya, mengetahui potensi diri sejak dini, akan membantu menemukan kepercayaan diri kita baik di depan ataupun di belakang layar.

Lazimnya kepercayaan diri dihubungkan dengan tampilnya seseorang di hadapan umum, namun saya mulai berpikir bahwa dunia literasi, editing, design grafis mungkin sengaja diciptakan untuk menyalurkan bakat dari orang-orang seperti saya, yang tidak percaya diri untuk tampil di depan, namun juga tak tinggal diam saja, menelurkan karya di belakang layar. Tentunya, semua itu butuh kepercayaan dari pembuat karya dong. Terlepas dari bagaimana proses karya itu tercipta, berpeluh, berairmata, dilanda kejenuhan, bahkan jatuh berkali-kali, saya rasa tak masalah, karena hidup memang harus terus belajar menjadi lebih baik kan?

Di zaman yang penuh dengan tekanan hidup ini, banyak manusia yang cepat putus asa dan memilih mengakhiri hidupnya atau mengambil pelarian ke miras dan hal negative lainnya. Kenapa bisa seperti itu? Selain karena kurangnya bekal keimanan, ternyata masalah percaya diri ini menjadi penyebabnya. Kalau saja mereka percaya akan kemampuan dirinya, mestinya mereka tidak akan mengambil jalan pintas itu dan tetap berusaha menyelesaikan masalahnya.

Kepercayaan diri atau optimisme adalah keyakinan yang akan mengantarkan menuju hasil terbaik. Seseorang bermental pemenang adalah ia yang memiliki kepercayaan diri dan bersungguh-sungguh. Selain itu, percaya diri ini adalah sisi lain dari makna tawakkal, Berikhtiar dengan baik dengan segenap kemampuannya, lalu berpasrah pada hasil yang Allah siapkan. Jadilah PD dan ciptakan karya yang bermanfaat, sekalipun hanya di belakang layar. Everyday is PD day. Wallahu’alam.

Tags: