PERBEDAAN ASURANSI SYARIAH DAN KONVENSIONAL (PART 2)

Perbedaan utama asuransi syariah dengan asuransi konvensional terletak pada konsep dasarnya. Asuransi syariah mengutamakan konsep tolong menolong sesama peserta (Para pemegang polis), perusahaan asuransi syariah merupakan wadah untuk mengumpulkan dan mengelola dana peserta.
Dana yang diterima dari peserta oleh perusahaan asuransi sebagian digunakan untuk biaya administrasi atas pengelolaan dana, dan sebagian lagi disisihkan sebagai cadangan untuk membantu menanggulangi resiko yang terjadi dimasa depan bagi para peserta lainnya, dan sebagian lagi untuk tabungan mereka yang diinvestasikan oleh perusahaan ke lembaga investasi yang nantinya akan diserahkan kembali kepada peserta jika tidak terjadi resiko dimasa depan pada batas waktu sesuai perjanjian, jika terjadi resiko dalam waktu masa perjanjian maka dana tabungan dari peserta tersebut akan diserahkan kepada ahli waris bersama dengan dana yang telah dipertanggungkan untuk resiko masa depan yang diambil dari dana yang telah disisihkan dari para peserta lainnya. Apabila perusahaan memperoleh keuntungan dari hasil investasi maka akan ada perhitungan bagi hasil yang diberikan kepada para peserta yang telah dihitung menggunakan prosentase tertentu secara proporsional sesuai jumlah dana investasi yang disetorkan oleh para peserta.
Apabila peserta melakukan pembayaran angsuran premi setelah melewati tanggal jatuh tempo (Tertunda), maka tidak akan dikenakan denda atas keterlambatan pembayaran tersebut dan tidak dikenakan masa observasi atas resiko masa depan yang mungkin terjadi atas keterlambatan pembayaran tersebut, sehingga apabila terjadi resiko setelah melewati masa pembayaran tertunda tidak akan mengurangi jumlah nilai pertanggungan yang akan dibayarkan. Tetapi apabila terjadi misalnya setelah beberapa waktu berjalan kontrak asuransi, peserta tidak membayar angsuran preminya satu atau beberapa periode, maka tidak akan dikenakan denda atas hal tersebut dan polis asuransinya tetap dinyatakan lancar (Inforce) sebab angsuran pembayaran preminya yang tertunda diambil dari nilai tabungan asuransinya yang telah disetorkan selama periode kontrak berjalan. Apabila setelah itu peserta membayar premi tertundanya maka dana yang telah dibayarkan tersebut dimasukkan ke tabungan investasinya untuk menutupi dana yang telah dialihkan sebelumnya. Pada kejadian seperti ini hanya mempengaruhi nilai bagi hasil dari investasi tersebut.
Pada asuransi konvensional hanya mengedepankan konsep saling menguntungkan dan balas jasa. Dimana perusahaan asuransi menjual jasa untuk menanggung resiko dari seseorang atau pihak lain. Pihak tertanggung dapat melimpahkan sebagian dari resiko masa depan yang mungkin terjadi dengan kompensasi membayar sejumlah uang yang disebut uang premi. Seluruh dana atau uang premi yang masuk menjadi milik perusahaan asuransi seluruhnya. Apabila terjadi resiko maka menjadi kewajiban dan tanggung jawab penuh bagi perusahaan asuransi untuk membayar uang kompensasi yang telah dipertanggungkan sesuai perjanjian. Ketika mengalami keuntungan akan diberikan sebagian kepada para nasabah sebagai bagian laba dari perusahaan. Jadi dana yang disetorkan oleh para nasabah menjadi milik perusahaan sepenuhnya. Apabila nasabah mengalami pembayaran angsuran premi tertunda, maka akan dikenakan denda atas keterlambatan pembayaran tersebut. Selama nasabah tersebut belum melakukan pembayaran atas polis asuransi yang tertunda, maka polis asuransi dinyatakan lapse atau tidak inforce atau tidak lancar. Apabila premi tertunda tersebut dibayarkan kembali (Dipulihkan), maka dikenakan masa observasi sesuai perjanjian. Apabila terjadi klaim dalam masa observasi maka jumlah yang dibayarkan tidak sesuai jumlah nilai yang dipertanggungkan di awal tetapi perjanjian menyesuaikan ke masa observasi.

Bersambung…..