Peran ibu dalam menanamkan tauhid kepada anak-anaknya (Bagian 2)

Tugas dasar seorang ibu sebagai madrasah pertama bagi anaknya adalah menanamkan tauhid/ akidah yang kuat kepada anaknya, karena tauhid adalah dasar dari pengasuhan.

Dalil mengenai pentingnya tauhid yang tercantum di dalam Al Quran adalah sebagai berikut.

– QS. Ibrahim, ayat 35:
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala.””

– QS. Al Baqarah, ayat 133:
“Apakah kamu hadir ketika Ya’qub hendak dijemput oleh maut, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha esa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.””

– QS. Luqman, ayat 13:
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya.”Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.””

Dari ketiga dalil di atas, baik Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Nabi Ya’qub ‘alaihissalam, maupun Luqman Al Hakim, mereka semua menjadikan tauhid sebagai prioritas utama, memastikan anak-anak dan keturunannya memiliki dasar tauhid yang kuat.

– Nabi Ibrahim ‘alaihissalam hingga berdoa meminta kepada Allah agar menjauhkan anak dan keturunannya dari berhala.
– Nabi Ya’qub hingga di akhir hidupnya bahkan sampai memastikan apa yang akan disembah oleh anak-anaknya.
– Luqman Al Hakim menyampaikan pesan kepada anaknya agar jangan mempersekutukan Allah.

Karena tauhid adalah dasar pengasuhan, maka jalinan hubungan iman yang kuat dengan Allah harus dijadikan prioritas. Ukuran kesuksesan seorang anak dalam islam, bukanlah dari besaran materi dan perkara duniawi yang telah dicapainya, tapi bagaimana kedekatan & keimanannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Jika dasar tauhidnya sudah kuat, maka hal-hal yang lainnya pun akan baik.

Urutan yang salah dalam menstimulasi dan mendidik anak yang sering dilakukan oleh orangtua adalah mereka mengajarkan kewajiban agama terlebih dulu (sholat, puasa, dll), namun lupa untuk menanamkan tauhid yang kuat terlebih dahulu kepada anak-anaknya.

Mengenalkan Allah kepada anak harus dilakukan paling dahulu, sebelum mengajarkan kewajiban dalam agama. Jika yang dilakukan sebaliknya, maka jangan heran jika kita menemukan penghafal Al Quran tetapi perilakunya menyimpang, hafal Al Quran tetapi ibadahnya kacau, dan lain sebagainya.

Mari belajar bagaimana dahulu cara Rasulullah mendidik, yaitu beliau menanamkan iman terlebih dahulu sebagai dasar.

“Jundub bin Abdillah ra berkata : ” Kami adalah para remaja yang hidup bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami belajar iman terlebih dahulu kepada beliau sebelum kami belajar Al Qur’an, kemudian saat kami belajar Al Quran maka meningkatlah iman kami.””

Jika tauhid yang dikenalkan terlebih dahulu, yaitu iman kepada Allah yang dimantapkan lebih dahulu, maka segala perintah dari Allah akan otomatis ditaati, karena yang menjadi dasarnya dalam beramal adalah karena dia terhubung langsung dengan Allah.
Kenalkan Allah kepada anak dengan cara mengenalkan segala kebaikan-kebaikan Allah. Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Allah yang memberi rezeki, Allah yang memberikan kesuksesan, dan lain sebagainya. Kenalkanlah Allah dan buat anak mengimani hal itu.

Mengapa kedudukan tauhid sangat penting? Karena jika tauhid sudah kuat, maka kebaikan-kebaikan yang lain akan dengan sendirinya mengikuti.

1. Tauhid adalah dasar untuk beramal, memberikan motivasi untuk beramal.

Karena iman yang kuat kepada Allah, maka tidak akan ada keraguan terhadap Al Quran. Segala perintah di dalam Al Quran akan ditaati, dan segala larangannya akan dijauhi. Anak akan melaksanakan sholat karena dia memahami bahwa dengan mentaati perintah Allah berarti membuat Allah ridho dan sayang kepadanya.

2. Tauhid adalah dasar untuk berakhlak baik.

Anak yang beriman kepada Allah, otomatis segala perilakunya akan mengikuti perintah Allah dan Rasulnya.

Dalam hadits berikut ini:
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya”. (Riwayat Bukhori dan Muslim).

Hadits di atas sebagai gambaran jika seorang anak beriman kepada Allah dan hari akhir, maka akan baik pula bicaranya, akan menghormati dan memuliakan orang lain dan akan baik pula akhlaknya.

Jika landasannya untuk berakhlak baik adalah tauhid, maka dalam keadaan dekat ataupun berjauhan dengan orangtuanya, anak akan tetap berakhlak baik, karena yang menjadikannya berakhlak mulia adalah karena imannya kepada Allah.

3. Dengan tauhid, anak akan selalu berbuat baik kepada orangtua

Berbuat baik kepada orangtua di dalam islam, bukanlah urusan balas jasa atas segala kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh orangtua. Karena dalam islam, seburuk-buruknya orangtua, anak tetap harus berbakti kepada orangtuanya.

Ibu tidak perlu menyebutkan segala kebaikan yang telah dilakukannya untuk anak; melahirkan, menyusui, merawat, dan sebagainya untuk membuat anak berlaku baik kepadanya. Cukup tanamkan tauhid, maka anak akan otomatis berbuat baik kepada
orangtuanya, karena dia memahami bahwa itu adalah perintah dari Allah, kewajiban dari Tuhannya.

Dalam QS. An-Nisa, ayat 4:
“Dan beribadahlah kamu kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Berbuat baiklah kepada dua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan suka membangga-banggakan diri.”

Semoga bermanfaat. Barakallahu fikum.

Rangkuman dari kajian Ustadz Bendri Jaisyurrahman
“Peran ibu dalam menanamkan tauhid kepada anak-anaknya”, @ Masjid Saifillah BSD, 19 Januari 2017

author

Author: