Peran ibu dalam menanamkan tauhid kepada anak-anaknya (Bagian 1)

Mengapa Ibu harus menuntut ilmu (agama)? Karena ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.
Niatkan menuntut ilmu hanya untuk mengharapkan ridho Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga insyaaAllah juga membuahkan pahala yang besar.

Di balik anak yang hebat dan soleh, pasti terdapat peran seorang ibu yang hebat. Berikut adalah contoh teladan para ibu yang telah mencetak anak-anak yang hebat untuk kita jadikan panutan.

1. Nuwair binti Malik, ibu dari Zaid bin Tsabit sang Pengumpul Al Quran

Saat Zaid bin Tsabit masih berumur 13 tahun, beliau memiliki keinginan yang sangat kuat untuk turut serta berjihad dalam perang Badar. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengizinkannya karena usianya yang masih terlalu kecil. Sang ibu yang memahami kekecewaan anaknya, lalu memotivasi Zaid untuk berjuang di jalan Allah dalam bentuk lain, yaitu dengan menjadi penghafal Al Quran.

Karena bagusnya kemampuan hafalan Zaid, Rasulullah pun menjadikan Zaid bin Tsabit sebagai sekretaris beliau, yaitu bertugas untuk menuliskan setiap wahyu yang diturunkan Allah subhanahu wa ta’ala kepada beliau. Bahkan, saat Rasulullah memerintahkan Zaid untuk mempelajari bahasa Ibrani, Zaid dapat menguasainya hanya dalam waktu 2 pekan. Kelak, karena kekuatan hafalannya dan keluasan ilmunya akan Al Quran, Zaid bin Tsabit pun ditugaskan oleh Khalifah Abu Bakar untuk menghimpun ayat-ayat Al Quran, dan beliau pun diberi gelar “Jami al Quran al Karim” atau Pengumpul Al Quran.

Dari Nuwair binti Malik, kita belajar bagaimana besarnya peran seorang ibu dalam menemukan potensi anaknya dan memberikan motivasi yang besar kepada anaknya.

2. Hajar, ibu dari Nabi Ismail ‘alaihissalam

Kita belajar mengenai keteguhan, keikhlasan dan kesabaran yang ditunjukkan oleh Hajar pada saat ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam hanya berdua saja bersama Ismail kecil di tengah-tengah padang pasir yang tandus. Hajar taat dan ikhlas ditinggalkan karena mengetahui bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam melakukannya atas dasar perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Dan Hajar harus berjuang belari mengitari bukit Syafa dan Marwa untuk mencari sumber air, sampai nantinya muncul mata air zamzam.

3. Ummu Robi’ah, ibu dari Robi’ah Al Ra’yi, guru dari Imam Malik rahimahullah

Diceritakan bahwa ayah dari Robi’ah Al Ra’yi, yang bernama Farrukh, pergi meninggalkan istrinya selama 30 tahun untuk berjihad. Sebelum berangkat, Farrukh meninggalkan uang sebanyak 30 ribu dinar kepada istrinya. Saat kembali ke rumahnya 30 tahun kemudian, Farrukh mendapati bahwa anaknya telah menjadi seorang ulama besar di Madinah. Uang yang ditinggalkannya itu ternyata digunakan istrinya untuk membiayai pendidikan sang anak sehingga berhasil menjadi seorang alim ulama.

Dari Ummu Robi’ah kita belajar bagaimana seorang ibu menggunakan harta suaminya dengan sebaik-baiknya, yaitu memproritaskan penggunaannya untuk kepentingan pendidikan anaknya.

4. Ummu Abdurrohman, ibu dari Imam Besar Masjidil Haram, Abdurrohman As-Sudais

Kisah yang sangat masyur, bagaimana seorang ibu yang dalam keadaan marah pun tetap menjaga lisannya untuk mendoakan hanya yang baik-baik kepada anaknya. Suatu ketika, saat Abdurrohman kecil mengacak-acak hidangan makanan yang telah dipersiapkan oleh ibunya, sang ibu yang marah pun berkata yang artinya, “Pergi kamu! Biar kamu menjadi imam di Haramain!”
Dan masyaaAllah, kelak saat dewasa anaknya pun benar-benar menjadi Imam di Masjidil Haram, persis seperti apa yang didoakan ibunya saat marah.

Dari Ummu Abdurrohman kita belajar bagaimana mustajabnya doa seorang ibu. Sehingga sangat penting bagi ibu untuk berlatih agar selalu mengucapkan kalimat-kalimat positif kepada anaknya, bahkan pada saat dalam keadaan marah sekalipun.

 

—- Bersambung…

Rangkuman dari kajian Ustadz Bendri Jaisyurrahman
“Peran ibu dalam menanamkan tauhid kepada anak-anaknya”, @ Masjid Saifillah BSD, 19 Januari 2017

 

author

Author: 

Leave a Reply