Pentingnya Pendampingan Orangtua Saat Anak Masuk SD

Pentingnya Pendampingan Orangtua Saat Anak Masuk SDTahun ini adalah tahun pertama Rafa menjalani statusnya menjadi pelajar SD. Sewaktu dia akan memasuki SD, dia sangat senang sekali. Karena sudah pasti dia akan mendapatkan buku-buku baru, seragam baru dan juga tas dan sepatu baru. Jauh-jauh hari sebelum dimulai kegiatan belajar mengajar, Rafa sudah beberapa kali mendatangi sekolah barunya yang sekarang yaitu MI Hidayatullah. Disana dia harus melakukan pengukuran seragam dan tes masuk MI.

Alhamdulillah dari semua anak yang masuk, nilai Rafa menempati urutan 2 terbesar sehingga otomatis diterima di sekolah tersebut. Tes disana meliputi, baca dan tulis huruf latin,  baca dan tulis huruf arab, menulis angka dan berhitung , gerakan sholat beserta bacaannya  dan surat-surat pendek. Aku mendampinginya dari kejauhan ketika tes. Kubiarkan saja Rafa berbaur bersama “calon” teman-teman barunya nanti.

Terlihat banyak sekali anak-anak yang tidak membiarkan ibunya beringsut dari sisinya. Aku memakluminya, karena mungkin bagi mereka ini pertama kalinya berada di lingkungan yang baru. Tapi tidak demikian dengan Rafa. Sebagaimana anakku yang sulung Reza, Rafa dengan santainya berguling-guling di mesjid, berlarian, dan mengobrol dengan teman-teman barunya. Dia menganggap tempat barunya seperti tempat yang sudah sering dia kunjungi. Saking keasyikan mengobrol Rafa sampai tidak mendengar ketika Guru penguji memanggilnya untuk tes.  

Sama halnya ketika pembagian kelas. Ketika anak lain diam karena sedang mendengarkan pengumuman pembagian kelas, eh Rafa malah jalan-jalan dan ngobrol dengan anak lain yang belum dikenalnya. Akibatnya ketika semua anak sudah baris sesuai pembagian kelasnya, Rafa kebingungan sendiri. Aku sebetulnya sudah tahu karena kulihat Rafa memang anaknya tidak mau diam. Makanya ketika dia bingung masuk ke kelas mana, aku suruh dia sendiri yang bertanya pada ibu dan bapak guru di depan, seharusnya masuk ke kelas yang mana. Alhamdulillah dia berani untuk bertanya sendiri tanpa perlu aku dampingi.

Ketika kegiatan belajar mengajar dimulai, aku menyempatkan diri untuk mengantarnya. Seketika sekolahan sesak penuh dengan ratusan anak kls 1 SD yang baru masuk disertai orangtuanya masing-masing. Selama itu juga aku melihat para orangtua yang kewalahan karena anak mereka menangis ketika orangtuanya meninggalkannya karena harus bekerja. Dan tanpa diduga, karena melihat teman-temannya memeluk ibu mereka ketika akan ditinggal, Rafa ternyata ikutan tidak mau ditinggal. Tidak biasanya Rafa melakukan hal ini, tapi aku sangat memaklumi semua masa transisi ini. Selain apa yang dilakukan teman barunya “mempengaruhi” dia. Rafa juga kehilangan teman-teman baiknya di SD dan dia harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Meski terlihat ketika bermain dia berani, tapi dia masih merasa “sendiri” ketika aku akan meninggalkannya.   

Transisi antar tingkat pendidikan TK ke SD memang membuat anak-anak seperti keluar dari zona nyaman mereka selama ini. Dari level pendidikan yang sebelumnya mengutamakan aktivitas bermain sambil belajar menuju suasana kelas yang lebih serius. Pelajaran yang diajarkanpun lebih spesifik dan jam belajar menjadi lebih lama. Permasalahan umum yang dihadapi anak yang memasuki transisi ke SD adalah rasa takut karena lingkungan mereka baru dan mereka juga sedih kehilangan teman baik mereka sewaktu di TK. Selain itu anak-anak juga masih senang bermain dan kadang mereka belum mau untuk disuruh menulis. Padahal pada jenjang SD ini, kegiatan menulis akan semakin banyak.

Bila masalah itu terjadi, janganlah anda mencemooh anak anda, misalnya dengan berkata: “Ah, kamu kan sudah besar sekarang, masa mama tinggal aja kok nangis” atau “Kamu sekarang kan sudah SD, masak gitu aja kok takut”. Cemoohan anda hanya akan membuat dirinya semakin minder. Sebaliknya ciptakanlah rasa aman bila dia bersekolah disana. Anda bisa mendampinginya ketika anak diperkenalkan pada guru-gurunya sehingga anak merasa bahwa guru adalah sahabat orangtua mereka di sekolah.

Tidak mudah bagi sebagian anak untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya. Untuk membantunya beradaptasi, maka orangtua harus berempati terhadap anak-anaknya. Kenalkan arti belajar secara menyenangkan dengan bercerita pengalaman kita sewaktu kecil kepada anak. Tidak semua anak menganggap belajar adalah suatu hal yang menyenangkan, maka kita harus berperan aktif dalam setiap proses belajar anak.

Apa saja yang bisa dilakukan untuk membantu anak melewati masa transisi mereka?

  • Dampingilah anak-anak anda pada saat belajar disemua mata pelajaran, karena semuanya hal baru bagi mereka. Buatlah suasana yang nyaman bagi anak selama anda mendampinginya sehingga mereka merasa belajar adalah suatu hal yang menyenangkan.
  • Anda juga bisa mengajarinya pelajaran diluar sekolah untuk meningkatkan kreatifitas anak dan juga sebagai selingan agar anak tidak bosan saat belajar. Misalnya anda dapat mengajarkannya membuat Origami, mewarnai dll.
  • Bantulah anak untuk menemukan cita-cita mereka dan tunjukkan antusiasme anda dalam mewujudkan cita-cita tersebut.

Ingatlah bahwa masa kebersamaan anda dengan anak sangatlah singkat. Anda akan kehilangan momen tersebut jika anda melewatkannya karena tanpa anda sadari tahu-tahu anak anda sudah besar dan lambat laun peran anda dalam kehidupannya akan semakin berkurang. Jadi jangan lewatkan sedikitpun masa-masa indah anda bersamanya.

Salam,

Tita Dewi Utara

KMO 07

Sarapan Kata ke 30

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply