PENTINGNYA MEMBANGUN BRAND

Oleh: Abdullah Makhrus

Pagi ini, setelah bersantap sahur bersama keluarga, saya mengajak anak-anak sholat subuh ke mushollah. Selepas sholat subuh dan melanjutkan tilawah, kemudian saya menawarkan pada anak-anak untuk pergi jalan-jalan berwisata ke “Kuala Lumpur” Lapindo di Porong Sidoarjo. Ternyata hanya Nadiyah, putri kedua saya yang mengacungkan tangan menandakan setuju untuk ikut berangkat. Lets go….

 

Mengendarai kendaraan Motor PAJERO(PAnas njobo panas nJERO=Panas di luar panas di dalam J), saya biasa menyebutnya. Dengan sepeda motor  kesayangan saya ini, akhirnya kami bergegas berangkat meninggalkan rumah di pagi yang segar ini. Sebelum kesana, kami menyempatkan menitipkan sedikit oleh-oleh dari orang tua siswa pada salah satu guru pengajar di Lembaga Bimbingan Belajar kami, di daerah Kedung Kendo Candi. Eh ternyata, setelah kami mau pamit pulang kami malah diberi oleh-oleh balik oleh tuan rumah berupa kembang api dan mangga yang cukup besar. Hmm…yummy…(mangganya, bukan petasannya. Hehe…)

 

Kenapa saya memilih ke tempat wisata ke “Kuala Lumpur” Lapindo?. Ya, tentu selain gratis, destinasi wisata ini menyajikan pemandangan yang membuat kita merenung dan menyadari kecilnya diri kita dibandingkan Allah yang Maha Besar lagi Maha Kuasa. Bayangkan saja hingga detik ini tidak ada seorangpun yang mampu membendung luapan lumpur yang terus menyeruak di atas permukaan tanah Porong. Hanya lantunan istighfar yang terucap di bibir ini. Astaghfirullah…

 

Setelah kembali ke rumah, tiba-tiba Zahro putri pertamaku yang sedari tadi menunggu, merengek minta dibelikan kerudung. “Abi, belikan aku kerudung Bi. Kemarin katanya umi akan dibelikan Abi hari ini”, pintanya. “Minta kerudung apa”, kataku. “Minta kerudung Elzatta”, katanya. “Oke, Abi mau membelikan. Tapi syaratnya ada 3. Mandi, Dhuha, Lanjutkan tilawah abi tinggal sedikit di juz 29 dulu. Deal?”, kataku. “Oke, deal”, kata Zahro.

 

Menurut saya sih, mungkin ada juga yang tidak sepakat dengan pendapat saya karena semua pendapat boleh asal memberikan alasan. Saya ingin mengajarkan pada anak-anak saya, bahwa untuk mendapatkan sesuatu, ia harus berusaha. Tidak ada yang instan dalam hidup ini kecuali mie instan. Harus ada pengorbanan sebelum mendapatkan keinginan. Harus ada ikhtiar sebelum mendapatkan hasil.

 

Ketika Zahro sedang mandi, saya menyempatkan sholat dhuha, melanjutkan sedikit tilawah quran juz 29. Saya berprinsip bahwa sebelum saya menyuruh anak, saya harus melaksanakan terlebih dahulu. Jangan sampai kita hanya menyuruh tanpa memberi teladan. Itu hal PRINSIP bagi saya dan mudah-mudahan inipun menjadi prinsip juga bagi Anda pembaca tulisan ini. Setelah Zahro selesai mandi, dhuha, dan tilawah kamipun akhirnya berangkat.

 

Sesampainya di toko kerudung, Zahropun memilih dan memilah kerudung yang disukainya. Warna ungu menjadi pilihannya karena bajunya yang kemarin dibeikan uminya berwarna ungu. Setelah transaksi kamipun pulang.

 

Di tengah perjalanan, ternyata didapatinya di dalam bungkus ada dua pengikat kerudung yang digunakan untuk mengikat kerudung. “Bi, ini kok ada dua pengikat”, ucap Zahro. “Lho iya ta, ayo kita kembalikan. Ini bukan milik kita”, kataku. “halah Bi, cuma pengikat gini aja lho”, ucapnya. “Ndak Zahro, ini harus kita kembalikan. Pengikat satu ini bukan milik kita, ntar yang jaga toko pasti kebingungan”, kataku.

 

Akhirnya kitapun putar  balik dan mengembalikan pada penjaga toko. Eh benar, ternyata penjaga toko kaget dan berterima kasih sudah mengembalikan pengikat tersebut. Saya katakan pada Zahro, “Ro, sekecil apapun barang itu bukan milik kita. Maka harus kita kembalikan”. Sambil mengangguk, Zahro mengiyakan ucapanku tanda setuju.

 

Dalam perjalanan, saya tanya pada Zahro. “Ro, kenapa memilih kerudung Elzatta?, kan masih ada kerudung merk lain”, kataku. “Ya, nyoba aja Bi ”, ucap Zahro. Sesampainya di rumah, saya tanya lagi “Bagaimana kerudungnya?”. “Bagus Bi, enak juga dipakainya”.

 

Setelah di rumah saya jadi berfikir, kenapa kerudung begitu saja kok mahal harganya. Padahal kerudung biasa tanpa merk harganya murah banget. Tapi mau-maunya saja saya membeli kerudung dengan merk itu. Ya… itulah fungsi sebuah Brand atau sebagian orang menyebutnya Merk.

 

Kerudung Elzatta dengan tagline PESONA HIJAB INDONESIA rupanya cocok dan nempel di hati anakku. Membeli produk ini serasa memiliki gengsi tersendiri dan memunculkan pesona bagi pemakainya. Meski harganya dua atau tiga kali lipat dengan bahan yang bisa jadi sama, orang dengan rela hati membelinya.

 

Begitu pula ketika kita akan membeli makanan seperti burger, maka yang ada di benak kita mungkin burger yang paling enak adalah burger yang dijual oleh McD. Karena brand yang telah terbangun di masyarakat bahwa di McD tempatnya bersih, nyaman dan pelayanannya cepat.

 

Bagaimana Dick dan MacDonalds sang pendiri McD meramu konsep produk dan layanan mereka. Semuanya bermula dari penyederhanaan pada menu. Semua outlet burger yang ada pada saat itu hampir menjual banyak hal. Padahal sebagian besar orang hanya membeli burger dan kentang.

 

Dick dan Mac akhirnya membaca hal itu. Mereka berfokus pada dua menu sederhana ; burger and french fries. Dibungkus dengan kemasan sekali pakai. Dan itu semua menghemat operasional mereka.

 

 

Menu yang sedikit akan meringankan beban inventory. Karena yang dijual burger dan kentang, maka persediaan cukup berfokus pada burger dan kentang saja. Perpaduan antara roti, selada, timun, lapisan daging yang lezat. Berbeda jika outlet tersebut menyediakan banyak menu. Akan sangat banyak bahan mentah yang harus mereka persiapkan. Ini berarti uang mengendap bagi bisnis. Ada uang yang menumpuk berbentuk inventory di gudang.

 

Menu yang sedikit juga memudahkan operasional dapur. Semua karyawannya berfokus untuk membuat burger. Dapur didesain untuk mengahdirkan burger dalam 30 detik saja. Dan itu yang terjadi.

 

Tidak jauh berbeda saat kita akan ditawari membeli ayam goreng. Apa yang terbersit di pikiran kita? Mungkin akan langsung muncul bayangan enaknya ayam goreng KFC. Mengapa tidak membeli di warung yang lain?. Padahal sebenarnya sama saja dengan ayam goreng lainnya, yaitu ayamnya digoreng dengan tepung, dan rasanya sangat nikmat.

 

Yang membedakan dengan yang lain adalah brand cara menyajikan ayamnya. Berbeda dengan warung kaki lima. Pelanggan yang datang di KFC akan dilayani dengan ramah dan penuh senyum. Disajikan di tempat yang bersih, nyaman, bebas lalat. Membuat makannya lebih nikmat. Nah, kalau di kaki lima, yang jual lagi ditagih-tagih hutang, jualannya pelit senyum. Sampai-sampai ada guyonan pengemis modern yang berkata, “Pak…tolong pak… kasihanilah saya pak. Saya sudah tiga hari ngga makan di KFC pak..”. Hehehe…

 

Ya dengan Brand, kita akan membuat siapa saja rela hati membeli produk kita. Meskipun mahal, tapi setiap orang rindu dan bangga membelinya. Begitu pula sekolah kita Muhida tercinta, sekolah dengan brand sekolah kejujuran dan mungkin brand-brand yang lain yang akan bermunculan selanjutnya harus kita munculkan dan hadirkan di tengah masyarakat pecinta sekolah kita atau perusahaan tempat kita bekerja.

 

Termasuk saatnya kita berfikir untuk membentuk branding untuk diri kita. Kita mau mendapat brand apa di benak istri, anak-anak, dan di benak sahabat-sahabat kita?. Tentu kita semua ingin memiliki brand diri menjadi pribadi yang dirindukan, dicintai, dan dibanggakan oleh mereka semua. Semoga Ramadhan tahun ini mampu membranding diri kita menjadi pribadi bertakwa yang memancarkan kebaikan bagi setiap orang yang bertemu dengan kita. Aamiin.

 

Hak cipta hanya milik Allah, silakan disebarkan jika bermanfaat buat Anda dan kawan tercinta Anda tanpa harus meminta izin kepada saya. Semoga bermanfaat. InsyaAllah.

 

Sidoarjo, 22 Juni 2017

 

Rate this article!
Tags: