Pendidikan yang Beradab

“Jam pelajaran apa, Nak?”
“Prakarya, Bu,” jawab anak-anak serentak.
“Sudah . ada tugas kan? Bu Is sedang ada tamu wali murid. Kalau kalian ramai, mengganggu kelas lain. Kalau main sepak bola di lapangan sana,” ujarku dengan beberapa penekanan.
Baru beberapa langkah, aku terkesiap mendengar kalimat yang diucapkan salah satu murid. Kubalikkan badan dan berdiri tegak di depan kelas.
“Siapa yang bicara lantang tadi?” Semua menunduk. Ada yang berbisik bisik sambil menunjuk ke arah satu siswa.
“Jika tidak ada yang mengaku, saya justru marah,”
“David, Bu.” Celetuk salah satu siswa sambil menunjuk temannya. Yang ditunjuk justru cengar cengir sambil memainkan kertas origami.
“Coba, ulangi apa yang tadi kamu katakan,” perintah ku dengan nada rendah.
“Ngomong apa, Bu. Saya cuma becanda sama teman-teman kok,” elaknya dengan senyum.
“Ulangi perkataan mu tadi yang keras. Saya dengar dengan jelas,” nadaku meninggi.
“Ayo, mainan lagi Rek. Ngapain mesti takut,” jawabnya dengan senyam senyum. Aku meradang, tapi apa yang harus kulakukan? Hukuman bersih bersih bukan cara yang tepat, buat surat pernyataan ditandatangani wali kelas dan orang tua nggak buat jera, skorsing justru membuat makin malas.

Kejadian di atas hanya salah satu pelanggaran etika. Artinya, ada dua pelanggaran dalam dunia pendidikan. Pertama, pelanggaran aturan sekolah yang tertulis dan disahkan kepala sekolah. Pelanggaran ini secara rinci tertera beragam jenis aturan, jumlah poin dan sanksi jika melanggar. Kedua, pelanggaran etika dan norma. Pelanggaran ini tidak tertulis secara rinci sehingga guru kebingungan membuat kebijakan. Padahal, pelanggaran etika dan norma lah yang sering dilakukan siswa.

Pendidikan secara rinci diartikan proses perubahan sikap dan tata laku seseorang dalam usaha mendewasakan melalui latihan, pengajaran, maupun pembinaan. Ini menandakan bahwa hasil lulusan pendidikan adalah manusia yang cerdas sekaligus terdidik (beradab). Namun, belakangan justru marak pelecehan terhadap guru, pelanggaran murid meningkat baik tingkat ringan maupun berat. Bagaimana mengelola pendidikan yang lebih terkontrol etika dan berkualitas ilmunya?

Ada strategi jitu mengelola pendidikan yang beradab. Strategi ini disingkat 3K (kenali, kritisi, kendali). Kenali diri tuk menyelami dunia dan karakter murid. Ini dilakukan menjadi guru ketika mengajar sekaligus bisa menjadi teman ketika mendidik sehingga guru mudah merangkul murid untuk patuh bukan takut. Kepatuhan menghadirkan kesadaran sedangkan ketakutan hanya menimbulkan pemberontakan diri. Kritisi diri dilakukan dengan keteladanan sehingga murid menyerap langsung apa yang diamati. Kendali diri dengan membimbing dan membina melalui sanksi yang mendidik. Kaji pelanggaran apa dampak pelanggaran kemudian tentukan sanksinya. Contohnya murid berbohong, coba aja bohongi dia dan tanyakan perasaan juga sediakan waktu kepada nya meluapkan emosi. Kemudian, balikkan pada posisi teman yang ia bohongi.

Tak masalah jika murid kita tak jago matematika, tak rugi juga mereka tak pandai rangkai puisi. Was waslah ketika mereka tak tahu adab, tak paham bersikap, atau tak takut hukum sosial.

About the Author

Diarna Alkey

No Comments

Leave a Reply