PENDERITA GANGGUAN JIWA SEBAGAIAN MASIH TERABAIKAN

BISMILLAH…Ketika artikel ini saya buat dalam perjalanan pergi keperpustakaan kota, melihat banyak kerumunan orang sambil melempar kerikil-kerikil kecil keseseorang yang belum saya lihat sambil berteriak-teriak orang gila lagi ngamuk. Yang saya heran bukannya orang itu ditolong malah dilempari kerikil sambil tertawa-tawa. Orang tersebut berteriak kesakitan dan terus mengamuk, langsung aja saya turun dari kendaraan dan menghampirinya. Banyak yang menghadang saya untuk mendekat katanya berbahaya, tapi saya tidak peduli terus menghampiri sosok wanita separo baya yang penuh dengan darah. Orang-orang secara bergantian meninggalkan kami berdua, “Apa yang kau rasakan ? Dia tak menjawab pertanyaanku hanya diam sambil mata melotot menatapku seakan ingin memakanku, meski ada perasaan takut tapi kuteruskan mendekat dan memegang pundaknya berusaha agar dia sedikit tenang.

Ketika itu dia pegang perutnya sambil menangis, saya paham dan bergegas pergi kewarung dan membelikannya dia makan.Dan kulihat setelah makan dia tertidur mulai tenang,saya menulis artikel ini disampingnya sambil memperhatikan dirinya. Yang kurenungkan adalah sebenarnya dia tidak mengamuk mungkin dia lapar, tapi minta sama seseorang malah dikatain macam-macam atau diusir sehingga dia tambah ngamuk. “Mengapa masih banyak kita temukan hal seperti ini?  Karena masalah kesehatan jiwa dianggap tidak terlalu penting dalam menjalani kehidupan ini,yang paling sering kita dengar adalah orang bingung bila ada gangguan pada fisiknya. Padahal kesehatan jiwa sangat berpengaruh pada fisik, akibat depresi yang berat bisa berakibat kejantung dan gangguan pembuluh darah. Karena ini yang saya alami sendiri, orang yang gampang depresi butuh teman untuk bicara, butuh perhatian dan kasih sayang  orang terdekatnya.Karena kebanyakan orang dengan gangguan fisik biasanya sebagai manifestasi gangguan pada jiwanya sendiri.

Tidak semua orang yang mempunyai gejala tersebut dikatakan terkena gangguan jiwa,tetapi bila gejala itu terus menerus datang mempengaruhi penderitannya segera konsulkan kepsikiater. Orang yang sering kita temui dipinggir jalan yang biasa dilabel “ orang gila” mereka sebenarnya cuma butuh uluran tangan kita sekedarnya apa yang ia perlukan, bukan tambah diejek atau dilempari kerikil. Mereka juga mahluk hidup yang masih punya hak untuk hidup, dan mereka mempunyai martabat  dan perlakuan secara manusiawi. Penderita yang mengalami gangguan jiwa mungkin saja bisa kembali kemasyarakat dan berperan dengan optimal. Apabila didukung penuh dari orang lain dan keluarga,kalau bisa diajak bicara bisa kasih dorongan semangat supaya tidak putus asa atau dilaporkan kepihak berwenang untuk menampungnya. Begitulah peran kita diperlukan disini guna membantu sesama bukan menghakiminya. Semoga ini sebagai bahan perenungan khususnya diri saya sendiri dan kita semua untuk lebih peka pada sekitar kita. Dan kedepan bisa saling sayang dan cinta kasih bagi sesama dan seluruh mahluk amiin.

Writter

Teratai

 

author

Author: 

Leave a Reply