PASANGAN KEHIDUPAN

(Energi Positif dan Energi Negatif)

Di dalam kehidupan selalu saja ada “pasangan” (mungkin pertentangan) yang dalam bahasa Alquran disebut “azwaja.” Pasangan kehidupan ini bisa berupa hitam-putih, laki-perempuan, sehat-sakit, baik-buruk, positif-negatif, dan sebagainya, dan seterusnya. Realitas kehidupan tercipta oleh pasangan-pasangan kehidupan sehingga roda dunia hidup itu sendiri berjalan dan berulang untuk sebuah jalan waktu yang saling mengisi.

Tanpa adanya “pasangan” maka kehidupan pun akan musnah. Tidak berjalan sebagaimana mestinya, serta terjadi ketimpangan yang akan meubah kehidupan menjadi rusak. Maka perlu adanya jiwa pionir untuk menjadikan yang negatif menjadi motivator untuk berbuat yang positif.

Bagai sebuah kutub baterai untuk menghidupkan sebuah bohlam, diperlukan kutub positif dan kutub negatif. Kedua kutub menjadi syarat timbulnya cahaya kehidupan. Maka akan terjadi keseimbangan hidup dan kesinambungan hidup, yaitu sebagai “khalifah fil ardh,” mengurai energi negatif menjadi positif, dan yang positif menjadi semakin baik.

Energi sebagai sebuah power kehidupan tidak pernah berikrar sebagai hal yang negatif. Secara umum, energi adalah positif, baik. Tinggal personilnya saja bagaimana menjadikan energi itu sebagai kemaslahatan atau kesenjangan. Sama seperti sebuah pisau, tergantung buat apa pisau itu digunakan. Untuk memotong sayur atau menggorok leher?

The big energy is Allah swt. Maka, pusat kehadiran energi adalah dari satu zat, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Bukan sebuah kontradiksi persoalan ketika energi dikatakan “tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan.” Sebagai insan, manusia, hanya diberi kemampuan untuk merekonstruksi energi dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Kapabilitas personal inilah yang akan menjadikan kehidupan positif atau negatif.

Negatif, jelek, buruk, hitam, jahat, dan lain sebagainya tidak bisa dihilangkan. Karena menghilangkan itu semua akan menjadikan ketidakseimbangan dalam kehidupan. Hanya saja, sebagai manusia logis, tetap berikhtiar kebaikan dalam kehidupan.

Masihkah Anda akan mengeluarkan energi untuk “menghapus” keburukan? Jawabannya adalah “YA!” Hee,,, jangan terlalu ruwet dengan quote ini!

Dalam realitas kehidupan, menjadi baik adalah sebuah tuntutan. Sedangkan berbuat jelek adalah kesenjangan. Meski pada hakikatnya, tidak ada kebaikan jika tidak ada keburukan, dan keburukan hanya sebuah ilusi jika tidak ada kebaikan. Kejelekan adalah sebuah kendali untuk menjadi tumpuan menuju kebaikan yang sebenarnya.

Sepasang hal yang kontradiktif serupa sebuah cermin untuk melihat diri sendiri. Kebaikan atau pun keburukan yang kita perbuat akan diketahui dengan cara melihat akibat dan efek dari perbuatan itu sendiri. Jika berakibat baik, maka itu adalah positif. Sebaliknya, jika berakibat jelek, tidak bermanfaat untuk diri sendiri maupun orang lain berarti perbuatan tersebut jelek. Hindarilah, agar kita tidak terjebak pada kejelekan yang seharusnya kita hindari.

Menjadi manusia “sempurna” itu sebuah kemuskilan, sedangkan berusaha untuk “sempurna” adalah keniscayaan.

Rate this article!
PASANGAN KEHIDUPAN,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply