OUT OF THE BOX

OUT OF THE BOX

“Kan ada istilah `out of the box` tuh. Nah, Pak Gilarsi itu gak punya kotak”, salah satu anggota rapat, yang sudah senior , menunjuk kotak snack yang ada di depannya, sambil tergelak. Kami peserta rapat lainnya, termasuk aku, tak mampu menahan tawa.

Kami sedang rapat tentang aspek aspek penyehatan Pos. Yang mengemuka dalam rapat itu adalah ide besar lagi strategis dari Dirut Pos, Pak Gilarsi. Ini adalah bulan ketiga beliau menjabat dan seperti yang pernah aku ceritakan, Beliau datang dengan gebrakan. Mulai dari hal kecil seperti inspeksi mendadak di pagi hari hingga rencana besar di bidang keuangan. Bahasa manajemen untuk cara berpikir Pak Gilarsi, yang keluar dari pakem Pos, keluar dari belenggu pikiran selama ini, disebut cara berpikir out of the box.

`Out of the box` semacam mantera dalam dunia manajemen. Dia diyakini sebagai sumber perubahan, bahkan yang radikal sekalipun. Cara berpikir yang keluar dari kebiasaan itu diharapkan menghasilkan kreatifitas yang berujung inovasi. Mulai dari keunikan struktur organisasi, sampai dengan produk baru yang menggebrak pasar. Bahkan ada yang mengatakan bahwa berpikir tidak linear itu diperlukan secara kontinyu. Untuk apa? Untuk menghancurkan kreatifitas sebelumnya! Sederhananya, produk produk elektronik harus dibuat sedemikian rupa supaya hanya tahan dua sampai tiga tahun, demi munculnya produk baru.

Saking pentingnya keluar dari belenggu pikiran, konsep `out of the box` sering dijadikan bahan diskusi di kelas bisnis dan di training leadership. Buku dan artikel tentang itu pun cukup tersedia. Contohnya adalah buku buku Steven R. Covey yang banyak menyoroti cara berpikir. Salah satu buku yang mendunia adalah “The Seven Habits of Highly Effective People”. Theoritically, hampir semua orang setuju bahwa berpikir cara baru, tidak terbelenggu pada satu konsep, apalagi mitos mitos, sangat penting demi perbaikan hidup pribadi dan organisasi.

Tetapi praktiknnya? Itulah tampaknya hikmah dari adanya kata `teori` dan `praktik`. Berpikir `out of the box` jauh panggang dari api. Susah untuk diterapkan.Aku mencoba mengukur kemampuanku untuk `out of the box`. Mulailah aku mendata apa kebiasaanku yang berbeda dari orang di sekitarku.

Aku menjadikan sayur sebagai makanan pokokku, bukan nasi, bukan roti, bukan kentang “Nanti kamu sakit. kalau nggak makan nasi” kata temanku. Faktanya aku, Alhamdulillah, ceria ceria saja walau mengurangi karbohidrat sudah kulakukan selama sekitar lima tahun.

Aku juga tidak takut makan lemak entah itu makanan bersantan, bahkan gulai otak, sop buntut, gorengan – asalkan digoreng dengan minyak kelapa. “Apa kamu nggak takut kolesterolmu naik?” komentar seorang teman. Aku berusaha menerangkan artikel yang kubaca. Tetapi pasti nggak mempan karena beda cara pikir tadi.

“Hah? Kamu makan buah pagi hari, ketika perut kosong? Nggak sakit perut?” Pertanyaan lain temanku.

“Enggak tuh” jawabku nyegir kuda.

“Belilah TV biar nggak bosan”, saran adikku. Aku tidak merasa TV sebagai kebutuhan karena pulang kantor aku lebih banyak ngantuk. Tambah lagi benda segi empat itu lebih banyak menyajikan kekerasan baik fisik maupun verbal.

Lainnya, menulis yang kuupayakan setiap hari, adalah wujud keluar dari kungkungan pikiran bahwa “menulis itu sulit”. Alhamdulillah. Aku juga mulai terinspirasi dengan sebuah statement bahwa karir sebenarnya adalah pekerjaan itu sendiri, bukan jabatan.

Namun, di antara list `out of the box` aku tetap punya belenggu pikiran.

“Kamu, waktu menikah, naksir dia nggak?” tanyaku curious pada sohibku.

“Ya, suka sih. Sepanjang tidak ada perasaan benci, sudah cukup. Yang penting agamanya baik”. Senyum dan kalimatnya mantap.

Ini dia, satu, kutemukan pada diriku, cara berpikir bahwa jatuh cinta dulu, baru menikah. “Nikah dulu, baru jatuh cinta, Lisa” kata sohib lain. Aku ingin membantah tetapi tak berani demi melihat senyum sumringahnya ketika menceritakan rumah tangganya.

Eh, jangan jangan aku punya, dua, tiga, atau empat cara pandang lain, yang terkungkung di bawah tempurung. Akibatnya aku gak move on pada area tertentu. Wah, gawat!

Bandung, 10 01 2016
Lisa Tinaria

Rate this article!
OUT OF THE BOX,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: