Orangtua Harus Kompak

Banyak orang yang bilang bahwa kebahagiaan seorang anak terletak pada orangtuanya. Anak yang dibesarkan dengan orangtua yang bahagia akan tumbuh menjadi anak yang bahagia pula.

Kenyataan tidak seindah angan. Dalam perjalanan rumah tangga, ada saja konflik yang terjadi sehingga anak terkena percikannya. Biasanya hal ini karena suami dan istri masih berusaha saling kompromi dalam pola asuh yang telah dibawanya.

Apa maksudnya pola asuh yang telah dibawa? Maksudnya adalah pola asuh seseorang yang dibawa seseorang sejak kecil. Pola ini terbawa tanpa disadari. Misal, dalam keluarga suami, setelah mandi harus mengenakan pakaian lengkap termasuk kaus kaki dan sepatu. Sedang dalam keluarga istri, tidak perlu mengenakan pakaian lengkap. Hal yang terkesan sepele ini bisa menimbulkan benturan, jika tidak ada kompromi.

Lalu bagaimana mengatasi perbedaan dan berkompromi?

Pertama adalah komunikasi. Dalam pernikahan, komunikasi adalah fondasi. Sering-seringlah bertukar pikiran dengan pasangan terutama menyangkut pola asuh ke anak. Jangan hanya memendam perasaan dan berharap pasangan tahu dengan sendirinya ya. Kecuali pasangan punya ilmu mendengarkan hati orang lain. 😁

“Duh, suami saya susah diajak ngomong mbak.”

Saya percaya titik sentral manusia ada di hatinya. Karena hati dekat dengan pencernaan, maka rebutlah hati pasangan dengan masakan. Tidak perlu yang mewah, sepiring pisang goreng dengan secangkir teh hangat bisa mengawali agar komunikasi berjalan dengan lancar.

Kedua, tentukan tujuan. Setelah komunikasi berjalan baik, tentukan tujuan bersama dari pola asuh yang dijalankan.

Dalam prakteknya, suami dan istri harus saling mengingatkan akan pola asuh yang telah disepakati dan tujuan pola asuh tersebut.

Misalnya, jika ada peraturan keluarga bahwa anak hanya boleh memakan mie instant 1 bulan sekali setelah anak berumur 5 tahun. Maka, jangan dilanggar aturan tersebut.

Yang harus diingat adalah bahwa anak mempelajari pola. Saat orangtua tidak kompak, mereka bisa mencari cara agar tercapai keinginan mereka dengan kreatif. Contohnya, Ibu tidak memperbolehkan anak memakan permen. Sedangkan, Ayah boleh. Maka setiap mau makan permen, anak akan mencari Ayah. Karena takut ketahuan Ibu, lalu Ayah berkata, “Jangan bilang-bilang Ibu ya.”

Jadilah anak mempersepsikan bahwa Ibu berperan sebagai “si jahat” dan Ayah berperan sebagai “si baik”. Hal inilah yang harus dihindari.

Dalam Islam, kita seringkali mendengar bahwa rumah adalah madrasah pertama anak dengan Ayah sebagai kepala sekolah dan Ibu sebagai gurunya. Jika kita ingin sekolah berjalan dengan baik, tentu ada banyak rapat yang dilakukan menyangkut kurikulum, metode pembelajaran dan bagaimana praktek ilmunya. Hal inilah yang harus diterapkan di keluarga. Diawali dengan komunikasi dan tujuan.

Yang ketiga dan utama adalah berdoa. Pernikahan yang disatukan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, harus dijaga sekuat tenaga. Allah Maha Membolak-balik Hati, maka berdoalah memohon agar pasangan diberikan kelembutan hati untuk menyamakan langkah agar seirama dalam mendidik anak.

Ramadhan adalah bulan yang tepat untuk menyatukan semua. Maka, marilah kita mulai menyamakan langkah di bulan suci ini. Semoga Allah memudahkan kita agar senantiasa diberikan kelapangan komunikasi dengan pasangan. Allahuma Aamiin.

(Ayas Ayuningtias)
#SahurKata #KMO16

Rate this article!
Orangtua Harus Kompak,5 / 5 ( 1votes )
Tags:

Leave a Reply