ORANG TUA DAN GURU ADALAH PARTNER DALAM MENDIDIK ANAK

Guru dan orang tua adalah parner dalam mendidik anak. Orang tua tidak bisa melimpahkan pendidikan sepenuhnya hanya kepada pihak sekolah dalam hal ini guru. Orang tua perlu turut andil dalam mendidik siswa. Bukankah ada istilah bahwa ibu adalah madrasah pertama seorang anak.  Guru dalam hal ini hanya membantu. Sehingga si anak sebagai objek pendidikan meraih keberhasilannya.

Bagaimana mengukur keberhasilan pendidikan seorang anak, hal ini tentu dengan melihat objek yang di didik, yaitu anak. Seorang anak yang di didik di sebuah sekolah yang bagus, baik, memiliki visi dan misi  yang baik, sekolah yang mempunyai program-program yang sudah tersistem dengan baik tentu akan melahirkan anak yang juga baik.

Tetapi jangan lupa bahwa anak  tersebut tidak hanya berada di sekolah terus-menerus. Dia akan berada di lingkungan rumah dan di lingkungan masyarakat.

Kebaikan-kebaikan  yang telah diajarkan di sekolah akan membentuk paradigma berpikir, akan membentuk karakter dan budaya, kemudian akan diterapkan di lingkungan  rumah dan lingkungan masyarakat.

Apa yang telah mereka dapatkan bisa jadi selaras dengan norma-norma yang berlaku di lingkungan rumah dan masyarakat. Tetapi sekaligus  bisa jadi tidak selaras.

Contoh kecil jika sekolah berbasis islam pasti akan mengajarkan siswa-siswa menutup aurat, shalat, mengaji, puasa dan lain sebagainya. Jika orang tua juga memiliki pemahaman keislaman yang benar, maka apa yang telah diajarkan di sekolah tentu sesuai dengan apa yang di rumah. Tetapi jika orang tua hanya menginginkan anaknya menjadi lebih baik pemahaman islamnya dari pada mereka selaku orang tua kemudian memasukkan anaknya di sebuah sekolah islam dan mereka sebagai orang tua tidak meng-upgrade pemahaman mereka tentang islam, maka anak akan mendapatkan dua pemahaman. Di sekolah siswa  diajarkan menutup aurat, tetapi si ibu di rumah belum paham konsep itu secara utuh sehingga sang ibu sendiri belum menutup aurat. Maka si anak akan merasa kebingungan dengan apa yang diajarkan di sekolah dan realitas yang di lihatnya di rumah.

Contoh lain, di sekolah siswa diajarkan membuang sampah pada tempatnya, tetapi yang dilihat di lingkungan masyarakat masih banyak orang yang membuang sampah tidak pada tempatnya. Disini seorang anak membandingkan bahwa norma tentang kebersihan membuang sampah pada tempatnya hanya berlaku di sekolah, di luar sekolah atau di lingkungan masyarakat hal itu tidak berlaku.

Jika seorang anak sudah berada pada realitas seperti itu, maka anak akan berada pada dualisme pemahaman yang membingungkan. Jika ini terjadi si anak perlu diterapi dan diberikan pemahaman. Disinilah letak tugas orang tua. Orang tua berada pada posisi tengah yang kemudian meluruskan pemahaman yang benar kepada anak. Sehingga anak akan terbebas dari kebingungannya.

Bagaimana cara agar pemahaman orang tua dan guru sama. Memiliki satu persepsi yang sama dalam mendidik anak?

Guru dalam menjalankan program-programnya harus melibatkan orang tua. Contoh kecil pembelajaran menjaga kebersihan. anak diminta melakukan itu di sekolah dan diawasi oleh guru. Anak juga diminta melaksanakan di rumah dan diawasi langsung oleh orang tua.

Contoh lain pada sebuah sekolah islam, siswa di ajarkan shalat, mengaji dan lain-lain. Hal ini dilakukan di sekolah di awasi oleh guru dan siswa juga melakukan di rumah yang diawasi oleh orang tua. Selanjutnya orang tua akan melaporkan kepada pihak guru dalam bentuk format lembaran mutabaah.

Jika hal  ini dilakukan, maka anak sebagai objek pendidikan tidak lagi mengalami dualisme pemahaman tentang norma-norma yang di ajarkan. Apa yang didapatkan di sekolah selaras dengan apa yang dilihat di rumah dan di lingkungan masyarakat.

Tags:
author

Author: 

One Response

  1. author

    Tunik Susanti1 year ago

    Keren mbak Najma, Lanjutkan… ^_^

    Reply

Leave a Reply