ORANG BINGUNG ala COVEY

ORANG BINGUNG ala Covey

Tak biasanya mata Yanti tampak memerah setelah berwudhu, menjelang magrib itu. Selesai sholat mata itu semakin merah. Ditambah lagi raut wajah Yanti tak biasa. Penglihatanku pada Yanti semakin mendekatkanku kepada kesimpulan: Yanti sedang kesal, marah, kecewa. Bahasa gaulnya, galau. Apalagi kalau bukan soal pekerjaan.

“Sudah diupayakan, masih saja memberikan komentar seakan akan diri ini tak bekerja”. Akhirnya Yanti curhat tentang boss-nya. Bekerja di dunia akuntansi, secara umum memang mempunyai pressure yang unik. Kecepatan dan akurasi harus disajikan dengan kualitas yang sama. Itulah yang dihadapi Yanti. Tetapi bagiku, yang dihadapi Yanti sebenarnya adalah kata kata boss Yanti “yang gimana gitu”. “Ria, tampaknya dia biasa berkomunikasi dengan cara begitu ya?” Yanti yang memasuki bulan ke empat di divisi kami, bertanya kepadaku atau malah menyimpulkan.

“Besok ada workshop tentang 7Habits”. Aku mengalihkan pembicaraan setelah melihat Yanti sudah cukup “memuntahkan sampahnya” kepada diriku ini, yang kadang memang menjadi “tong sampah” bagi beberapa sohibku.

“Acara seperti itu memang kita perlukan. Sesekali keluar dari rutinitas sekalian recharge energy”. Yanti tampak sudah agak cooling down.

“Ya betul”.

Aku sudah cukup lama tahu 7Habits. Tetapi acara besok itu menimbulkan antusiasme tersendiri dalam diriku. Maklum selama puncak proses audit, dua bulan terakhir, seingatku sudah tiga kali aku “burn out” alias mengungkapkan kalimat keras kepada seorang auditor yunior, kepada koleganya sedivisi dan kepada seseorang di divisi lain. Sejujurnya kutahu itu salah. Itulah yang disebut Covey, “reaktif”. Seharusnya “proaktif”. Alangkah mudahnya menghapal Habit 1 dari Covey tersebut. Namun alangkah susahnya mempraktikkannya. Aku bertekad ingin mempelajari itu lebih dalam, pada acara besok.

Sebelum sampai pada cerita tentang pengalamanku mengikuti seminar 7Habits, ada baiknya kita kenali dulu sekilas apa itu 7Habits.
7Habits diperkenalkan oleh Stephen R. Covey dengan diterbitkannya buku berjudul 7 Habits of Highly Effective People, pada tahun 1989. Buku ini sudah terjual lebih dari 25 juta kopi dalam 40 bahasa sejak publikasi pertamanya. Mengapa buku Covey demikian melegenda sehingga disebut juga sebagai timeless best seller? Ada yang berargumen bahwa yang ditawarkan Covey bukan “how to” semata. Buku Covey bukan buku teknik, melainkan buku yang menawarkan konsep hidup. Sudah puluhan tahun berlalu, bahkan setelah Covey meninggal sekalipun, nilai-nilai yang ditawarkan pada buku tersebut tak lekang oleh waktu. Mari kita simak satu per satu 7 habits tersebut.

Secara garis besar, 7 habits terbagi atas 3 kelompok. Kelompok pertama adalah terkait independensi atau self mastery yaitu kemampuan untuk mengelola diri sendiri. Terdapat tiga habits pada kelompok ini yaitu:
1. Be proactive
Tidak menunggu munculnya persoalan apalagi dengan sikap reaktif – untuk bertindak. Sebaliknya habit ini mendorong seseorang untuk menebarkan pengaruh dalam rangka menyelesaikan masalah.
2 – Begin with the end in mind
Mulailah dari tujuan akhir. Be a programmer ! Tetapkan dulu mau ke mana, apa tujuan tindakan, baru kemudian bertindak. Aku paling tertarik dengan konsep ini. Bukankah apa pun tindakan dalam kehidupan ini tergantung pada niat?
3 – Put first things first
Be a leader! Ini terkait dengan manajemen waktu. Berapakah waktu yang Anda habiskan untuk membaca status di fb? Nah ini termasuk kegiatan ‘not important and not urgent’. Seberapa banyak kita merancang atau mendevelop aplikasi baru, mengkritisi SOP yang sudah kedaluwarsa, mengunjungi dan mendengarkan keluhan pelanggan utama? Kegiatan tersebut sering luput dari agenda kita karena ‘not urgent and important’. Covey membagi soal urgent and important ini menjadi:
1) Important and Urgent
2) Important and not Urgent
3) Not Important and Urgent
4) Not Important and not Urgent

Habit kelompok dua disebut interdependence yang sederhananya dapat diartikan sebagai kemampuan bekerja sama dengan orang lain. Kelompok ini terdiri atas dua habit yaitu:

4 – Think win-win
Ini bukanlah tentang being nice, menjadi orang yang disukai karena sudah menyenangkan atau memenangkan orang lain. Ini adalah tentang menghargai orang lain dengan memahami kemenangan atau kemanfaatan bagi semua pihak, bukan seseorang atau satu pihak. Ini bukanlah tentang persoalan teknis menyelesaikan masalah secara cepat. Sebaliknya ini terkait resolusi jangka panjang.
5 – Seek first to understand, then to be understood
Mendengarkan dengan empati untuk memahami orang lain. Pada gilirannya perasaan dipahami tersebut akan mendorong orang lain untuk bertindak balik yaitu mendengarkan dan membuka pikiran sehingga siap untuk dipengaruhi.
6 – Synergize
Mengkombinasikan kekuatan dari beberapa orang melalui kerja sama tim, sehingga tim dapat mencapai tujuan yang tidak bisa diraih dengan bekerja secara perorangan.

Habit yang terakhir adalah pengembangan diri terus menerus dalam hal kemampuan untuk memengaruhi baik secara personal maupun interpersonal.

7 – Sharpen the Saw
Agar dapat melakukan continuous improvement, seseorang harus selalu menjaga keseimbangan dan memperbaharui sumber daya, energy dan kesehatan pada dirinya. Hal ini mencakup latihan fisik untuk kesehatan fisik, berdoa (Covey mencontohkan yoga atau meditasi), dan mengkonsumsi bacaan yang bermutu, untuk kesehatan mental, serta melakukan kegiatan sosial untuk kesehatan spiritual.

Keesokan harinya di auditorium kantor.

“Betapa sering emosi kita terpengaruh oleh sikap atau cara bicara orang lain”. Trainer dari Dunamis memberikan inti masalah sehubungan dengan habit nomor 1. Pak Joko, nara sumber, piawai sekali menyampaikan materi. Paparan lisannya mengambil contoh dari kehidupan sehari hari.

Pak Joko melanjutkan. “Adalah hal yang wajar ketika kita mendapatkan perlakuan yang tak menyenangkan, kita menjadi bingung dan bertanya tanya. Bahasa gaulnya, galau. Apakah kesalahanku? Di mana kekurangan pekerjaanku? Koq semua tindakanku dilihatnya salah? Seseorang disebut reaktif jika ketidaknyamanan itu ditindaklanjuti dengan cara yang negatif, baik dalam hal berpikir, berbicara maupun bertindak. Padahal reaksi negatif tersebut tidak menyelesaikan masalah. Seharusnya, respon adalah positif. Misal menyediakan data atau informasi, bertanya balik tentang apa yang harus dilakukan. Atau minimal mengubah mind set bahwa inilah masalah yang harus dihadapi”.

Dalam sesion Habit#1 tersebut diputarkan film dokumenter tentang seorang dokter Yahudi yang ditahan di kamp konsentasi pada masa PD II. Atas takdir Allah dia keluar dari “killing field” tersebut dalam kondisi hidup dan dalam kondisi sehat secara mental. Para tahanan lain, yang masih hidup, tak jarang sakit jiwa. Kunci dari kesuksesan sang dokter adalah pada cara berpikirnya, bahwa inilah hidup yang harus dijalaninya. Akhir cerita sang dokter melanjutkan hidupnya sebagai pengajar di sebuah universitas.

Video lainnya menggambarkan seorang suster panti jompo yang setiap hari menerima kata kata kasar dari pasiennya yang sudah tua dan berkursi roda pula. Pada awalnya sang suster merasa sangat lelah secara mental. Dia menceritakan perasaannya kepada teman sejawatnya. Dari curhat kepada teman tersebut, sang perawat mendapat clue yaitu “perasaan kita hanya kita yang bisa menentukan; bukan orang lain”.

“Jadi, tetapkanlah perasaan yang mana yang akan dipilih ketika sedang menghadapi perlakuan tak menyenangkan. Covey mengistilahkannya `Carry your own wheather`. Tetapkan pilihan perasaan Anda, bersimbah matahari atau mendung sepanjang hari.”

“Tetapi Ria, itu kan teori yang tidak gampang praktiknya,” Yanti sedikit komplain atas Habit#1 Mr. Covey.

“Betul sih,” aku mengiyakan. “Tetapi kan ada kesempatan belajar. Tekad yang kuat untuk berubah”. Aku berusaha menyemangati Yanti, dan terutama diriku.

“Hhmm…”Yanti masih menerawang tampaknya. Mungkin dia mengingat kembali message si boss yang memakai kata kata tidak pas bagi dirinya (tetapi oke oke saja menurut si boss).

“Ada satu cara yang paling jitu dan paling awal yang bisa kita lakukan sebelum belajar mengubah mind set”. Aku mengerling pada Yanti.

“Apa?”

“Ingat nggak doa sholat dhuha, `lindungi aku dari kekerasan orang orang`?”

“Ya, betul. Hati ini milik Allah. Kita tak perlu bingung dan galau, kalau hanya soal kata kata pedas si boss”. Yanti tersenyum cerah kepadaku. “Ada Allah yang akan melindungi kita.”

Bandung, 06 03 2016
Lisa Tinaria

Rate this article!
ORANG BINGUNG ala COVEY,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Leave a Reply