ONLINE-ONLY COMMERCE

Online-Only Commerce

Istilah di atas, penulis temukan pada sebuah artikel pada The Jakarta Post tanggal 19 Agustus 2017. Inti dari artikel tersebut adalah adanya pergeseran cara pandang pada raksasa e-commerce dari China yaitu Alibaba, terhadap e-commerce itu sendiri. Sebuah artikel lain pada harian yang sama dan tanggal yang sama, juga menampilkan statement “full integration between offline and online [technology]”. Akankah terjadi perubahan trend dunia terkait bisnis e-commerce? Apa efeknya bagi Pos Indonesia yang sedang giat-giatnya bersaing dengan kurir lain dalam rangka memperebutkan efek dari e-commerce? Terlebih lagi bagaimana strategi belanja teknologi Pos,sebagai bagian dari dukungan terhadap bisnis ?
Alibaba, perusahaan e-commerce dari China, berhasil menembus angka prediksi para analis. Pada triwulan pertama 2017, raksasa e-commerce tersebut berhasil meningkatkan pendapatan sebanyak 56%. Sebagian besar kenaikan tersebut dipicu oleh penjualan online. Upaya untuk menumbuhkan pendapatan terus dilakukan Alibaba dengan melakukan investassi pada perusahaan e-commerce dari Indonesia yaitu Tokopedia, dengan nilai US$ 1,1 milyar dan pada Lazada, perusahaan e-commerce dari Singapura dengan nilai US$ 1 milyar. Alibaba juga menargetkan hal yang sama di Rusia dan Amerika Serikat untuk menggaet pelanggan baru dari luar China.
Namun di samping keputusan investasi di kedua perusahaan e-commerce tersebut, Alibaba juga melakukan investasi untuk sebuah strategi yang dikatakan sebagai “new retail strategy”. Petinggi Alibaba menerangkan, strategi baru tersebut sebagai harapan untuk mendapatkan kontribusi yang lebih bermakna dari penjualan offline. Untuk hal ini Alibaba sudah menyuntikkan dana sebesar US$ 2,6 milyar ke dalam jaringan department store Intime Retail Group Co Ltd. Sejak dua tahun lalu, Alibaba telah menjalankan bisnis grocery store di bawah nama Hema. Jumlahnya sudah mencapai 13, berlokasi di Shanghai dan Beijing.
Hema adalah sebuah supermarket besar yang mengkombinasikan online dan offline shopping. Para pelanggan yang sudah men-download aplikasi Hema, melakukan scanning pada barcode produk dan membayar dengan Alibaba Digital Wallet. Bagian seafood hidup merupakan bagian yang menjadi daya tarik utama bagi calon pembeli, di mana mereka sering mendesak untuk memilih sendiri. Pembeli kemudian dapat meminta agar seafood tersebut dimasak di Hema atau diantar ke rumah. Hema juga berfungsi sebagai gudang tempat pool pengantaran barang dalam radius dekat (fast delivery), yang memakan waktu sekitar 30 menit. Walau sekilas seperti supermarket, CEO Alibaba Daniel Zhang mengatakan bahwa Hema bukan supermarket, bukan ‘food mall’. “This is a brand new model”, katanya.
Alasan investasi besar ini, dijelaskan oleh Steven Zhu, seorang analis senior dari Pacific Epoch. Dia mengatakan bahwa jika sebuah perusahaan e-commerce tidak mempunyai “full integration” antara offline dan online technology, maka “new retail” tinggallah konsep ketimbang realita.
Investasi pada brick and mortar retail juga dilakukan oleh Amazon, perusahaan e-commerce terbesar di dunia. Bahkan Amazon lebih dulu melakukannya, sebelum Alibaba. Tampaknya Jack Ma mempunyai ‘gut feeling’ ketika Jeff Bezos, pemilik Amazon melakukan integrasi dengan Whole Food Market Inc. dengan nilai US$ 13,7 milyar. Investasi besar tersebut akan memungkinkan Amazon memiliki ratusan toko yang berfungsi sebagai gudang yang bisa mengantar barang secara cepat (fast delivery). Toko tersebut juga memberikan kesempatan kepada Amazon untuk menyediakan pengalaman belanja online secara lebih luas.
Saat ini bisinis toko fisik yang dimiliki Amazon, masih dalam tahap awal. Baru ada satu “Amazon Go” convenience store di Seatle, kota tempat base camp Amazon. Di toko tersebut pembeli membayar melalui smartphone, sehingga tidak perlu bertemu kasir. Toko tersebut juga mempunyai tempat pengambilan barang sehingga pembeli dapat singgah dan meng-klaim barang tak lama setelah meng-order secara online.
Hema sudah one step ahead dibanding Amazon Go. Pendapatan dari Hema sudah diberi nama khusus sebagai “China commerce retail”, tidak lagi di bawah kelompok “innovation initiatives and others”. Artinya bisnis baru tersebut sudah mempunyai bentuk.
Jack Ma berusaha memenangi pasar ritel China yang bernilai US$4,5 triliun . Dirinya melihat adanya “tremendous challenge “ terhadap bisnis yang hanya mengandalkan penjualan online, di tengah ekonomi China yang melambat. Amazon juga melihat tantangan yang sama ketika peritel raksasa Wal-mart Stores Inc. mulai mengambil peran dalam bisnis online.
Di manakah pelaku bisnis kurir berada– khususnya Pos Indonesia – dalam kancah perubahan bisnis model tersebut di atas? Hal yang menarik yang tersirat dari uraian di atas terkait bisnis kurir adalah pada kegiatan “fast delivery” dan “pick up” yang dilakukan oleh dan di toko offline. Terdapat pemendekan jalur distribusi barang dan tentu saja waktu distribusi, sebagai akibat dari bertumbuhnya toko offline yang merangkap gudang. Akankah perusahaan e-commerce menjadi berkurang kebutuhannya terhadap courier service company?
Pada acara CIF (corporate inspiring forum), Rabu, 16 Agt 2017, di Gedung Ghra Pos Indonesia di Bandung, Tokopedia menyampaikan kebutuhannya akan sebuah sistem terintegrasi pada proses bisnisnya. Sistem terintegrasi tersebut memungkinkan para penjual dan pembeli barang melihat status pengiriman, tidak hanya terkait nomor resi pengiriman, tetapi bahkan airway bill-nya. Tokopedia menyatakan bahwa ini adalah inisiatif yang belum tampak pada perusahaan e-commerce lainnya alias Tokopedia kemungkinan akan menjadi the first mover dalam hal ini..
Tawaran Tokopedia tersebut tampaknya cukup menjanjikan bagi perusahaan kurir, dikaitkan dengan semakin tumbuhnya bisnis retail online di Indonesia. Namun melirik pada sepak terjang Jack Ma dan Jeff Bezos, sebagaimana diuraikan di atas, tampaknya perlu pemikiran mendalam untuk memenuhi tawaran Tokopedia di atas (baca: untuk melakukan investasi besar pada teknologi terintegrasi).

Bandung, 31 Agustus 2017
Lisa Tinaria

Catatan: Dimuat di majalah internal PT Pos Indonesia (Persero).

Rate this article!
ONLINE-ONLY COMMERCE,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: