Nursing While Pregnancy? Bagaimana Bisa?

Saya diberikan anugerah kehamilan kedua saat anak pertama belum juga genap berusia 2 tahun. Masih dalam keadaan menyusui anak pertama, saya merasa bimbang, karena begitu banyaknya yang menyarankan saya untuk segera menyapihnya. Termasuk dokter kandungan tempat saya memeriksakan kehamilan. Dikarenakan khawatir dengan menyusui akan mempengaruhi kondisi janin yang dikandung. Namun, bersyukur pada akhirnya saya sukses menyelesaikan amanah menyusui “si kakak” hingga usianya lebih dari dua tahun. Baru disapih ketika akan melahirkan anak kedua. Bagaimana caranya?

 

  1. Pastikan tidak ada riwayat keguguran dan perdarahan selama kehamilan. Ini yang paling utama. Bila seorang ibu sudah pernah mempunyai riwayat ini, jangan mencoba untuk masih tetap menyusui selama hamil.

 

  1. Amati dan rasakan kondisi di dalam rahim. Meskipun kita tidak mempunyai riwayat keguguran maupun perdarahan, bukan berarti menjadi aman seratus persen. Kita tetap perlu mengamati gejala yang timbul pada kandungan, selama menyusui. Hentikan proses menyusui bila keluar flek-flek ataupun timbul kontraksi.

 

  1. Jangan percaya mitos. Banyak yang menyampaikan pada saya, ASI sudah tidak bergizi bila ibu dalam kondisi mengandung. Itu hanyalah mitos. Kondisi kehamilan tidak mempengaruhi kualitas ASI. Menyusui “si kakak” sementara sang ibu sedang mengandung “si adik”, tidak akan mempengaruhi anak yang disusui. Namun dikhawatirkan mempengaruhi janin yang sedang dikandung. Itu yang sebenarnya.

 

  1. Niatkan menyusui “si kakak” karena cinta. Berdoa sebelum menyusui, agar kandungan diberikan kekuatan. Segi positifnya dengan melakukan “Nursing While Pregnancy” akan menjaga kedekatan hubungan ibu dengan anak sebelumnya, mengurangi kecemburuan dan mempersiapkan “si kakak” untuk menerima kehadiran adiknya.

 

 

  1. Jangan memaksakan diri bila memang tidak bisa melakukan ini. Kondisi setiap ibu tidak sama. Bersyukurlah bila berhasil untuk tetap menyusui selama hamil anak berikutnya. Namun, bila kondisi ibu tidak memungkinkan, maka terimalah. Jangan terlalu banyak pikiran yang akan menjadikan ibu stres dan menurun pada anak yang dikandung. Sebaliknya carilah jalan lain untuk tetap menjaga kedekatan dengan “si kakak”. Misalnya dengan banyak merangkulnya, melibatkan dia ketika mempersiapkan kelahiran adiknya, dan ajak “si kakak” saat kita periksa kandungan.
author

Author: 

Leave a Reply