Non Fiksi Cita Rasa Fiksi

Bagi sebagian orang nulis non fiksi itu hal yang menyenangkan dan mudah, namun bagi yang lainnya, nulis non fiksi kayak semacam ngukir satu dua kata di atas batu. Susaahh!

Begitu juga sebaliknya, bagi yang terbiasa nulis fiksi, lalu diminta nulis nonfiksi, ia seperti nulis di atas air, hilang mulu. Mentok!

Nulis buku adalah seni, karena ia seni, maka bisa dipelajari. Menurut penelitian, faktor bakat hanya 5% saja, nggak lebih!

Nah, bagi jamaah KMO jika sedang nulis non fiksi namun terbiasa dengan fiksi sehingga sulit nulisnya, maka bisa disiasati dengan cara pendekatan cerita pada setiap bahasan.

Misal:

“Prang!” Panci melayang di udara lalu membentur lantai dapur seiring teriakan kemarahan Rindi pada sang suami yang kepergok selingkuh.

Sudah hampir sekitar tiga bulan ini sikap Jay suaminya berubah. Ia yang dulu romantis dan sering memberikan kejutan-kejutan spesial setiap harinya, kini memudar, bahkan hampir tak ada bekas.

Cerita di atas bisa jad bohong, tapi ia bisa dijadikan perumpamaan ketika nulis buku tentang Suka Duka Pernikahan, misalnya.

Dua paragrap di atas bisa dijadikan sebagai paragrap pembuka untuk sebuah pembahasan naskah non fiksi. Selain memenuhi kebiasaan nulis fiksi, menambahkan unsur cerita pada naskah non fiksi akan menjadikan tulisan makin kaya dan “megah”.

Kalau bahasanya Pak Isa Alamsyah manusia itu butuh hiburan, maka suguhkanlah tulisan yang menghibur. Walaupun materinya memang bikin kepala berlipat.

Tulisan yang sukses adalah tulisan yang berbekas pada hati si pembacanya. Ini yang harus digarisbawahi, dicetak tebal, tulis miring. Hehe…

So guys, bagi Anda yang kesulitan menuliskan non fiksi, coba beri pendekatan fiksi ya. Jadi citarasa fiksi tetap ada, namun naskah tersebut tetap naskah non fiksi.

Selamat mencoba

Sahabatmu,

Tendi Murti

Rate this article!
Non Fiksi Cita Rasa Fiksi,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Leave a Reply