MIGRASI

Salah satu teori migrasi paling terkenal adalah teori push and pull factors nya Evereth S Lee. Beliau mengungkapkan bahwa keputusan seseorang untuk melakukan migrasi (perpindahan dalam rangka menetap) tidak terlepas dari faktor pendorong (push factors) dari daerah asal  juga faktor penarik (pull factors) dari daerah tujuan. Entah mengapa nama teori ini push and pull factors. Padahal Lee juga mencantumkan adanya faktor antara (intervening factors) dan faktor pribadi yang juga menentukan alasan seseorang ber-hijrah.
Dosen mata kuliah Urbanisasi dan Migrasi saya menekankan selalu bahwa tidak ada yang gratis di dunia ini. There is no free lunch. Secara konteks, segala pilihan yang diambil oleh manusia, pasti menimbulkan konsekuensi dan pengorbanan, tak terkecuali pada keputusan bermigrasi.
Alasan klasik dan banyak diungkap oleh para akademisi urbanisasi dan migrasi adalah alasan yang bersumber dari sektor ekonomi. Para migran umumnya pergi ke daerah dimana dia (menganggap dirinya) akan mendapatkan kesejahteraan yang lebih baik dan penghidupan yang layak dibandingkan dengan jika ia masih tinggal di daerahnya yang dulu. Namun ada juga fenomena migrasi yang terjadi karena kuatnya pull factors. Salah satunya adalah yang ditawarkan oleh ibu kota negara ini, Jakarta.
Seperti yang Pak Ridwan Kamil katakan, Jakarta telah menjadi magnet super raksasa yang menyedot jutaan orang untuk secara terpaksa maupun sukarela membanting tulang dan memeras keringat demi mencari sesuap nasi pengganjal perut dan penyambung kehidupan. Jakarta adalah pusat hampir seluruh kegiatan kenegaraan. Sekarang saya tanya, daerah mana di Indonesia yang lebih maju dibanding Jakarta? Atau daerah mana yang fasilitas umum-nya sememadai dan selengkap Jakarta? Daerah mana yang perputaran uangnya se-masif dan secepat Jakarta? Adakah? Kalau ada beritahu saya. Nanti mungkin saja jadi preferensi saya untuk memilih daerah penempatan.
Lahir dan besar hingga kelas 2 SD di Jakarta, kemudian ditakdirkan untuk studi lanjut di kota ini membuat saya sedikit banyak jadi mengulang kembali nostalgia masa kecil saya. Saya tak kaget lagi dengan banjir besar saat akhir 2013 lalu di daerah sekitar kos saya, karena dulu sewaktu kecil, tak terhitung berapa kali air masuk dan menggenang kontrakan kami yang terletak dekat dengan teluk Jakarta itu. Saya juga pernah merasakan betapa  menjengkelkannya menjadi pekerja dan harus merasakan macetnya Jakarta di jam-jam kantor saat liburan semester 6 kemarin dalam rangka magang di Jakarta Smart City (Balai Kota) selama tujuh minggu. Jangan lupakan masalah sampah dan kriminalitas tinggi-nya.
Terlepas dari semua permasalahan itu, Jakarta tetap memiliki daya tarik tersendiri bagi orang-orang. Jakarta itu ibarat gula. Dicari dan disukai oleh para semut. Tak  heran saat Jakarta memilih orang nomor satu bakal pemimpin-nya, perhatian yang negara dan rakyat negeri ini berikan begitu luar biasa.
Saat era Orde Baru, media begitu dibungkam. Jumlah partai politik dibatasi. Media dilarang memberitakan yang aneh-aneh terkait pemerintahan. Opini yang mengkritisi kebijakan pemerintah haram hukumnya. Itulah mengapa saat Pak Soeharto mundur pada 21 Mei 1998 yang sekaligus mengakhiri 32 tahun kepemimpinannya, rakyat begitu gegap gempita menyambut era baru. Era yang dikatakan era reformasi. Era dimana tak ada lagi pembungkaman opini pribadi. Lihat saja jumlah partai politik yang ikut pemilu di tahun 1999 yang melonjak drastis hingga mencapai 48. Untuk itu tak berlebihan rasanya jika kita patut berterima kasih pada Pak Presiden paling jenius kita, Prof. Dr. B.J. Habibie. Meski di era ini pula kita harus menelan pil pahit berupa lepasnya Timor Timur dari NKRI.
Alhamdulillah. Sekarang kita hidup di zaman dimana opini pribadi yang menyangkut politik dan pemerintahan tak lagi membuat kita harus menjadi buronan intel ataupun membuat kita diculik dan tak diketahui nasibnya oleh keluarga kita. Dan menurut saya, kebebasan & kemerdekaan ini, diperjuangkan dan dibayar mahal oleh para pendahulu-pendahulu kita. Kita, sekali lagi patut berterima kasih.
__________________________________
Great power comes with great responsibility.
Saya teringat kalimat itu saat Peter Parker, sang spiderman itu menghadiri pemakaman Paman-nya. Ada tanggung jawab yang besar seiring dengan kekuatan yang dimiliki. Ada konsekuensi yang besar seiring dengan keleluasaan dan kewenangan yang dimiliki.
Kemajuan TIK membawa kita pada berbagai kemudahan-kemudahan. Salah satunya adalah kemudahan dalam berkomunikasi dengan orang lain dan mendapatkan informasi. Jarak dan waktu seakan dilipat bagai sebuah kertas dengan mudahnya. Sekarang, dengan segala fasilitas canggih ini, kita bisa tahu ada banjir bandang besar di Sumbawa, NTB, yang jaraknya beribu-ribu kilometer dari tempat kita, dan informasi itu kita terima hanya dalam hitungan menit.
There is no free lunch. Tidak ada yang gratis di dunia ini. Termasuk kemajuan dan berbagai kemudahan ini. Bagai dua sisi mata uang, kemajuan TIK juga menimbulkan dampak yang tidak bisa dianggap sepele. Dunia maya itu ramai & bising. Penduduknya (yang sering kita sebut netizen) memiliki jumlah absolut yang tak kalah banyaknya dari penduduk riil dunia ini. Coba beritahu saya siapa yang sekarang ini tak tahu internet? Mungkin hanya dalam persentase kecil. Itupun mungkin karena kendala umur, pendidikan, juga keterbatasan akses.
Itulah mengapa saat saya memutuskan membuat akun sosial media, saya (seharusnya sudah) tahu akan ada konsekuensi-konsekuensi yang harus saya terima. Belakangan saya sadar, bahwa (ternyata) saya belum siap dengan konsekuensi-konsekuensi itu.
Jika akun media sosial diibaratkan sebagai rumah, maka secara tak langsung, kita mengizinkan orang-orang yang memiliki akses ke rumah kita tersebut, untuk bebas mampir dan lewat di beranda rumah kita. Bahkan orang-orang ini bisa jadi tak kita kenal di dunia nyata. Atau mereka kita kenal, namun terpisah dengan kita karena letak geografis yang berbeda. Itulah mengapa media sosial dianggap media yang ‘mendekatkan yang jauh’. Kadang diteruskan juga menjadi ‘menjauhkan yang dekat’.
Dengan mengizinkan mereka mem-follow  akun media sosial milik kita, atau menambahkan mereka sebagai teman di media sosial kita, orang-orang ini secara tidak langsung menjadi tetangga di lingkungan dunia maya kita. Tetangga yang secara bebas bisa berlalu lalang di beranda kita.
Saya memiliki akun media sosial saya di Facebook, Instagram, Tumblr, Soundcloud, dan WordPress. Dua akun yang saya sebutkan pertama merupakan akun yang paling sering saya buka. Dua akun itu juga yang membuat saya memutuskan bermigrasi.
Riuh rendahnya dunia maya membawa saya pada kenyataan bahwa begitu banyak (dan saya yakin tidak semua) netizen Indonesia yang bersikap reaktif, responsif, dan cenderung impulsif. Kita hidup di zaman yang mau tidak mau, suka tidak suka, harus terus terpapar oleh arus informasi yang begitu deras laksana air bah. Orang-orang yang saya temui di dunia maya ini menunjukkan kepada saya begitu mudahnya kita mengomentari, menghakimi, pun melabeli sesuatu. Juga begitu mudahnya kita membuat dan menyebarkan informasi.
Jangan tanya ke saya tentang ke-valid-an, kebenaran, dan keakuratan berita yang sudah di-share ribuan kali tanpa pernah ber-tabayun dulu itu. Terima kasih kepada dunia maya yang telah mengenalkan kepada saya istilah hoax, framing, buzzer, dan istilah-istilah keren lainnya.
Singkatnya, setelah menepi selama beberapa waktu dari dunia per-sosmed-an dengan men-deactivate beberapa akun yang saya punya, saya memutuskan bermigrasi ke rumah saya yang baru, dikarenakan ketidaknyamanan yang saya alami di  rumah lama saya. Kalau diibaratkan teori migrasi Evereth S Lee, maka push factors saya lebih dominan dibandingkan pull factors-nya.
Saya hanya mencoba membuat diri saya dipenuhi dan dikelilingi oleh orang-orang positif. Orang-orang baik. Orang-orang yang  tidak gampang menghakimi dan melabeli (si)apapun hanya karena berseberangan dengan apa yang ia yakini. Saya memimpikan rumah yang asri, sejuk dan banyak pepohonan rindangnya. Yang tidak sumpek dan gerah seperti rumah saya yang lama. Dan saya mesti selektif memilih tetangga di rumah baru saya, supaya kejadian yang sama tidak terulang lagi. Supaya saya tidak harus berkali-kali ber-migrasi.
Di zaman yang katanya sudah mendekati akhir ini, saya tetap percaya bahwa masih banyak orang baik. Dan kalau kita kesulitan menemukannya, jangan pernah berhenti mencari. Kalau tetap masih kesulitan juga, mungkin ini amanah dari Allah bahwa kita lah yang harus menjadi orang baik itu.
Kemudian saya sadar bahwa tulisan ini sudah terlalu panjang dan melebar kemana-mana. Oh ya, selamat hari pers nasional! (Sudah kemarin, San pffft)
Jakarta, 10 Februari 2017
02.20 A.M
Ditulis di sela-sela berjibaku dengan jurnal Urbanisasi dan Migrasi dalam rangka mengerjakan UAS take home.
P.S :
Ada tulisan keren dari mbak Gita Savitri yang bisa dilihat disini dan disini. Ada juga video keren yang bisa dicek disini.

Rate this article!
MIGRASI,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Leave a Reply