MEREKONSTRUKSI MANUSIA SEKULER-MODERN MENJADI MANUSIA RELIGIUS-SPRITUAL

(Apresiasi: Cerita Pilu Manusia Kekinian: Renungan-renungan Sedih yang Dirasa Berharga untuk Merawat Hakikat Kemanusiaan Kita)

Pergeseran ideologi manusia “kekinian,” menjadi semakin absurd oleh pluralitas problematika dan beragam kepentingan. Maka lahirlah jiwa-jiwa yang ditodong oleh modernis, persoalan “uang,” dan kepentingan individu yang akan menciderai kekhasan diri sebagai manusia sosial. Kesunyataan ini akan terus berkembang, berurat dan berakar jika tidak segera bertindak sekaligus berbenah untuk meubah pola pikir “sekuler” menjadi insan yang benar-benar “menghamba.”

Dan tidak aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk semata-mata menghamba (tunduk kepada kekuasaan Allah swt.). (QS. Adz-Zhariyat: 56)

Manusia modern cenderung abai terhadap hakikat kemanusiaannya karena terkontaminasi oleh persoalan hidup yang apatis. Keinginan untuk hidup self happy (bahagia sendiri) telah merasuki jiwa dan nurani, sehingga persoalan sosio-kultural menjadi hilang. Realitas kehidupan ini akan melahirkan individu-individu yang tidak peduli terhadap lingkungan. Puncaknya, kehidupan manusia bagaikan onggokan batu-batu, nisan-nisan, atau benda-benda mati lainnya. Sungguh, persoalan ini ironis dan menghilangkan “cap” diri manusia sebagai manusia itu sendiri. Yaitu, individu-individu yang peduli terhadap ragam persoalan di sekitarnya.

Sebagai bagian dari kepedulian terhadap persoalan “manusia kekinian,” Edi AH Iyubeno atau yang juga kerap menggunakan nama Edi Mulyono berusaha untuk menganggit persoalan menjadi sebentuk jawaban atas problematika manusia saat ini. Buku “Cerita Pilu Manusia Kekinian: Renungan-renungan sedih yang Dirasa Berharga untuk Merawat Hakikat Kemanusiaan Kita,” menyediakan jawaban atas problem manusia modern dengan ke-khas-an tersendiri, yang menurut DR. Abdul Wahid Hasan, “slengekan.” Uraian atas jawaban yang tidak terlalu serius, namun mengena terhadap persoalan itu sendiri. Meskipun buku ini bukan yang “paling” setidaknya telah berkontribusi untuk membangun peradaban dengan caranya sendiri.

Di dalam pengantarnya yang ciamik, deretan kata-kata yang begitu dahsyat, Dr. Ach. Maimun mengatakan bahwa Nietzsche berteriak dengan nyinyir: “Tuhan sudah mati. Kita yang membunuhnya.” (hal. 13). Ungkapan ini berarti bahwa di dalam jiwa manusia kekinian telah lenyap spirit ketuhanan. Yaitu jiwa yang apatis terhadap lingkungan sekitar, hati yang mati melihat ketimpangan dan kebejatan “nyata” di depan mata kita. Bahkan jauh daripada itu, diri kita sendiri sudah tidak peduli dengan sikap dan kondisi diri kita sendiri (tidak bisa membedakan yang hak dan yang batil, yang halal dan yang haram, atau yang putih dan yang hitam).

Dengan bahasa propaganda (sorry kalau salah), Wakil Rektor I INSTIKA Guluk-Guluk, Sumenep ini bertanya retoris, “Untuk apa semua itu? Untuk dirinya, untuk mimpi liarnya, untuk kematangannya, dan untuk kematian kemanusiaannya.” (hal. 13). Ini berarti bahwa manusia modern telah kehilangan logika spritualnya. Membangun istana harapan tanpa adanya interaksi sosial dengan sesama, atau bahkan dengan Tuhannya. Jadi benar bahwa ketuhanan itu sendiri telah menemui ajalnya. Na’udzu billah!

Di dalam pengantarnya, Mas Edi menjelaskan bahwa prinsip nilai peradaban komunikasi menjadi tumbang. (hal. 22) Kemajuan teknologi telah memberi dampak yang mengenyampingkan nilai-nilai komunitas kemanusiaan itu sendiri. Kehidupan individual menjadi momok untuk sebuah peradaban keakraban. Kondisi inilah yang harus dikaji, dicarikan solusi, bahkan direkonstruksi agar dapat menemukan jati diri yang sebenarnya.

Kita sadar bahwa rekonstruksi peradaban “timpang” menjadi etika yang berakhlakul karimah bukan perkara mudah. Namun, usaha menuju konstruksi bangunan nurani/jiwa harus terus diupayakan. Semangat untuk tetap “jumawa” pada takdir harus diiringi dengan ikhtiar yang maksimal. Sehingga pada puncak pencapaian, kesuksesan membangun diri menjadi “manusia” tidak akan sia-sia.

Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum (bangsa), hingga kaum/bangsa itu sendiri yang merubahnya.” (QS. Ar-Rad: 11)

Ada beberapa materi inti (menurut saya lho,,) yang sempat saya garis bawahi (sudah terbiasa, kalau baca buku sedia pensil atau bolpen), sebagai renungan (bukan sedih, seperti ungkapan Mas Edi, tapi kesempatan memunculkan harapan untuk berbenah) untuk membangun kondisi jiwa yang lebih manusiawi.

Richard P. Feynmann, peraih Nobel Fisika tahun 1965 untuk teori Mekanika Kuantum, menulis surat kepada Mrs. Chown, “Fisika bukanlah hal yang terpenting. Cinta adalah hal yang terpenting….” (hal. 28). Dari kalimat “hebat” ini saya menemukan —terlepas dari kelucuan yang dijelaskan penulis— bahwa CINTA adalah suatu hal yang sangat mendasar. Ketika kata cinta menjadi sebuah acuan, betapa keseluruhan kehidupan dari zaman sebelum dan sesudah, akan menjadi kehidupan yang hakiki tersebab oleh cinta yang kita agungkan.

Adanya kehidupan itu sendiri juga didasari oleh rasa cinta Tuhan kepada historika kehidupan. Diutusnya Rasulullah juga sebagai bukti dari bakti cinta Muhammad kepada umatnya. Dan cinta telah menjadi dialektika kehidupan yang penjabarannya tidak akan bersudah. Sungguh!

Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan kasih sayang (bil hikmah) dan kalimat-kalimat yang baik (mau’idzah hasanah), dan dengarlah mereka dengan perdebatan yang lebih baik.” (QS. An-Nahl: 125) (hal. 34)

Konstruksi ayat ini, menurut Mas Edi adalah dinamika dakwah yang harus dijadikan istimbat hukum. Artinya, ayat ini harus dijadikan acuan utama untuk “mengajak” terhadap sebuah kebaikan di atas kebajikan, tentu dengan cara kebijakan. Secara utuh penulis menjelaskan,

“Secara tekstual, ayat tersebut amat benderang menyuruh kita berdakwah, tetapi tidak boleh dengan cara-cara kasar, keras atau sejenisnya yang memicu dampak negatif. Ayat tersebut menetapkan dakwah dengan cara: kasih sayang, kalimat yang baik, dan bila terpaksa berdebat dengan cara yang lebih baik. Pesan moralnya dari segala jenis cara dakwah ini adalah “baik.” (hal. 35)

Tidaklah akan memuliakan wanita selain lelaki mulia, dan tidaklah akan menghinakan wanita selain lelaki hina.” Ali bin Abi Thalib (hal. 53). Dalam jabaran atas maqalah ini, penulis, Mas Edi menjelaskan bahwa quote tersebut disenangi kaum hawa dan dirisihkan (sebagian besar) kaum Adam. Kelanjutan dari tafsir ini disebabkan oleh “kepentingan” dari masing-masing pihak. Tentu bahasan lengkapnya akan lebih mengena kalau dihadapkan langsung pada uraian buku apik ini.

Namun, jika boleh menyangkal, jika “kepentingan” itu diletakkan dalam wadah “ketuhanan”, yaitu kepentingan yang bersifat universal, maka tidak perlu ada “jumawa” dan tidak harus timbul rasa “risih.” Sebab, Ali bin Abi Thalib, meskipun notabenenya seorang laki-laki tidak berkecenderungan untuk “menang sendiri.” Begitu pula, meskipun Beliau berada di pihak kaum hawa, bukan untuk menciptakan jiwa wanita “angkuh.” Intinya, lelaki baik akan mem-baik-kan wanita, dan wanita baik akan menjadi dambaan setiap pria. Keseimbangan ini akan membangun suatu pondasi keagungan pada kedua belah pihak. Cihuyy,….sorry kalau ternyata gak ciamik! Hee,..

Saya sebenarnya hanya hendak menyampaikan bahwa Islam sama sekali tak mengenal apa itu feminisme, kesetaraan gender, egalitarianisme. Islam, pada khittah-nya, sepenuhnya memuliakan kaum hawa.” (hal. 127-128)

Sama sekali tak mengenal? Benarkah? Sama sekali? Bukan kasus yang ada di dalam Islam tetapi tidak se-roh dengan kultur keislaman?

Feminisme, secara makna leksikal (kamus) adalah gerakan perempuan yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum perempuan dan laki-laki. Model gerakan ini secara Islam memang tidak tepat. Namun, dalam aspek-aspek yang lain, kesamaan dan kesetaraan bukan sebuah kenisbian.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q. S. Al-Hujurat: 13)

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baikdan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

Egaliaritanisme, di dalam KBBI juga dijelaskan bahwa “doktrin atau pandangan yang menyatakan bahwa manusia (laki-laki atau perempuan) ditakdirkan sama derajat.” Dari makna ini tidak ada yang perlu dipersoalkan. Karena dalam pandangan Islam, manusia diciptakan dengan derajat yang sama. Kelebihan menurut pandangan Islam adalah kualitas “takwa” yang masing-masing terbentuk dalam karakter jiwa personal.

So, menurut saya, kurang tepat kiranya kalau Islam “sama sekali” tidak menyentuh ranah feminisme dan egalitarianisme, selagi aspek kesamaan hak masih bertumbuh di dalam masing-masing martabat lelaki dan wanita. Ups,..maaf lho!

Dan masih banyak lagi bahasan soalan kekinian yang bisa kita telaah di buku ini. Dari masalah NKRI, persoalan LGBT, sedekah ala Ust. Yusuf Mansur, jomblo, poligami, masalah bisnis, Keluarga Berencana, dan lain semacamnya. Tentu, bukan kapasitas saya untuk menjabarkan kesemuanya di sini. Apa lagi mengkritik yang tidak perlu dikritik, atau meng-ya-kan hal yang seharusnya dikontrakan. Keterbatasan keilmuan saya menjadi penyebab utamanya, sehingga hal yang tidak berkenan saya harus minta maaf.

Tidak ada gading yang tak retak. Saya tidak mengatakan bahwa buku ini sempurna, apa lagi Maha. Kemaha-sempurnaan hanya milik yang Maha Sempurna, Allah swt. Hanya saja, sebagai bagian dari khazanah pengetahuan, buku ini cukup layak menjadi referensi dalam mewujudkan kedirian, keindividuan yang berkemanusiaan. Agar tidak terjadi; “Tuhan telah mati. Kita yang membunuhnya.”

Wallahu a’lam bisshawab, Allah yang Maha Tahu segalanya!

Madura, 05/04/2016

Tags:
author

Author: