Mereka Peniru

Membahas tentang tanggung jawab kita sebagai orang tua dan guru, tak kan pernah bergeser dari sikap anak-anak sendiri dan keseharian mereka, bagaimana tidak semuanya itu berkaitan erat siapa yang mereka lihat setiap harinya. Hai! Mereka itu peniru, sangat pandai menduplikasi setiap tindakan orang terdekatnya. Setiap hari bertemu dan berinteraksi dengan kita sebagai orang tua dan kita sebagai guru. Jangan heran jika kemudian mereka dalam beberapa hal meniru kita, dari bersikap, dalam berpakaian atau dan sebagainya. Jadi harus selalu ingat bahwa kita dikelilingi makhluk yang dinamakan anak-anak, yang sangat ingin tahu segala hal dan selalu ingin mencoba hal-hal baru menurutnya.

Sedih juga, jika bertemu dan melihat anak-anak yang menurut kita sangat tidak sopan, dari cara berbicara dan bersikap, tetapi jangan buru-buru langsung me label mereka anak nakal, kita juga harus melihat apa yang menyebabkan mereka seperti itu, dari pengalaman pribadi karena setiap hari selalu bersingungan dengan dunia anak-anak. Aku punya murid les privat yang kata guru les sebelumnya ‘sangat luar biasa’ sampai guru lesnya itu menyerah dan menawarkannya padaku, mungkin karena faktor penasaran aku menyanggupinya. Cukup kaget ketika melihat kedua anak itu ketika pertemuan pertama kami, dari kasat mata saja orang pasti akan langsung menilai betapa tak sopannya mereka, jujur aku pun baru kali itu melihat anak-anak dengan tipe semacam ini. Seenaknya sendiri, tak mau mendengarkan, tidak sopan kepada orang tuanya, sampai terakhir dia membentak Ibunya di hadapanku. Terkejut sangat saat itu, ada rasa malu terlihat dari air muka si Ibu sebelum akhirnya dia memohon diri untuk pulang. Kedua anak itu berteriak-teriak memanggil Ibunya sambil mengeluarkan kata-kata yang sangat tidak enak di dengar. Aku diam sejenak dan terus beristighfar di dalam hati, sedih sekali.

Kita berkenalan, dan mereka tak mau menyebutkan namanya. Waaahhh…ada sesuatu ini, benteng pertahanan diri. Aku hanya tersenyum, hanya mengalir tiba-tiba salah satu dari mereka bercerita perihal pertengkaran orang tuanya. Aku stop pembicaraan mereka, tak mau tau lebih banyak. Lanjut pertemuan pertama itu hanya tukar pikiran, sedikit memberi pengertian apa yang mereka lakukan tidaklah baik, membentak Ibu, marah-marah pada Ibu walaupun mungkin ada yang tak sesuai dengan kehendak mereka. Menjelaskan pelan, sedikit demi sedikit menyentuh hati mereka cukup membuat suasana hari itu sedikit sunyi. Memberitahu mereka jika masuk rumah itu mengucap salam dan mengetuk pintu, berbicaralah yang baik dengan orang tua, sangat menakjubkan mereka mendengarkan dengan seksama walau awalnya sempat ada bersitegang antara kita. Intonasi suara yang tadinya meninggi lambat kemudian merendah, yang tadinya posisi tiduran kemudian duduk dengan tenang, yang tadinya gelisah dan menggerutu kontak diam dan mendengarkan. Aku yang kemudian diam dan memandangi mereka. Sebenarnya apa yang mereka lakukan selama ini bisa saja tidak mereka pahami jika salah. Dan tidak ada yang mengingatkan mereka jika itu salah.

Cukup jelas apa penyebab mereka seperti itu, kita yang mengaku orang dewasa yang sebenarnya masih sering bersikap ke kanak-kanakan, bertengkar di hadapan mereka saling caci, memaki, berbicara kasar. Hai orang tua, ingatlah lagi mereka akan meniru kalian, jika kalian berbicara kasar jangan salahkan jika anak-anakmu berbicara kasar pula, jika kalian berlaku tak baik dihadapan mereka jangan salahkan mereka akan berprilaku yang sama terhadapmu. Ini juga menjadi pelajaran buat diri sendiri, mengingatkan diri untuk selalu memperbaiki perkataan dan perilaku dalam keseharian. Karena aku dan kita bersama makhluk yang disebut anak-anak.

Rate this article!
Mereka Peniru,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Leave a Reply