MENYUSURI MAKNA PUISI AHMADI SYARIF: BURUNG (BUKAN) TANPA SAYAP

MENYUSURI MAKNA PUISI AHMADI SYARIF: BURUNG (BUKAN) TANPA SAYAP

UNTUK SAMPAI DI LANGIT

Untuk sampai di langit,
burung tak memerlukan sayap berbulu indah.
Ia hanya perlu tersungkur di tanah, melumpuri tubuhnya. (By Ahmadi Syarif)

Apresiasi terhadap sebuah puisi diperlukan beberapa faktor dan indikator, baik yang bersifat intrinsik maupun ekstrinsik. Hal ini dimaksudkan sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap kualitas apresiatif, maupun sebagai karakter dari seorang apresiator yang incredible. Melangkahi kaidah apresiatif yang pakem, meski saya sendiri pro-kepakeman, di sini saya mencoba memaknai sebuah puisi melalui surat tanpa pengabaian yang tersirat, atau menggunakan teks yang peduli terhadap konteks. Puisi, dengan ragam target yang tidak bisa dijustifikasi sebagai sebuah hitam di atas putih, ranting dari sebuah cabang, atau kaidah benar dan salah. Maka, puisi itu sendiri akan sarat makna yang tetap berpijak pada kebenaran logika.

Catatan ini bermula ketika saya membaca sebuah postingan di grup FB Ruas (Ruang Aksara) yang dengan cermat membangun logika makna puisi milik Ahmadi Syarif, dengan judul “Untuk Sampai di Langit.” Sebuah pilihan judul yang memberikan ruang imaji, bahwa untuk sampai di langit ada prasyarat yang harus dimiliki. Sudah sangat jelas bahwa prasyarat yang dimaksud adalah “sayap.” (Ashyyy….. sampai pada kalimat ini tiba-tiba saya bersin dua kali. Hee,.. Alhamdulillah,….)

Dalam makna sains, “langit” sebenarnya abstrak. Sebuah ruang yang tidak berbatas, tanpa tepi, dan tidak bisa digambarkan sebagai sebuah hakikat. Untuk membangun konsep pemahaman yang tidak imajiner, maka langit dimaknai sebagai benda di atas awan yang berwarna biru. Ya, itulah langit, yang terlihat biru, menurut sebagian ilmuwan berwarna biru karena refraksi dari lautan yang sebagaian besar menutupi bumi. Benar gak ya? Hee,…

Dalam pemahaman lain, langit adalah “ma fauqal ardhi, segala sesuatu yang ada di atas bumi.” Ya, apa saja yang ada di atas adalah langit. Termasuk langit itu sendiri. Termasuk ruang yang tidak terbatas. Termasuk angkasa dan alam raya. Termasuk,……

Hingga sampailah pada makna simbol (sign) dari puisi Ahmadi Syarif di atas. Bahwa langit adalah harapan, cita-cita, dan tujuan. Bisa masuk kepada kekuasaan, pengetahuan, kekayaan, jabatan, kemuliaan, pengaruh, cinta, dsb, dsm. Jadi, untuk mencapai “langit” diperlukan syarat khusus yaitu “sayap” sebagaimana yang dijelaskan pada kalimat setelahnya oleh Ahmadi Syarif.

/burung tak memerlukan sayap berbulu indah/ Pada kalimat ini sudah barang tentu “burung” tetaplah burung, yang bersayap dan punya paruh. Dalam konsep spesis binatang unggas, yang masuk di dalamnya adalah burung, tidak terlepas dengan ciri sayap. Maka, akan terasa aneh, ketika burung tidak/tanpa sayap, karena hakikat dari burung itu sendiri PASTI bersayap. Atau adakah burung yang tidak bersayap? Hihi,.. jangan ngeres ya!

Kalimat puisi di atas sama sekali tidak “menidakkan” sayap. Kalimat tersebut hanya menjelaskan bahwa burung tidak memerlukan sayap yang indah. Sayap yang tidak indah? Sayap apa adanya? Atau yang penting sayap? Tentu saja ini semua dibutuhkan. Diperlukan untuk sampai ke langit. Lebih sederhana, kalimat di bawah ini mungkin bisa mewakili,

“Untuk sampai di langit, burung memerlukan sayap —sekalipun sayap— yang tidak indah.”

Proyeksi kalimat yang lain, “Saya melihat seekor ayam tanpa ekor panjang.” Apakah terekam makna ayam tanpa ekor? Kalau ekor pendek sudah pasti. Tapi, tanpa ekor? Gak kan? Hehee, …

Sayap, sebagai makna puisi dapat diterjemahkan sebagai ikhtiar, usaha yang maksimal, bekal yang mengantarkan, atau alat yang mampu memberikan gerak ke ruang pencapaian. Komitmen dan keinginan yang kuat merupakan “sayap” yang akan mengantarkan si burung ke “langit” yang menjadi akhir dari sebuah tujuan. Kalau dalam agama saya adalah “hasanah, kebaikan, kesempurnaan, dan kebenaran.” Sesuai dengan doa yang sudah masyhur, “Robbana atina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah, waqina ‘adzabannar.

“Sayap berbulu indah” frase ini mewakili kesombongan, tinggi hati, dan “ha ana dza, inilah saya (congkak). Maka, karakter individu semacam ini tidak akan memberikan gerak kesempurnaan. Kesombongan hanya akan mengantarkan kita kepada sifat Fir’aun, yang dalam sejarah tewas di laut Merah karena sikap dan sifatnya. Keindahan yang melahirkan keangkuhan, akan terkalahkan oleh kesederhanaan dan kewibawaan. So, jangan sombong deh!

Burung, sebagai simbol dapat dipersonifikasi untuk membangun logika makna yang paling niscaya. Burung merupakan simbol dari seseorang yang mempunyai tujuan, harapan, dan keinginan. Maka, sebagai “burung” yang hakikatnya manusia, atau manusia yang dimajaskan sebagai “burung,” maka menjadi poin penting untuk menjadikan logika sebagai puncak makna, tanpa mengenyampingkan peran Tuhan sebagai ke-Maha-an di dalam segala aspek logika. Perpaduan antara logika kemanusiaan dan kekuasaan Tuhan akan melahirkan keabsahan konsep yang kredibel dan meyakinkan.

/Ia hanya perlu tersungkur di tanah, melumpuri tubuhnya/ Kalimat ini sebagai jabaran dari burung yang tidak perlu sayap yang indah. Ia (burung) hanya perlu tersungkur di tanah. Ya, tersungkur! Ya, di tanah!

Kalimat ini, jika tidak dipikir dengan saksama akan melahirkan imaji, bahwa “burung” benar-benar tidak mempunyai “sayap.” /Tersungkur di tanah/ sebagai simbolikisme bahwa burung benar-benar tidak memiliki sayap. Tanpa sayap, sudah barang tentu, “burung” akan jatuh dan tersungkur mencium tanah. Benarkah begitu? Mari kita telaah lebih jauh!

Pengalaman saya, suatu saat saya memancing di sungai. Tiba-tiba tidak jauh dari tempat saya berada seekor burung tekukur, dalam bahasa daerah saya, Madura, burung “poter” tersungkur di semak-semak. Dan masih kulihat dengan sangat jelas seekor elang bekelebat tidak jauh dari burung yang tersungkur tersebut. Saya pastikan, burung tekukur tersebut tersungkur di semak-semak karena diburu oleh predator. Ya, ia tersungkur. Sudah pasti ia punya sayap.

Di lain saat, masih pengalaman saya, seekor burung kutilang tersungkur jatuh di atas tanah karena dihantam oleh batu kecil yang saya pantik dari ketapel saya. Ia tersungkur dengan kepala pecah (maaf, kejadian ini terjadi saat saya masih kecil. Belum paham arti penting kelestarian burung). Sudah pasti, burung yang tersungkur tersebut mempunyai sayap lengkap. Jadi, burung sangat bisa tersungkur pada saat ia bersayap. Bagaimana kalau tanpa sayap? Mungkinkah ia tersungkur? Ah, let’s see it!

Makna majasi dari “tersungkur” dan “melumpuri” adalah rendah hati, mawas diri, baik hati, tidak sombong, punya rasa empati dan simpati, serta menjadi hamba berbakti, bersujud mengharap ridha Ilahi. Sampai di sini, saya teringat dengan ayat Alquran,

Dan tidak aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk mengabdi (kepadaku).”

“Tersungkur” dapat dimaknai sebagai pengabdian yang sempurna. Bersujud di sepertiga malam, atau berdzikir untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah swt. “Melumpuri” juga dapat dimaknai sebagai insan (atau “burung” dalam puisi Ahmadi Syarif) yang selalu memberikan manfaat untuk lingkungan masyarakat. Tidak menyebabkan permasalahan sosial, apalagi menjadi sampah masyarakat yang tentu saja jauh dari harapan makna puisi di atas.

Kesimpulan

Secara keseluruhan puisi Ahmadi Syarif di atas menjabarkan tentang pentingnya kesederhanaan, interaksi sosial, dan personal yang bermakna untuk kehidupan. Tidak perlu sombong (bersayap indah) agar dicintai dan dihormati oleh orang-orang di sekitar.

Menjadi hamba Tuhan yang berbakti, bersujud (tersungkur) di sepertiga malam, atau menjadi insan yang rendah hati, punya rasa empati, bersimpati terhadap sesama, serta berhati-hati dalam pergaulan hidup.

Tentu, ini bukan kesimpulan akhir, pun juga bukan yang terbaik dalam wacana literasi apresiasi terhadap puisi. Ini hanya sebuah teks tanpa konteks, tersurat tanpa tersirat, atau makna di atas ke-tidakbermakna-an. Hanya Tuhan yang Maha Sempurna, saya sebagai hamba, lemah di atas sempurna-Nya. Dan maaf, jika kurang berkenan!

Madura, 15/07/2016

Tags:
author

Author: