MENYIAPKAN TABUNGAN ABADI (PART 1)

Orang kaya di dunia ini melimpah ruah. Berdasarkan data dari situs www.ilmusiana.com, ada 30 orang terkaya di dunia dan Bill Gates, pendiri sekaligus pemilik Microsoft, ditetapkan sebagai orang terkaya nomor satu dengan kekayaan mencapai $ 79,2 Miliar. Dari situs yang sama juga dituliskan, ada 20 artis terkaya di Indonesia dan Raffi Ahmad menjadi artis yang memiliki harta terbanyak, yaitu Rp. 32 Miliyar. Kelimpahan harta yang dimiliki kedua tokoh tersebut sejalan dengan kedermawanannya. Bill Gates mengelola yayasan amal bersama isterinya dan menyumbangkan hamper seluruh kekayaannya untuk amal. Raffi Ahmad pun sering terlihat merayakan momen-momen spesialnya dengan berbagi kebahagiaan di panti asuhan atau yayasan sosial.

Menjadi dermawan dalam kondisi bergelimang harta seperti Bill Gates dan Raffi Ahmad memang sangat mudah. Kita pun akan dengan santai menderma pada yang membutuhkan jika memiliki harta sebanyak itu atau lebih banyak dari itu. Nah, yang menjadi problem adalah jika kita harus menderma dalam kondisi sempit.

Ulbah bin Zaid, seorang sahabat Rasulullah, merupakan potret kedermawanan dalam kondisi sempit. Ketika itu musim paceklik di Madinah, perekonomian sedang sulit, musim sedang panas-panasnya, pokoknya kondisinya membuat penduduk Madinah lebih memilih istirahat di rumah atau di kebun sambil memetic kurma yang sedan granum di musim panas. Ulbah adalah seorang fakir dari suku Anshar yang tidak memiliki harta benda untuk diinfakkan dalam perang Tabuk. Ia hanya menyaksikan dengan penuh kesedihan, kesibukan muslimin mempersiapkan perlengkapan perang. Pagi itu, setelah shalat subuh, Rasulullah memotivasi sahabat untuk memberikan infaq terbaiknya. Abu Bakar memberi 4000 dirham, Utsman bin Affan memberi 1000 dinar, Abdurrahman bin Auf memberi 200 uqiyah perak, dan banyak lagi sahabat yang menginfakkan hartanya.  Melihat hal itu, Ulbah hanya bisa pulang dengan kesedihan yang mendalam. Ia bahkan tak bisa tidur karena kegelisahan itu.

Di tengah kegelisahannya, Ulbah menunaikan shalat lalu berdoa. Doa itu diucapkannya berulang kali seakan ia berkata. “Ya Allah, tidak ada yang dapat kuinfakkan sebagaimana yang ain telah berinfak. Seandainya aku memilki seperti yang mereka punya, aku akan lakukan untukMu, demi jihad di jalanMu. Yang aku punya hanya kehormatan, kalau Engkau bisa menerimanya, maka saksikanlah bahwa semua kehormatanku telah aku sedekahkan mala mini untukMu.” Masya Allah, alangkah jernihnya doa itu keluar dari si papa. Pagi harinya Rasulullah menanyakan kepada semua sahabatnya: “Siapa yang tadi malam telah bersedekah?” Taka da yang berdiri termasuk Ulbah, ia tak merasa telah bersedekah malam itu. Lalu Rasulullah melanjutkan “Bergembiralah Ulbah, Demi dzat yang jiwa Muammad berada di tangnNya, sesungguhnya sedekahmu tadi malam telah ditetapkan sebagai sedekah yang diterima.”

Alangkah bahagianya Ulbah, doa yang ia panjatkan sebenarnya adalah upaya dari orang miskin yang tidak punya harta. Semoga Allah merahmati Ulbah bin Zaid dan darinya kita belajar bahwa tidak selamanya memberi harus dengan materi. Rasulullah bersabda dalam banyak riwayat. “Tasbih adalah sedekah, senyum adalah sedekah, bahkan mengangkat duri dari jalan juga sedekah.” Namun, masalahnya adalah sudahkan sedekah-sedekah kita yang luas dan banyak diterima? Sudahkah segala amal kita diniatkan untuk bersedekah? Dan sudahkan kita bisa berniat ikhlas? Silahkan dijawab sendiri. Wallahu’alam.

Rate this article!
Tags:

Leave a Reply