MENUNGGU PANGGILAN

MENUNGGU PANGGILAN

“Menunggu panggilan apa?” tanya Toto kepada Rahji. Kedua sahabat itu sedang memperbincangkan mutasi besar-besaran di perusahaan tempat mereka bekerja. Surat Keputusan mutasi di tingkat Kantor Pusat itu menjadi bulan-bulanan lelucon sekaligus cercaan di group WA kantor mereka.

“Menunggu panggilan jadi pipiiiiiii…..! Eh VP alias Vice Presideeeeeent”. Rahji mengucapkan itu dengan suara tinggi melengking, diakhiri dengan mengatupkan giginya.

“Haha….yo wis lah”.

Sudah dua hari ini group WA angkatan V yang Toto dan Rahji tergabung di dalamnya, riuh rendah membahas mutasi level manajer, kepala proyek, VP dan deputi regional. Empat jabatan itu adalah jabatan manajerial tingkat menengah dan tingkat tinggi di perusahaan tempat mereka bekerja. Adalah wajar saja jika setiap perputaran di level itu menjadi perhatian. Apalah lagi jika kriteria yang dipakai untuk menunjuk seseorang pada jabatan tertentu, tidak jelas.

“Dia itu kepinterannya apa?”

“Embuh”

Itu salah satu contoh chat di group.

“Aku sudah sampaikan ke Direktur, tentang apa kriteria dia diangkat jadi VP. Jawab Direktur `Manajemen sudah mempertimbangkan berbagai aspek ketika menetapkan seseorang untuk suatu jabatan`. Weleh, diplomatis banget”.

Yang paling berat terdampak dari mutasi ini adalah Wawan. Secara kriteria administrasi, dia sudah selayaknya menjadi VP. Namun apa yang terjadi.

“Aku mau cuti saja”. Akhirnya Wawan memutuskan.

“Lho, kenapa?” komentar seorang teman.

“Rasanya berat banget jadi anak buah dia”. Wawan sedang jadi tokoh utama sinetron tentang mutasi besar-besaran. “Pertama dia jauh lebih yunior dari aku. Kedua, emangnya kelebihannya apa? Kayak nggak ada orang lain aja”. Wawan sedang curhat tentang koleganya, yang jauh lebih yunior, yang barusan dapat wangsit, dipromosikan menjadi VP.

“Sabar-sabar Kang” komentar satu.

“Mari kita bersyukur dengan kondisi kita” komentar dua.

Wawan mulai menuliskan kata tegas. “Kalau menyampaikan aspirasi atau bertanya tentang sistem, dianggap sebagai tidak bersyukur, kayaknya aku salah masuk group ini”.

Di group, pemahaman tentang definisi dan praktik bersyukur memang beraneka. Mengkritisi sistem karir yang nota bene hasilnya nanti berpengaruh pada banyak orang, disimpulkan tidak bersyukur.

“Sampaikan pertanyaan kepada manajemen secara tertulis Kang. Niatkan bahwa kritik itu untuk kemaslahatan orang lain juga. Tidak hanya untuk Kang Wawan”. Nah ini komentar yang menyemangati.

“Aku hanya ingin penjelasan manajemen, misal seperti ini `Anda tidak punya visi ke depan, Anda bukan lulusan universitas negeri, Anda belum mencapai kelompok jabatan yang dipersyaratkan, Anda belum menapaki jenjang karir di level manajerial`. Itu yang kubutuhkan”.

Kasus Wawan memang menyita waktu diskusi di group. Terlalu kentara bahwa unsur subyektifitas bermain di promosi kolega Wawan. Saking kesalnya, Wawan sampai punya istilah khusus untuk koleganya yang dipromosikan itu.

“New vocab : petot” salah seorang anggota yang bukan Sundanese bertanya.

“Petot means stupid”.

Lusi yang sudah sejam lebih menyimak chat di group, ngakak sendiri membaca padanan kata itu.

“Kalau aku jadi VP mungkin bakal dipertanyakan juga ya. Piye Jal?” Rahji tiba tiba mengungkapkan sesuatu yang sangat esensial, keesokan harinya, kepada Toto. Mereka berdua sedang ngopi di kantin.

“Semakin tinggi kita di sebuah organisasi, semakin banyak yang melihat, semakin keras pula angin. Itu konsekwensi. Jika mau menerima risiko itu, ya jalani prosesnya. Yang dipertanyakan Wawan adalah prosesnya. Itu sah sah saja”. Toto menyeruput kopi panasnya. “Jadi, masih mau nunggu panggilan?”

“Ah, nggak jelas prosesnya. Jangan sampai kita mendzolimi orang lain yang lebih mampu”.

Bandung, 11 10 2016
Lisa Tinaria

Rate this article!
MENUNGGU PANGGILAN,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Leave a Reply