Menulisku (semoga) KarenaNya

“Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan”

(Al-Qalam : 1)

 

Tulisan ini saya mulai dengan satu ayat dalam kitab mulia. “Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.” (Al-Qalam : 1). Ayat ini sebagai isyarat bagi kita untuk mendalami dunia literasi setelah ayat yang pertama diturunkan adalah perintah membaca dalam surah Al-Alaq  ayat 1. Dunia literasi identic dengan pena sebagai alat yang digunakan untuk menulis. Namun di zaman modern seperti sekarang sudah semakin canggih, tulisan dapat dibuat melalui handphone, dan komputer.

Menurut suatu pendapat, nun adalah nama seekor ikan yang amat besar berada di atas lautan air yang sangat luas, dialah yang menyangga tujuh lapis bumi, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Abu Ja’far ibnu Jarir yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Yahya, telah menceritakan kepada kami Sufyan As-Sauri, telah menceritakan kepada kami Sulaiman alias Al-A’masy, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa yang mula-mula diciptakan oleh Allah adalah Al-Qalam.

Allah berfirman “Tulislah!”

Qalam bertanya, “Apakah yang harus aku tulis?”

Allah Swt. Berfirman, “Tulislah takdir.”

Maka Qalam mencatat semua yang akan terjadi sejak hari itu sampai hari kiamat. Kemudian Allah menciptakan nun dan menaikkan uap air; maka terciptalah darinya langit, dan terhamparlah bumi di atas nun. Lalu nun bergetar, maka bumi pun terhampar dengan luasnya, lalu dikukuhkan dengan gunung-gunung. Sesungguhnya nun itu benar-benar merasa bangga terhadap bumi. (Tafsir Ibnu Katsir)

Tugas sang pena sangat penting dalam hal ini, jika pena tak menuliskan takdir maka tidak akan ada hamparan alam seperti yang dapat kita lihat sekarang. Kita dengan dunia menulis juga begitu, jika tak ada tulisan yang tercipta maka tidak ada semangat yang lahir, tidak ada mimpi yang dirajut, tidak ada hikmah bertebaran, tak ada ilmu yang melekat.

Kehidupan kita tak lepas dari berbagai kewajiban dan tanggungjawab yang harus kita tuntaskan satu persatu, baik terhadap diri, keluarga, pekerjaan, termasuk juga tanggungjawab terhadap komitmen apapun yang telah dibuat. Menerjunkan diri dalam dunia kepenulisan menuntut kita untuk memberikan manfaat seluas-luasnya lewat karya-karya kita. Berusaha menepis rasa malas dan membuang jauh-jauh keluhan, karena satu alasan, MALU.

Tidakkah kita malu dengan ulama-ulama terdahulu yang terus menelurkan karya tanpa sedikitpun mengungari kualitas ibadahnya? Pantaskah kita mengeluh sedang nasib kitapun bahkan lebih beruntung daripada seorang ‘alim yang dipenjara demi membela agama? Haruskah kita menyerah ketika ternyata tulisan kita memberi banyak harapan bagi orang lain? Setidaknya tulisan kita akan menjadi manfaat bagi kita. Karena seringkali kita akan menemukan suatu nasehat atau pengingat di dalam tulisan-tulisan itu.

Ketika kita menulis seringkali akan ada bayang-bayang wanting atau ketidakikhlasan, ketidaktulusan. Sekecil apapun wantingnya tetap saja itu akan menodai kemurnian karya kita yang harusnya hanya untukNya jadi bertambah atau bahkan berganti untuk selainNya dan akhirnya membuat amal kita tergerogoti sedikit demi sedikit hingga habis sebelum akhirnya sampai ke langit.

Pentingnya meluruskan niat memang tak semudah mengucapkan niat ketika mau shalat atau melakukan ibadah lain, karena niat itu adanya di lisan, hati sampai pada perilaku. Sedangkan ujiannya tidak mudah, justru banyak yang salah dan kalah pada masalah niat ini. Tapi ini sangat tidak boleh dijadikan alasan untuk kita berhenti berkarya, karena kita tidak pernah tahu mana amal kita yang sampai ke Allah walau mungkin tak banyak amal kita yg sempurna dan bebas dari wanting.

Sekali lagi, menulis itu selayaknya hanya karenaNya dengan menebarkan manfaat sebanyak-banyaknya seperti sejarah para pendahulu kita yang merubah banyak hal lewat tulisan mereka. Semoga kita senantiasa menjaga kemurnian niat kita agar terbebas dari wanting duniawi.

(K_A)

Rate this article!
Tags:

Leave a Reply