Menulis untuk Pembebasan

Menulis untuk Pembebasan
Andar Witjaksono
KMO 08A.10, PJ : Kak Rumiah

Kenapa harus menulis?
Ketika pertanyaan itu ditujukan padaku, tak dapat kuberi jawab seketika. Ya, kenapa aku ingin dan harus menulis? Kenapa aku butuh waktu untuk menjawabnya, padahal selama ini aku begitu suka menulis. Mungkin aku butuh membuka lembaran sejarah, dari awal mulai suka menulis… ah, bukan. Sebab awalnya adalah AKU SUKA MEMBACA.

Ya, bocah yang masih duduk di bangku SD kelas tiga itu suka sekali membaca. Bahkan tidak hanya di perpustakaan sekolah yang minim buku, maklum sekolah di pelosok jaman itu. Tidak puas dengan buku perpustakaan sekolah, maka ia rela ngelesot nungguin rumah kosong seorang mahasiswa yang belum pulang ngampus. Karena di rumah itu punya buku-buku yang buanyaaak sekali, sebagiannya terlihat dari kaca jendela tanpa gorden. Dari sanalah si bocah nge-tag buku apa saja yang nanti akan dipinjamnya saat pintu telah terbuka. SETIA, atau LOYAL?

Dari SD hingga beranjak remaja, maka materi bacaan pun semakin bertambah. Seperti mulai merambah tabloid dan majalah-majalah remaja. Menyisihkan uang jajan yang tak seberapa demi membeli majalah baru atau majalah bekas, pun sekadar mampir ke persewaan. PENGORBANAN.

Edisi per edisi majalah remaja yang dibacanya, ia temukan nama penulis yang acapkali sama, tulisan cerita-cerita yang asyik, berkarakter, hingga terbitlah dalam angannya ‘aku pasti bisa seperti dia’. IT’S A DREAM.
Maka mulailah ia menuliskan kisah-kisah pada lembaran buku tulis sekolahnya, lagi dan lagi… kemudian dalam lembaran ‘buku kliping’, hingga ia masuk sekolah menengah atas. Untuk dibaca sendiri, juga beberapa kawan yang suka membaca cerita. Secara teknis, ia belajar autodidak. Menandai dimana huruf-huruf besar ditempatkan. Tanda baca digunakan sesuai apa? Bahkan hingga berapa banyak tanda titik-titik (yang kemudian hari ia tahu disebut ellipsis) ia hitung. PEMBIASAAN.

Waktu terus berjalan, menulis tetap menjadi kesukaan. Jamanpun mengalami kemajuan. Memasuki era baru, teknologi berkembang. Mesin ketik menjadi sebuah idaman. Ya, dia ingin menulis dengan tuts mesin tulis itu, kemudian mengirimkannya ke media. Pulau seberang ia datangi untuk mengumpulkan pundi-pundi. Mesin tulis itu harus terbeli. SEBUAH PERJUANGAN.

Ketika langkah menapaki ibu kota, kiranya mesin tulis itu sudah tergeser oleh kemajuan elektronika. Tetap diteruskan untuk mencetak huruf demi huruf di atas lembaran kertas diiringi irama ketikan. Sampai sebuah kerinduan pada sahabat lama menyapa jiwa. Dibawanya selembar hasil ketikannya ke rental komputer. Disalin, di-print… dikirimlah pada sebuah tabloid. Syukur Alhamdulillah, sebuah puisi manis terpampang di sebuah edisi. AKSI.

Dan, sampailah pada sebuah pertanyaan. Kenapa harus menulis?
Maka pada jaman ini, media informasi begitu terbuka. Sosial media bermunculan bagai tumbuhan jamur di musim hujan. Saya menangkap, tulisan-tulisan berperan sebagai pembebasan ide-ide, pemikiran. Entah yang bersifat hiburan ringan maupun yang bersinggungan bab pemerintahan. Disinilah tulisan berperan. Tulisanmu seperti sebuah alat yang dapat begitu berpengaruh. Meski demikian terbit UU IT. Sebab tulisan pada saat ini lebih ‘didengar’. Tulisan lebih memiliki kekuatan. Untuk pribadi, kenapa saya harus menulis? Bisa jadi tulisan di atas bisa disimpulkan 

Rate this article!
Menulis untuk Pembebasan,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply