Menulis untuk menjaga kewarasan

Sebagai emak-emak rempong yang riweuh dengan empat anak yang lucu dan menggemaskan, ditambah dengan aktivitas di kantor yang kadang membuat nyaris gila, membuat saya harus mencari penyaluran yang sehat.
Hobi yang mengharuskan meninggalkan anak dan pekerjaan sementara dicoret dulu dari daftar, apalagi jika hoby itu membuat ATM melet-melet.

Berarti hoby jalan-jalan atau belanja bukanlah pilihan bijak bagi saya. Kalau hoby itu dipaksakan, bisa-bisa setelah menjalani hoby bukan fres malah mrenges.

Membaca adalah salah satu hoby yang realistis bisa dijalankan. Selain murmer, waktunya juga fleksibel. Tapi kadang kala, rasa sok tahu saya membuat saya sering ngomel-ngomel sendiri saat menemukan bahan bacaan yang tak sesuai dengan ide saya. Atau endingnya tak seperti yang saya mau. Akhirnya menulis menjadi pilihan untuk menjaga kewarasan dan agar kegilaan itu menemukan muaranya. Saya ingin seperti teman-teman saya, yang bisa menuliskan sebuah ide sederhana menjadi sesuatu yang kaya hikmah.

Menulis membuat saya bisa mencurahkan segala emosi. Kemarahan, kesedihan, kegembiraan, kekonyolan. Semua bisa tumpah ruah dalam sebuah tulisan. Biasanya setelah menulis, ada perasaan lega. Hingga jika pun ada kemarahan atau kesedihan, akan reda setelah menulis.

Menulis juga adalah usaha saya untuk meninggalkan jejak buat anak cucu kelak. Bagaimana saya menorehkan kenangan atas hadirnya mereka dalam sebuah tulisan.

Mengapa harus menulis?
Menulis bagi saya adalah cara saya untuk mengikat ilmu yang tak seberapa. Menulis bagi saya adalah ajang untuk meninggalkan jejak. Jejak hidup saya, jejak anak-anak. Jejak emosi saya, juga ide-ide saya. Saya ingin, saat saya sudah tak ada kelak, anak-anak bisa ‘menemukan’ saya dari tulisan-tulisan saya.

Mengapa harus menulis?
Awalnya keinginan menulis itu hanya untuk menyalurkan uneg-uneg atau ide semata. Semacam diary.
Diary yang bisa saya baca beberapa tahun kemudian yang membuat saya kadang menertawakan diri saya sendiri. Kenapa waktu ini menulis begini dan begitu ya? Iiiih aku koq kekanak-kanakan sekali ya?
Dan terakhir, menulis itu lambang eksistensi diri.

Rate this article!
author

Author: 

Leave a Reply