Menulis untuk Dunia yang Lebih Baik

Awalnya

Sejak di bangku SMP saya mulai mengenal kaidah jurnalistik. Oh, bukan dalam pelajaran Bahasa Indonesia yang terkadang terasa membosankan, tetapi dalam ekstrakurikuler selepas pelajaran. Dalam ekskul jurnalistik yang menyenangkan itu, tulisan kukenal sebagai ruang ekspresi dan kreatifitas tanpa batas. Aku menulis untuk kesenangan, dengan embel-embel target mencetak buletin sekolah setiap triwulan dan membuat majalah dinding setiap bulan. Proses berpikir kreatif kunikmati sejak menggodok topik tulisan, membaca referensi berita terkini, lalu mewawancarai narasumber di lapangan. Tantangan berikutnya tentu meraciknya menjadi sebuah tulisan yang menarik dan menggugah para pembaca, teman-teman sekolahku sendiri. Aku belajar bahwa sebuah tulisan yang baik tidak sekedar berakhir pada lembaran hasil cetak di atas kertas. Namun, lebih dari itu, mampu memberi nilai tambah bagi pembacanya. Misalnya, bertambahnya wawasan, motivasi, toleransi, atau nilai-nilai positif lain yang membuat hidup ini terasa lebih indah. Sejak saat itu, aku berpikir tentang pentingnya kegiatan menulis.

Misi setiap manusia

Hidup dengan penuh kedamaian dan sukacita pasti diinginkan semua orang. Padahal, setiap pribadi adalah individu yang unik, yang punya caranya masing-masing untuk mengisi hidupnya. Everyone has their own unique story to tell the world. Setiap kisah itu unik. Ia datang dari buah pikiran dan pengalaman hidup seseorang. Ada yang gemar sepakbola, musik klasik, atau rumus fisika – mereka pun menuliskan hal-hal yang membuat mereka bahagia. Serunya, kita bisa ikut belajar dan menikmati hidup dari tulisan mereka. Menulis nyatanya menjadi sebuah keharusan karena setiap orang perlu membagi kebahagiaan kepada lainnya. Beruntungnya, ini karena kita terpaksa hidup berdampingan. Tugas kita pada akhirnya adalah menumbuhkan harmoni pada alam, sesama, dan Yang Esa. Tulisan bisa menjadi medianya.

Bibit kebaikan

Tulisan terbukti rapi menyimpan setiap kenangan. Kejadian istimewa menjadi abadi saat dituangkan dalam bentuk tertulis, tidak hanya lisan. Sebuah peradaban bahkan bisa memetik pelajaran dari seonggok Batu Rosetta. Kalau tidak, para prasasti kuno itu pasti tak laku untuk digali-gali. Meskipun di tulis di sebuah kertas usang, cerita baik konon harus dibagikan. Biar rangkaian kata itu yang menjaga keabadiannya. Aku percaya bahwa sebuah hal positif akan menarik kekuatan positif lainnya. Menulis itu keharusan, karena tulisan yang baik niscaya menumbuhkan bibit kebaikan di sekitar kita. Mari beramai-ramai menebarnya!

Oleh: Mirah Mahaswari

Tulisan untuk KMO8_Kelompok 3B_16 Des 2016

Rate this article!
Tags:

Leave a Reply