Menulis Tinggalkan Jejak Hidup

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Sejenak meluapkan emosi yang tertahan sangat penat dalam otak. Seketika merta datang hal yang membuat terkesima dalam kurun waktu yang cukup lama. Sadari atau tinggalkan massa alaymu sekarang dan ganti dengan profesional waktu yang terus bergulir. Harga mati jika sudah mendewasa di abad sekarang.

Banyak orang yang tergopoh-gopoh melulu hanya soal siap dan tidak siap merekam jejak waktu yang terkadang dinobatkan semacam drama hidup. Alibi sekali jika kita yang peran utamanya lantas jadi lupa bahwa kita pernah merasakan hal sedemikian. Mari ungkapkan dengan menulis dengan tekad yang lembut menghujam di pautkan dalam doa yang tertembus dalam dzikir panjang kita.

Menulis bukan suatu yang sulit dibandingkan mengucapkan kata AKU PINTAR. Akui saja jika dalam nyata kita masih banyak kurangnya. Menulis itu ibarat minum air, mengapa bisa begitu ? Jelas kita semua hidup butuh air. Lantas menulis itu pun sama halnya. Jika tanpa hari tanpa minum air mungkinkah kita tidak dehirasi ? Pertanyaannya masihkah kita meluangkan waktu yang sebegitu on line atau off line untuk memanajement waktu menulis.

Pernah baca bahwa mungkin cuplikan hadits berikut ini bisa menjadi bahan renungan kita, “Sebaik-baik manusia di antara kamu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” (H.r. Bukhari)

Menulis sebenarnya pekerjan yang sangat menyenangkan, apalagi jika dilakukan dengan sepenuh hati. Oleh sebab itu ada juga orang yang mengajurkan agar “menulis dengan hati”, sehingga tulisan yang dihasilkan juga mengalir seperti air yang turun dari tebing ke bawah bukit, lancar tanpa hambatan. Tulisan yang baik biasanya juga dihasilkan dari penulis yang menulis dengan ikhlas, tanpa beban dan mempunyai pengetahuan yang baik pula.

Salah satu cara agar kegiatan menulis bisa berjalan dengan baik dan lancar, maka kita harus mempunyai komitmen yang kuat terhadap rencana menulis tersebut. Komitmen yang kuat bisa tercipta jika kita mempunyai motivasi dalam menulis. Artinya, kita harus mempunyai alasan mengapa kita harus menulis. Jika alasan itu begitu kuat dan bisa mendorong semangat kita menulis, maka aktivitas menulis menjadi mudah dan lancar.

Setiap orang tentu mempunyai alasan yang berbeda-beda dalam menulis. Alasan ini yang menentukan apakah seseorang itu nantinya akan menjadi penulis biasa-biasa atau menjadi penulis besar. Ada beberapa alasan mengapa seseorang itu mau menulis, diantaranya adalah :

1.Berbagi ide/pemikiran.

Ide/pemikiran yang dimiliki oleh seseorang jika tidak ditulis dan di share ke orang lain, maka ide/pemikiran tersebut akan sirna dengan sia-sia, padahal mungkin saja ide/pemikiran tersebut bisa membantu menyelesaikan masalah orang lain, sehingga bermanfaat.

Menuliskan ide/pemikiran juga bisa membantu orang lain bertambah wawasannya. Tulisan yang dipulikasikan akan dibaca oleh orang banyak sehingga manfaatnya semakin luas. Banyak media yang bisa menampung tulisan kita, misalnya di blog, website, media sosial (twitter, facebook), surat kabar, majalah, tabloid dan sebagainya. Jika memungkinkan ide/pemikiran bisa dibuat lebih mendalam dalam bentuk buku.
2.Mencegah serta menghilangkan stress.
Seseorang yang hobi menulis bisa melampiaskan perasaannya kedalam tulisan. Perasaan senang atau sedih bisa dituangkannya ke dalam tulisan. Menuangkan tulisan sama saja dengan bicara pada diri sendiri. Kita seakan-akan sedang berkomunikasi dengan diri kita sendiri.
Ketika kita sedang dilanda masalah, menuliskan perasaan hati kita bisa membuat beban yang ada di dada menjadi berkurang. Bisa kita bayangkan kalau memendam masalah dan tidak ada media untuk menyalurkannya, maka beban pikiran tersebut membuat kita stress.
3.Mengisi waktu luang.
Sebagian orang begitu sibuknya bekerja sampai merasa kekurangan waktu, tapi disisi lain banyak juga orang yang menyia-nyiakan waktunya. Bagi orang yang senang bekerja dan tidak mau membuang waktunya dengan percuma, maka aktivitas menulis bisa dijadikan cara untuk mengisinya. Banyak hal yang bisa ditulis, misalnya menulis tentang sesuatu yang menjadi hobinya, menulis tentang kisah percintaan sahabatnya ketika masih remaja, menulis tentang kisah sukses tetangganya dan lain sebagainya.
Seorang ibu rumah tangga yang pekerjaan sehari-harinya mengurus rumah dan anak-anaknya, bisa memanfaatkan waktu luangnya dengan menulis. Banyak ibu-ibu rumahan alias ibu rumah tangga yang kreatif memanfaatkan waktu luangnya dengan berbagai aktivitas positif, misalnya membuat kerajinan rumah tangga dari bahan-bahan bekas yang bisa didaur ulang, berjualan pulsa, berjualan makanan jajanan atau menjadi seorang penulis. Ada sebuah grup ibu-ibu yang sukses memanfaatkan waktu luangnya dengan menulis di Bandung yaitu grup Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) Pimpinan Indari Mastuti. Mereka sebenarnya ibu rumah tangga biasa yang hobi menulis, sehingga bisa memanfaatkan waktu luang dengan baik bahkan bisa mendapatkan income tambahan dari aktivitas mereka yang positif tersebut.

4.Sebagai media sosial

Jika ada orang yang menulis dengan tujuan sosial itu bisa dimaklumi, karena melalui tulisan kita bisa berbuat sesuatu untuk orang banyak. Tulisan yang baik bisa menginspirasi orang untuk berbuat kebaikan. Jika kita menulis dan memberikan manfaat positif bagi pembaca maka tulisan tersebut dari sisi sosial bisa mengubah sudut pandang masyarakat menjadi lebih baik. Agama mengajarkan kita untuk berbuat kebaikan, maka melalui tulisan, kita bisa menyebarkan virus kebaikan, misalnya dengan menulis tentang bagaimana agar masyarakat tidak bertindak anarkis dan bisa menghargai agama orang lain, menghargai perbedaan pendapat dan lain sebagainya.
5.Menulis juga merupakan saranoa kmunikasi.
Setiap orang pasti sering berkomunikasi, tentu saja komunikasi yang sering dilakukan adalah melalui mulut (berbicara). Berkomunikasi juga bisa dilakukan dengan cara tertulis. Tentu saja ada perbedaan anatar berkomunikasi secara verbal (bicara) dan lisan (melalui tulisan). Meskipun keduanya merupakan aktivitas berkomunikasi yang bertujuan menyampaikan sesuatu kepada orang lain, tetapi menulis mempunyai keunikannya sendiri.
Jika kita ingin menyampaikan sesuatu kepada orang lain secara langsung, bisa saja kita merasa malu atau segan sehingga jika dipaksakan hasilnya bisa tidak sesuai dengan harapan. Berkomunikasi langsung memiliki kendala atau hambatan tersendiri yaitu kepercayaan diri, sehingga kadang-kadang ketika bicara, karena gugup dan tidak pede, hasilnya malah tidak sesuai dengan rencana, bahkan bisa berakibat fatal.

Lain halnya jika kita menyampaikannya melalui tulisan. Kata demi kata yang kita susun bisa kita ubah sedemikian rupa jika tidak menarik, sehingga sebelum disampaikan kepada orang yang dituju, tulisan tersebut yang merupakan buah pikiran kita bisa mengalami beberapa kali dibaca ulang dan direvisi sehingga hasilnya lebih maksimal. Ketika tulisan disampaikan pun kata-kata yang ada tidak mungkin berubaha seperti halnya ketika bicara langsung secara lisan. Kita juga tidak perlu nervesu ketika bahan pikiran tersebut sampai kepada orang yang kita tuju.

6.Menulis karena panggilan hidup.
Level tertinggi dari tujuan menulis adalah karena panggilan hidup. Artinya, orang menulis karena baginya menulis merupakan jalan untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Menulis merupakan salah satu cara baginya untuk memberikan perubahan ke arah yang lebih baik bagi orang banyak. Tanpa menulis, bagaimana mungkin ide/pikiran yang ada di kepalanya bisa disebar dengan cepat dan bisa dinikmati oleh ribuan bahkan jutaan manusia. Gagasan yang disampaikan melalui lisan memiliki keterbatasan, tetapi melalui tulisan akan lebih efektif, praktis dan ekonomis.

Menulis karena panggilan hidup mempunyai makna yang sangat tinggi, karena tujuan menulis bukan hanya sekedar mencari ketenaran, mencari uang atau urusan duniawi semata, melainkan lebih mengarah ke alam spiritual, yaitu menulis demi berjuang untuk kebaikan umat manusia. Jika sudah sampai pada level ini, maka menulis menjadi pekerjaan yang menyenangkan karena dilakukan dengan hati yang ikhlas demi kepentingan orang lain.

7.Menulis karena hobi.
Bagi orang yang mempunyai hobi tertentu, apapun akan dilakukan demi hobinya tersebut. Misalnya ada orang yang hobi memancing, maka dia akan rela mengeluarkan uang dan melakukan perjalanan jauh untuk sekedar melampiaskan hobinya memancing. Padahal kalau dipikir, hasil memancingnya mungkin tidak sebanding dengan uang yang dikeluarkannya. Kepuasaaan batin memang tidak bisa dinilai dengan uang.
Nah, begitu juga dengan orang yang hobi menulis. Apapun akan dilakukannya yang penting dia bisa menulis. Aktivitas menulis baginya merupakan suatu kesenangan. Maka, dia rela menulis apa saja yang menurutnya asik ditulis, tanpa memikirkan apakah tulisan itu menghasilkan uang atau tidak, bermanfaat atau tidak yang penting dia bisa menulis. Tentu saja kalau menulis yang baik-baik akan berdampak positif bagi siapa saja yang membacanya. Orang yang hobi menulis biasanya mempunyai blog pribadi untuk menyalurkan ide/gagasannya dalam menulis.
Seseorang yang hobi menulis bisa menulis sepanjang waktu, tidak ada istilah mood atau tidak mood dalam kamus hidupnya. Baginya menulis itu seperti berbicara, maka sepanjang dia punya banyak ide dan senang berbicara, maka jari-jemarinya akan dengan cepat beralih fungsi menggantikan mulutnya sebagai media komunikasi.
8.Tuntutan pekerjaan.
Tidak semua tujuan menulis dilakukan dengan hati (ikhlas), namun ada juga orang menulis karena terpaksa alias karena tuntutan pekerjaan. Misalnya orang yang bekerja sebagai petugas administrasi, sekretaris, karyawan kantor dan lain sebagainya. Tentu tidak semua orang yang bekerja pada bagian tersebut dianggap bekerja tanpa hati, tapi kebanyakan memang dilakukan tidak dengan semangat yang tinggi dan kreatif, melainkan hanya sekedar menyelesaikan kewajiban atau tanggung jawab semata.
Orang-orang dengan profesi tersebut, umumnya kurang kreatif dalam menulis, karena setiap hari terbiasa mengerjakan pekerjaan rutin menulis sesuatu yang sudah baku dan monoton dengan tulisan-tulisan resmi yang sudah memiliki gaya dan pola tertentu. Tidak ada keinginan dan keberanian dalam dirinya untuk berani melakukan perubahan karena akan dianggap melanggar aturan. Akhirnya penulis di tingkatan ini kurang begitu berkembang.
9.Merekam sejarah.

Kita bisa menjadi pintar karena banyak belajar yaitu dengan membaca berbagai tulisan, baik berupa artikel yang ada di surat kabar maupun buku. Bisa kita bayangkan kalau tidak ada satu pun tulisan yang ada di bumi ini, dan semuanya hanya mengandalkan ingatan saja. Maka ketika orang yang berilmu itu meninggal, maka ilmu yang ada diotaknya juga akan terbawa ke liang kubur.

Menulis berarti merekam sejarah. Apa saja yang kita tulis bisa menjadi pelajaran berharga bagi generasi yang akan datang. Oleh sebab itu tulisan yang kita buat sekarang bisa abadi sepanjang naskah tersebut diabadikan dalam bentuk media seperti buku atau bisa juga secara elektronik dengan menyimpannya di internet. Melalui tulisan, ketika kita sudah tiada, maka kita bisa meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi generasi mendatang.

Pada hakikatnya, apapun tujuan kita menulis, sepanjang dilakukan dengan tujuan yang baik, Insya Allah akan menghasilkan kebaikan. Di mana pun kita berada, apapun atribut yang kita sandang tidak perlu dipermasalahkan, yang penting kita menulis sesuatu secara maksimal dengan sesuai dengan apa yang menjadi kesukaan kita sambil terus menerus belajar dan memperbaiki kualitas tulisan kita sepanjang waktu.

Demikianlah tugas KMO 1 kali ini ♥
‘afwan minkum jika ada yang kurang berkenan atau terlalu muluk-muluk.
By, Ika KMO8A kelompok 5 ^_^
Bandar Lampung,15 Desember 2016
Rate this article!
Tags:
author

Author: 

4 Responses

  1. author

    iklima2 years ago

    Kenapa harus menulis ?
    Dengan tulisan kita dapat membuat orang merasakan apa yang kita rasakan tanpa harus mengucapkan dengan kata-kata, dan saya juga mempunyai ke inginan menjadi wanita yang bermanfaat untuk orang banyak meski tidak dengan material melainkan dengan tulisan, ada sebuah hadits yang mengatakan ” sampaikan lah meski hanya 1 ayat ” meski tidak melalui lisan melainkan dengan tulisan. .

    Reply
    • author
      Author

      Ikakmo8a2 years ago

      good sister (Y)

      Reply
  2. author

    Iklima Tri Agustin2 years ago

    Bismillahirrahmanirrahim. .
    Kenapa harus menulis ?
    “Menulis” kata itu pasti sudah tidak asing dalam benak kita bukan. Dulu sewaktu saya masih belum duduk di bangku TK ibu saya sering mengajari saya menulis dari huruf A-B-C hingga Z. Yah dari situlah saya mengenal arti tulisan dan ibu adalah guru pertama yang mengajari saya menulis. . awal saya menyukai menulis, karna saya suka sekali membaca novel, tabloid dan koran dan di saat itulah saya berkeinginan untuk menuliskan semua apa yang ada di sekeliling saya dan di tuangkan dalam buku harian saya, meski si pembaca setia adalah diri saya sendiri ?, lucunya saat saya membaca kembali tulisan-tulisan yang pernah saya tulis, ada rasa senang dan motivasi baru kepada diri sendiri, mungkin dari sebuah ke jadian yg menyesakkan dada itu ? ada semangat baru untuk tidak kembali seperti yang saya tulis pada saat itu. Itu janji saya pada setiap apa yang setelah saya tulis dan saya baca kembali ” pengalaman yang tidak mengenakkan dalam hidup ” .
    Menulis adalah sahabat yang paling dekat dengan kita dan dengan menulis kita juga dapat jawaban dari setiap apa yang kita tulis sendiri.
    Mungkin hanya ini saja yang menurut saya ” kenapa menulis ” kedepannya semoga menjadi lebih baik lagi dari setiap kata” atau ucapan yang saya tulis agar yang membaca nantinya dapat mudah mengerti dan memahami sebuah arti dalam Tulisan saya sendiri.

    Reply
    • author
      Author

      Ikakmo8a2 years ago

      ahahahha..ini rada panjang sist ^_^ Semangat yaaa nulisnya ♥

      Reply

Leave a Reply