Menulis dan Mengalirlah

­Dari dulu saya suka menulis sekedar mencurahkan isi hati, berpuisi, atau membuat opini akan sesuatu. Bagi saya menulis adalah melepas; melepas apa-apa yang saya rasakan, saya pikirkan, saya amati bahkan saya bayangkan. Saya menulis karena saya suka menulis. Saya menulis untuk kepuasan diri sendiri. Tidak terpikir apakah mereka yang membaca menyukai tulisan saya atau tidak. Saya hanya menulis dan membiarkannya mengalir. Kadang tulisan saya berhenti hanya sampai satu paragraf dan di kali yang lain sampai berlembar-lembar.

Yang sangat menarik adalah saya dapat menulis dengan mengambil sudut pandang mana pun yang saya mau untuk membentuk opini. Setiap penulis pun bisa seperti itu dan membawa atau ‘memaksa’ pembacanya untuk melihat dan memahami hanya dari sudut pandangnya. Sayangnya, ketika kita bicara tentang opini kebanyakan pembaca menerimanya sebagai informasi yang relevan dan tanpa sadar menerimanya sebagai kebenaran padahal belum tentu tulisan tersebut adalah dari sudut pandang yang benar. Dalam membuat tulisan kita perlu menampilkan sudut pandang yang komprehensif jika tujuan menulis adalah agar diterima semua pembaca, Jika tidak komprehensif, maka selayaknya kita mengembalikan kepada pembaca sudut pandang mana yang mereka pakai.

Lebih luas lagi, media dengan segala kemampuannya adalah senjata besar untuk sugesti dan propaganda dalam membentuk opini di masyarakat terlepas dari apakah media tersebut digunakan untuk tujuan yang benar atau tidak. Ada satu kisah menarik tentang bagaimana media bisa menguak kejahatan dan kebenaran dari sebuah film Korea berjudul “Pinnochio”. Walaupun film tersebut merupakan film drama dengan bumbu-bumbu romantis, ceritanya tetap kuat. Film ini bercerita tentang para jurnalis di sebuah perusahaan penyiaran yang mencari fakta untuk membuktikan kebenaran. Bagaimana media bisa memutarbalikkan fakta dan opini hingga kejahatan dan kebenaran dari sekedar sebuah ide sederhana yang dipikirkan, dituliskan kemudian disiarkan membuat saya berdecak kagum. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika Pak Tendy Murti mengatakan bahwa menulis untuk menciptakan peradaban. Ya dari sekedar menulis bisa menciptakan peradaban, saya percaya itu. Segala amal kan tergantung niatnya. Tinggal bagaimana kita meniatkannya, hanya untuk sekedar mencurahkan isi hati atau seperti Pak Tendy yang ingin menciptakan peradaban.

Bagi saya menulis baru lah sampai pada niat untuk melepas; melepas apa-apa yang saya rasakan, saya pikirkan, saya amati bahkan saya bayangkan. Jadi jika ditanya lagi kenapa saya menulis? Saya menyukainya. Jika saya mau menulis tapi tidak tahu menulis apa, ya mengalir saja. Jika saya menulis dan ternyata tulisan saya aneh, ya mengalir saja. Jika mereka baca tulisan saya dan mengkritik, ya mengalir saja. Saya menulis dan mengalir saja dan menjadi lebih tenang karenanya.

­Annisa – Batch 8B Kelompok 1

Rate this article!
Menulis dan Mengalirlah,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Leave a Reply