Menulis adalah Terapi Jiwa

Bagi saya, menulis adalah hal yang sangat penting, karena menulis merupakan cara untuk melatih kecerdasan, kecermatan, dan keterampilan seseorang. Menulis dapat membuat kita –sebagai penulis– tak hilang ditelan zaman. Dengan menulis, seseorang dapat menuangkan seluruh isi hati dan pikirannya, mengapresiasikan perasaan dengan gamblang. Perasaan yang terapresiasi tersebut berdampak pada jiwa. Maksudnya, saat kita sedang merasakan segala macam perasaan, seperti; kebahagiaan, kesedihan, kebencian, kemarahan, kekesalan, kesepian, terluka, berapi-api, atau depresi entah karena cinta atau apapun. Jika segala yang sedang menyeruak dalam dada terapresiasi tentu jiwa kita akan sedikit membaik. Oleh karenanya, menulis juga merupakan terapi menenangkan jiwa.

Pengalaman pertama saya dalam menulis sebenarnya bukan hal yang patut dijadikan sebuah motivasi untuk pembaca artikel ini. Namun, yang namanya pengalaman, bagaimanapun selalu tersirat didalamnya poin-poin penting yang dapat berpengaruh bagi kehidupan kita pun orang lain. Misalnya, pengalaman yang kurang baik, akan dijadikan bahan pertimbangan seseorang agar tidak melakukan hal yang serupa dan melakukan hal yang lebih baik. Atau sebaliknya, pengalaman yang baik akan sangat memotivasi seseorang melakukan hal yang serupa dan yang lebih baik.

Jadi, semua berawal bukan karena saya begitu menyukai menulis atau karena ingin menjadi penulis, bukan. Saya benar-benar belum mengenal dunia menulis saat itu, –di tahun kedua sekolah menengah pertama saya. Semua berawal dari sebuah kewajiban memenuhi tugas membuat puisi. Namun, bukan berarti saya mengerjakannya dengan hati terpaksa. Justru sebaliknya, saya begitu senang diberi tugas membuat puisi. Setelah sekali membuat puisi, kecanduanpun hadir. Tahun berikutnya, saya mulai membuat cerita fabel. Berlanjut membuat cerpen fiksi, cerita bersambung, dan cerita-cerita lainnya di wattpad. Dari semua perjalanan menulis tersebut, pendirian saya mulai berubah. Yang tadinya tidak tahu apa-apa soal dunia kepenulisan, menjadi tahu. Yang tadinya tidak menyukai menjadi sangat menyukai. Yang tadinya tak pernah terbesit secercahpun harapan ingin menjadi penulis, kini, menjadi penulis adalah cita-cita besar saya.

Sedikit tips, jangan sekali-kali patuh kepada “mood” saat anda hendak menulis. Karena, sebagai seorang penulis, sudah seharusnya kita dapat menulis dalam keadaan apapun. Jika anda sudah terbiasa dengan menulis saat mood-mood tertentu saja, mulai sekarang biasakan untuk menulis minimal satu paragraf dalam sehari meskipun tulisan tersebut kurang atau bahkan tidak penting sekalipun. Atau bias juga dengan menjadwalkan waktu-waktu tertentu untuk menulis.

Jangan sampai ketinggalan, kunci dari menulis adalah mambaca. Dengan membaca akan memperkaya bahasa kita, wawasan kita, pengetahuan kita. Serta sebagai seorang penulis yang tulisannya ingin terbaik yaitu dengan meresensi buku-buku bacaan yang dibaca atau hanya sekadar mengetahui dan memahami kelebihan dan kekurangan dari buku tersebut untuk dijadikannya bahan pertimbangan untuk tulisan kita.

Rate this article!
author

Author: 

Leave a Reply