Menulis Adalah Mengukir Sejarah

Menulis Adalah Mengukir Sejarah

Oleh: Istiqomah

Peserta KMO Club, Batch 08A-1

Anda pernah dikirimi broadcast hoax?  Kalau saya, sering. Biasanya saya akan kroscek kebenaran berita tersebut. Lalu saya berusaha menjelaskan faktanya kepada si pengirim. Tapi lama-lama saya jadi capek juga. Terkadang, hoax empat tahun lalu, masiiih saja ada yang ngeshare, please deh.

Apa sebenarnya motif si penulis hoax itu? Di sini lah poinnya. Ketika kegiatan menulis hanya diniatkan agar tulisan menjadi viral, mungkin itu lah yang akan penulis dapat. Tapi yakin deh, itu tidak akan bertahan lama. Mengapa? Karena tidak semua pembaca bisa dibodohi dan semua yang berbau dusta pasti akan tercium juga.

Lalu apa motif saya dalam menulis? Saya menulis karena lima alasan berikut ini:

  1. Dalam Islam, menulis itu dianjurkan

Bukan hanya membaca lho, menulis juga dianjurkan dalam Islam. Misalnya kita memengikuti sebuah pelatihan. Saat kita sedang menyimak nara sumber, tentu kita bisa menyerap ilmu tersebut dengan baik. Namun, bagaimana nasib ingatan kita satu bulan ke depan? atau satu tahun lagi? atau setelah bertahun-tahun? Masih ingat kah kita dengan apa yang disampaikan oleh pemateri dalam pelatihan tersebut?

Itulah sebabnya Rasulullah menganjurkan umatnya untuk menuliskan ilmu yang telah didapat. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,Ikatlah ilmu dengan menulisnya.[Silsilah Ash-Shahiihah no. 2026]

Imam Asy Syafi’i rahimahullah juga berkata,

Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya.

Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat!

Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang

Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja [Diwan Syafi’I hal. 103]

Ini berlaku tidak hanya saat pelatihan saja, tapi saat belajar dengan guru di kelas, mendengarkan kajian di majlis ilmu, dan lain-lain. Bahkan saya pernah menamatkan membaca sebuah buku, lalu saya menuliskan isinya dengan bahasa saya sendiri.

Dengan menuliskan kembali ilmu yang telah kita dapat, ini membuktikan bahwa kita benar-benar faham apa yang telah kita dengar atau baca. Bonusnya, kita ‘mengikat’ilmu tersebut di buku kita, yang sewaktu-waktu bisa kita buka dan pelajari kembali.

  1. Menulis adalah obat lupa

Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk menuliskan segala hal yang bersifat penting. Hal ini sebenarnya juga termaktub dalam surah Al-Alaq. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata dalam menafsirkan surah Al-Alaq:

Lupa ada obatnya yaitu dengan menulisnya. Karenanya Allah memberi karunia kepada hamba-Nya dengan surah Al-Alaq. Yaitu “iqra’ (bacalah)” kemudian “’allama bil qolam’ (mengajarkan dengan perantara pena)”. Maksudnya, bacalah dengan hafalan. Jika tidak hafal, bacalah dengan tulisanmu.” [Mutshalah Hadits syaikh Al-Utsaimin]

  1. Menulis adalah berbagi ilmu, pengalaman dan hikmah

Setiap kita memiliki keahlian di bidangnya masing-masing. Yang hobi memasak, bisa menuliskan step by step masakan favoritnya. Yang profesinya dokter bisa membantah hoax kesehatan yang beredar. Yang ahli parenting bisa menuliskan tips mengatasi anak tanrum. Yang jago menulis bisa berbagi cara untuk mengatasi writer’s block alias keadaan di mana penulis merasa buntu menuangkan idenya dalam bentuk tulisan. Semua keahlian itu adalah ilmu yang berharga. Jika kita menuliskannya dan dibaca oleh banyak orang, tentu manfaatnya akan lebih luas, bukan?

Selain ilmu, pengalaman hidup adalah guru terbaik. Seperti teman saya yang menuliskan pengalaman memberi hadiah seloyang pizza untuk wali kelas putrinya. Ternyata di balik niatnya yang tulus itu, ada teman yang mengingatkan. Memberikan hadiah sebaiknya bukan hanya untuk wali kelas saja, tapi juga untuk semua guru. Ini untuk menghindari rasa iri antar guru dan kecenderungan berpihak pada putri teman saya tersebut. Sebaiknya pula, hadiah diberikan saat kelulusan sekolah bukan di tengah semester agar kesannya tidak seperti gratifikasi.

Kisah di atas adalah contoh pengalaman berharga. Sungguh ia terkadang dibutuhkan orang lain untuk menyelesaikan masalah atau sekedar terinspirasi. Jika teman saya menyimpannya sendiri, ini akan bermanfaat hanya untuk dirinya. Tapi teman saya berbagi dengan tulisannya. Ada hikmah yang bisa dipetik bagi pembacanya.

  1. Menulis itu menabung pahala

Jika dengan membaca tulisan kita, banyak orang terinspirasi, tercerahkan bahkan terpecahkan masalahnya. Sesungguhnya Allah Maha Adil perhitungannya. Allah tentu akan menetapkan ganjaran pahala bagi penulis tersebut. Tentunya jika niat sang penulis benar-benar ikhlas ingin berbagi manfaat. Bukan karena ingin tenar atau berharap tulisannya viral.

Bahkan di saat kita telah tiada, namun tulisan kita masih bisa dibaca, pahala itu akan tetap mengalir menjadi jariyah bagi penulisnya, insya Allah.

  1. Menulis adalah mengukir sejarah

Terkadang saya menulis bukan untuk berbagi suatu bidang ilmu. Saya juga suka menulis kejadian sehari-hari yang lucu, menyenangkan, menyedihkan, menegangkan atau mendebarkan. Misalnya menuliskan pengalaman melahirkan, repotnya saat anak-anak bergiliran sakit, pengalaman pertama mengantar buah hati ke sekolah, hingga mencurahkan rasa hati ketika si ‘bocah’ tahu-tahu minta menikah (yang terakhir ini belum sie, hihi). Tiap penggal cerita itu membawa kesan tersendiri bagi saya.

Bagi saya, menulis bagaikan mengukir sejarah. Jika nanti, usia tak lagi muda, saya bisa bernostalgia. Saya bisa membaca kisah hidup saya bersama anak dan cucu saya. Bahkan saat saya tiada, tulisan saya tetap bisa diambil hikmahnya kecuali hari kiamat tiba.

 

Rate this article!

Leave a Reply