Menjadi Role Model untuk Anak

Anak merupakan peniru terbaik. Dia akan meniru apa yang dilihat dan dialaminya. Lihatlah ketika ibu asyik di dapur, maka anak akan ikut. Kemudian ikut-ikutan mengerjakan apa yang Ibu kerjakan. Jangan dimarahi atau dilarang ya Bu tapi ajari ketika dia ingin melakukan sesuatu. Kelihatannya memang akan menghambat pekerjaan Ibu, tapi efeknya akan luar biasa anak menjadi cepat pandai melakukan sesuatu daripada anda melarangnya terus menerus.

Sebut saja namanya Ikhsan. Walaupun anak laki-laki dia sering ikut Ibunya ke dapur dan membantu. Haslnya di usianya yang baru 3 tahun Ikhsan sudah bisa membantu ibunya mengupas telur, memotong sayur dengan tangan, bahkan memotong tahu dengan pisau tanpa terluka walaupun potongan tahunya tidak kotak tapi menjadi jajaran genjang.

Contoh kecil di atas memperlihatkan bahwa anak memang peniru yang ulung. Dia akan cepat menangkap, cepat meniru apa yang disampaikan oleh orang tuanya di rumah atau orang di lingkungan sekitarnya. Itulah kenapa orang tua merupakan role model bagi anak, karena yang ditirunya pertama kali adalah orang tua. Ketika orang tuanya suka marah-marah maka anaknyapun akan suka marah-marah. Atau anak akan menirukan kalimat-kalimat anda ketika dia marah. Coba saja perhatikan.

Lalu bagaimana agar orang tua bisa menjadi role model yang baik untuk anak?

  1. Tunjukkan sikap menghargai orang lain dan diri sendiri.

Salah satu bentuk penghargaan kepada anak adalah dengan pujian. Pujilah anak ketika melakukan hal yang benar, atau ketika menunjukkan hasil karyanya. Pujian aka membuatnya makin semangat untuk menghasilkan karya-karya selanjutnya. Memang hasil karyanya tidak akan sebagus hasil karya orang yang lebih tua, namanya juga karya anak-anak.

Mencelanya malah akan membuatnya kecewa dan menghambat imajinasinya. Kadang menengok ke keluarga besar masih ada yang suka mencela. Jika ada yang mencelanya hiburlah anak, tetap besarkan hatinya dan doronglah anak untuk terus berkarya.

  1. Gunakan kalimat positif.

Kontrol kalimat yang kita gunakan di depan anak. Jangan sampai kata-kata kotor, kata-kata negatif dan menyakitkan terdengar oleh anak. Karena kata-kata tersebut akan terekam dalam otak anak dan janan heran ketika kemudian hari dia menggunakannya.

Namun terkadang memang orang-orang sekitar yang mengajarkan kata-kata kotor ini ke anak. Jika sudah ada indikasi anak megucapkan kata-kata kotor segera tanggulangi. Beri pengertian kepada anak bahwa kata tersebut tidak boleh diucapkan sertai dengan alasannya. Jika anak sudah cukup besar berikan hukuman ketika dia mengucapkan kata-kata kotor tersebut.

  1. Bersikap optimis

Orang tua harus selalu bersikap positif dalam menghadapi berbagai permasalahan demikian juga dengan anak. Ketika anakĀ  merasa pesimistis orang tua harus mendukungnya dan memberikan masukan-masukan positif. Dengan demikian anak akan menjadi lebih percaya diri dan mampu menghadapai situasi yang sulit

  1. Ajarkan nilai-nilai dari berbagai aspek

Poin empat ini selain ditunjukkan melalui contoh juga melalui edukasi. Misalnya aspek kesehatan, makanan bergizi, norma dan etika dan lain sebagainya. Mengajarkannya pun bertahap dan mengalir saja sesuai dengan kasus yang ditemui. Misalnya anak tidak mau mencuci tangan sebelum makan. Edukasi kemudian beri contoh cuci tangan yang benar.

  1. Minta maaf ketika berbuat kesalahan

Orang tua sudah berusaha untuk menjadi role model yang baik untuk anak. Namun orang tua juga manusia yang tak luput dari kesalahan. Segeralah minta maaf kepada anak ketika anak terpaksa melihat orang tua menunjukkan sikap negatif. Misalnya anak melihat ibunya marah kepada asisten rumah tangga maka segeralah minta maaf dan jelaskan bahwa andapun sudah minta maaf kepada asisten rumah tangga tersebut.

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply