Menjadi Pelaku Sejarah Kehidupan Sendiri dengan Menulis

Kenapa sih saya harus menulis? Apa sih manfaatnya untuk saya? Kurang sibuk apa sih saya saat ini? Ada nggak sih korelasinya sama profesi saya sebagai guru? Apalagi inshaallah saya juga mau menjadi pengusaha juga, berkaitan nggak sih?

Itu adalah pertanyaan yang sering muncul dibenak dan hati saya. Padahal 24 jam sehari, 7 hari seminggu saja kurang rasanya waktu ini. Rasanya seperti silet, kalau sudah berantakan manajemen waktunya, pasti berantakan semuanya seperti disilet-silet, pedih. Bukannya tidak pandai bersyukur, semua dimulai saat saya kecil. Tepatnya kelas 6 SD, mama sudah membiasakan saya memiliki diary untuk menulis apa saja yang saya rasakan dan inginkan.

Sejak kecil itu saya sakit-sakitan, istilah mama. 19 tahun hidup dalam bronchitis, mama mengajarkan saya untuk tidak lemah mental dan fisik. Walau kadang mama dan papa bertentangan keinginan, intinya sama, mereka berharap saya menjadi anak yang tangguh. Tidak terperangkap dengan sakit saya, yang kalau sudah kambuh itu bisa sampai 3 minggu. Bosan ditempat tidur terus, ga boleh cuaca terlalu panas, atau cuaca terlalu dingin.

Akhirnya buku diary yang menemani hari hari saya. Tapi saya bersyukur, orangtua saya mengajarkan saya tidak cengeng dan ketangguhan. Beliau berdua rela mengurus saya, walau pulang dalam keadaan pingsan sesaat, tapi pikiran senang, daripada kata mama hakhik hakhik kalau seharian di rumah. Istilahnya bengek dan merasa sakit-sakitan kata mama. Berangkat segar, pulang pingsan, orangtua saya tidak keberatan. Yang penting saya bahagia, dan melupakan kelemahan saya yang langganan rumah sakit.

Saya sudah mulai rajin curhat ke diary dan menulis puisi sejak SMP sampai SMA. Dan saat umur 17 tahun, saya menulis cerpen pertama saya di Suara Pembaharuan waktu itu. Dan dimuat serta mendapat apresiasi dari NH Dini. Sayang, mental saya lemah karena saudara-saudara saya kurang mendukung. Kalau diary saya ditemukan oleh mereka, pasti suka dibaca-baca dan diledek. Saya kan jadi malu. Nah sayapun jadi putus asa dan berhenti menulis karenanya.

Saya mulai mengenal komputer dan dunia ketik mengetik berikut internetnya adalah menjelang test jadi kepala sekolah. Saat itu tahun 2007. Saya mulai tertarik lagi menulis tahun 2008 dan memulai di blog. Saat itu belum terarah dan belum termotivasi lagi. Padahal yang ada di kepala saya itu penuh. Saya merasa hidup saya penuh warna-warni kehidupan dan pengalaman yang bisa saya share untuk pelajaran.

Dan makin melejit setelah bertemu Wijaya Kusuma yang akrab disapa Omjay. Beliaulah guru dan motivator menulis saya. Dan perkembangan menulis saya semakin terasah seiring dengan kemauan saya untuk belajar lagi dan lagi. Berkumpul dengan komunitas menulis. Buat saya menulis itu adalah passion saya. Sesuai dengan profesi saya mengajar, hampir 27 tahun di dunia pendidikan. Banyak hal yang bisa saya tulis sejarah dan pengalaman hidup saya.

Jadi, buat saya menulis adalah bagian dari sejarah saya sendiri. Saya ingin menjadi pelaku sejarah hidup saya, yang menorehkan ilmu dan berbagi kepada siapapun yang membutuhkan. Bukan menjadi penonton. Prinsip saya tulislah apa yang saya kerjakan, dan kerjakanlah apa yang saya tulis. Bukan sekedar omdo atau tong kosong nyaring bunyinya. Semoga menginspirasi sahabat lainnya.

#tugas1 KMO 8b kelompok 5

Tags:
author

Author: 

2 Responses

  1. author

    Rusdi El Umar1 year ago

    Sebuah nilai perjuangan yg sangat hebat. Dengan beragam tantangan, masih bisa dan mampu mengenyam kesuksesan. Tentu hal ini merupakan sebuah “barokah” tersebab oleh perjuangan tanpa lelah.

    Satu hal lagi, bahwa menulis bukan hanya menjadi “pelaku” sejarah diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Tulisan yg amat inspiratif, kualitatif, dan perspektif! Salam sukses!

    Reply
  2. author

    juli dwi susanti1 year ago

    Terimakasih pak inshaallah

    Reply

Leave a Reply