Menikmati Keaktifan Anak

Memiliki buah hati adalah anugerah terindah bagi setiap keluarga. Amanah ini adalah bentuk kepercayaan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk merawat, mendidik dan membesarkan manusia kecil dengan bola mata polos.

Sebagai Ibu, tugas kita pun berlipat karena selain merawat dan mendidik anak, kita harus pula mengerjakan pekerjaan rumah. Hal ini tentu membuat emosi seorang Ibu terkadang tidak stabil. Ngomel-ngomel terus, begitu mungkin kata anak kita.

Apalagi jika kita di anugerahi dengan anak yang luar biasa aktif. Jangankan rumah rapi, merapikan anak dengan memakaikan baju yang layak pun sulitnya bukan main. Entah karena anak berlari kesana-kemari saat berpakaian, atau dia menolak dibantu untuk memakai pakaian dan sebagainya.
Rumah pun jauh dari kata sepi.

Hiruk pikuk suara anak-anak yang bermain terdengar sepanjang hari. Kadang semakin ramai dengan pekikan dan tangisan pertengkaran. Suatu kondisi yang normalnya pasti membuat setiap Ibu mengerutkan dahi atau memijit pelipis. Di sinilah kekuatan manajemen emosi seorang Ibu teruji.

Tapi, ketika anak sakit hati seorang Ibu mana yang tidak tersayat. Suasana rumah yang sepi, terasa mencekam. Absennya pekik dan tangisan, sungguh dirindukan. Bahkan kita akan kehilangan rumah yang terlihat berantakan dengan mainan yang berserakan.

Bu, hati setiap manusia rentan dengan nafsu dan emosi. Nafsu marah untuk sekedar air yang tertumpah. Emosi yang tercurah untuk sekedar pertanyaan anak yang tanpa henti dan jeda. Kemudian, akan ada malam-malam ketika penyesalan mengendap masuk ke dalam hati Ibu. Airmata Ibu pun menitik melihat polosnya anak-anak dalam lelap tidur mereka.

Setiap Ibu pasti pernah merasakan hal tersebut. Jika ada yang tidak merasakan, saya acungi jempol karena hal tersebut adalah luar biasa.

Pertanyaannya, bagaimana kita bisa me-manajemen nafsu marah dan emosi negatif? Jawabannya adalah bersyukur. Bersyukur, bahwa kita masih diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk menjaga, merawat dan mendidik mereka. Sehingga ketika nafsu marah datang, kita bisa hadapi dengan senyuman.

Anak saya, Asyha yang berusia 21 bulan adalah anak yang luar biasa aktif. Seperti layaknya anak-anak usia muda lainnya, dia senang mencari tahu hal-hal baru, tertarik dengan kegiatan-kegiatan yang menantang. Keaktifannya sering kali hampir menyulut nafsu amarah dan emosi saya.

Alhamdulillah, saya selalu teringat dengan keadaan Asyha saat usia baru lahir.

Kala itu Asyha lahir dengan kondisi yang stabil. Bisa inisiasi menyusu dini selama satu setengah jam sebelum masuk ruang observasi. Sayangnya kondisi Asyha menurun lima jam setelah dilahirkan. Dia muntah darah dan mengalami sesak nafas. Hasil rontgen menunjukkan bahwa hatinya bengkak dan membesar. Asyha pun masuk NICU (neo-natal intensive case unit) segera. Dokter memasang NGT (Nasogatric Tube) untuk membersihkan darah di lambung, memasang alat pacu nafas CPAP (Continues Positive Airway Pressure) dengan kadar ++ yang artinya tinggi agar Asyha dapat bernafas. Di tangan dan kaki mungilnya, terpasang masing-masing satu infus. Pendeteksi jantung dan nafas pun ada di tubuhnya.

Tiga hari pertama bagaikan mimpi. Kondisi yang memburuk karena Asyha alergi sesuatu sehingga kulitnya memerah, resisten terhadap antibiotik yang diberikan sampai kadar bilirubin yang terus menanjak naik. Yang bisa kulakukan adalah berusaha tegar agar dapat menyemangati Asyha, meminta maaf kepada orang tua dan berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Alhamdulillah hari ke-empat dan seterusnya, kondisi Asyha membaik. NGT diganti dengan selang OGT (Oral Gastric Tube) karena Asyha diperbolehkan minum 5cc setiap tiga jam. Fungsi CPAP++ pun bisa diturunkan menjadi CPAP+ kemudian CPAP dan akhirnya selang oksigen biasa.

Semua kejadian ini, sering menjadi pengingat ketika nafsu marah dan emosi negatif datang. Juga membuat saya sering bersyukur ketika mendengar ocehan tanpa henti anak-anak, pekik, tawa riuh dan segala hal tentang anak.

Jika Ibu belum pernah mengalami anak yang sakit, maka ingatlah pengalaman saya. Juga pengalaman para Ibu lain yang memiliki anak istimewa.

Bersyukurlah atas kehadiran anak, atas genggaman cinta tanpa batas yang disorotkan oleh mata polos serta jari mungil mereka. Ingatlah, bagaimana kita mencintai makhluk-makhluk kecil istimewa ini bahkan ketika mereka masih seukuran biji jagung. Ketika kita mau mengungkit kesalahan lama anak, ingatlah bahwa mereka memiliki kelapangan maaf untuk kita dengan terus mencintai kita tanpa batas walau telah dimarahi.
Tidak ada kata terlambat untuk memulai agar diri kita menikmati memiliki anak yang aktif. Mari, kita mulai dari sekarang. 

(Ayas Ayuningtias, 1 Juni 2017)

#SahurKata #KMO06

Rate this article!
Menikmati Keaktifan Anak,5 / 5 ( 1votes )
Tags: