Menikah Berarti Membangun Cinta, Bukan Sekedar Jatuh Cinta

Menikah adalah separuh agama. Dalam pernikahan, diperlukan kerjasama pasangan, untuk membangun cinta, tak cukup hanya sekedar jatuh cinta. Saya akan mencoba memaparkan caranya, berdasarkan pengalaman saya berumah tangga.

 

 

  1. Atur waktu kencan rutin. Biasanya pasangan menikah, terutama bila sudah dikaruniai anak, akan semakin minim waktu yang dimiliki untuk berduaan. Karena kesibukan bekerja, juga mengasuh anak-anak, kadang keromantisan ini terabaikan begitu saja. Selayaknya pasangan suami istri harus meluangkan waktu, untuk berkencan, berdua saja, tanpa anak-anak, secara rutin. Masalah waktunya, bisa disepakati bersama, sesuai situasi dan kondisi keduanya. Meluangkan waktu berduaan akan membantu menumbuhkan cinta antara suami dan istri.

 

 

  1. Masalah pasti akan datang dalam hidup ini. Kita hidup takkan bisa lepas dari masalah. Sendiri pun punya masalah, begitu juga setelah menikah. Apapun itu, anggaplah ujian yang akan membawa kita naik ke peringkat lebih tinggi bila sukses melewatinya. Setelah menikah, tiada lagi aku dan kamu, melaiinkan kita. Ego takkan bersatu dan tak bisa memecahkan masalah. Maka salah satu harus mengalah saat ego salah satu meninggi, kemudian carilah win win solution.

 

  1. Perbedaan adalah rahmat. Bahkan dengan saudara sekandung saja, pasti tidak akan percis sama. Apalagi dengan pasangan, lawan jenis, berbeda pengasuhan orang tua, pasti akan pernah bertemu selisih paham. Terimalah dengan lapang hati, saling menghargai dengan pasangan. Karena pendamping adalah partner hidup kita, selayaknya menjadi sahabat kita. Bukan untuk bersaing, siapa benar siapa salah.

 

 

  1. Jangan mengutamakan anak, hingga mengabaikan pasangan. Setelah mempunyai anak, kesibukan saat pengasuhan terkadang membuat kita mengabaikan pasangan. Kita mengutamakan anak-anak, mencurahkan seluruh cinta untuk mereka. Dan melupakan satu hal, bahwa anak adalah titipan Alloh. Kita yang mengasuh, mendidiknya, namun setelah anak-anak dewasa, mereka pun berhak lepas dari kita untuk kemudian menikah dan berkeluarga masing-masing. Di saat itu, siapakah yang selalu ada, selain pasangan kita? Selain itu, ingat juga, kita tak bisa memilih keluarga. Baik orangtua, anak, saudara, kita menerima sesuai ketentuan Illahi. Berbeda sekali dengan pasangan hidup, di mana kita yang memilih untuk membangun keluarga dengannya. Oleh itu, jangan sampai kesibukan apapun menjadikan kita mengabaikan pasangan, termasuk karena anak.

 

 

  1. Beri ruang pasangan untuk hobi dan melakukan “me time” masing-masing. Pasangan yang harmonis bukanlah yang selalu bersama-sama setiap saat. Pasangan yang harmonis selayaknya memberikan kesempatan satu sama lain, untuk menjadi dirinya sendiri, menikmati hobi masing-masing. Termasuk juga memberikan kesempatan bergaul dengan teman-temannya. Karena hidup ini seharusnya lengkap. Ada saatnya kita tak bersama pasangan, namun dia akan selalu ada di hati kita.

 

author

Author: