Menghadapi Tantrum pada Anak

Anak usia balita belum mampu memahami emosinya. Belum mengerti bagaimana cara menyampaikan keinginannya dengan tepat, bila tanpa arahan dari orangtuanya. Mungkin masih banyak yang belum menyadari, bahwa anak-anak bukan manusia dalam ukuran mini. Mereka baru merasakan hidup di dunia, masih mempunyai banyak keterbatasan. Terutama untuk yang baru menjadi orangtua, tips berikut ini mungkin akan membantu. Berdasarkan pengalaman pribadi dan juga terapi yang pernah saya terima.

 

  1. Pahami anak sedang berjuang dengan emosinya. Ini yang pertama. Pahami akan kebutuhannya untuk menyalurkan emosinya. Bahwa anak pun berusaha mengatasi ketidaknyamanan dalam dirinya, dengan cara yang dia ketahui.

 

  1. Ajarkan tentang emosi. Kita bisa pelan-pelan mengenalkan emosi pada anak. Beri nama pada emosi, apakah itu marah, sedih, dan sebagainya. Kita juga bisa mengenalkan emosi yang kita rasakan pada anak. Setelah lepas marah, misalnya, jelaskan pada anak, bahwa kita marah dan apa penyebabnya. Bila nama-nama emosi sudah dipahami anak, kemudian selanjutnya arahkan anak untuk menyampaikan dalam bentuk kata-kata, saat emosi itu datang. Arahkan anak untuk dapat menjelaskan dengan tepat apa yang dia inginkan. Tentu, ini akan menjadi tugas bertahap. Karena sudah sewajarnya anak di bawah umur 7 tahun, harus berulang kali diingatkan, karena memorinya masih pendek.

 

 

  1. Quality time ditingkatkan. Saat bersama dengan anak-anak, hadirlah secara penuh. Jangan buat pikiran menjadi bercabang. Meskipun anak masih kecil, dia akan merasakan, dan tahu perbedaannya. Penuhi apapun kebutuhan penting bagi anak. Perhatikan juga hak anak. Terkadang Tantrum adalah cara dia mencari perhatian orangtuanya. Untuk itu ada baiknya kita sebagai orangtua selalu introspeksi, apakah sudah maksimal dalam memenuhi hak anak-anak kita. Jangan hanya bisa menuntut anak yang memperbaiki sikapnya, orangtualah yang lebih dulu memberikan contoh bagaimana bersikap yang baik.

 

  1. Pandanglah anak dengan pikiran pemula atau beginner mind. Maksudnya, jangan memberi label apapun pada anak. Apakah itu cengeng, atau nakal. Memang ada masanya anak tantrum, bukan berarti dia cengeng atau nakal. Pandanglah anak sebagaimana apa adanya dia.Sebagai makhluk yang sesuai dengan umurnya yang belum matang. Untuk lebih jelasnya, coba bayangkan memandang anak saat dia tertidur pulas, apa yang kita rasakan? Kurang lebih, seperti itulah pikiran pemula.

 

 

  1. Pastikan kondisi kita sedang stabil. Tentu saja! Sebagai manusia biasa, kita juga mempunyai emosi. Jagalah selalu, agar jangan sampai emosi terpancing dengan tantrum pada anak. Maka dari itu, kita pun harus memahami diri sendiri terlebih dahulu. Pahami apa yang kita butuhkan. Apakah kita memiliki trauma pengasuhan yang belum diselesaikan? Apakah kondisi kita yang kelelahan karena urusan rumah tangga yang menjadikan kita terpancing emosi? Atau karena masalah hormon mendekati tamu bulanan? Bila memang kondisi kita sedang tidak memungkinkan, baiknya minta bantuan orang lain. Bisa pasangan, bisa juga pengasuh, atau tetangga Bila memang kita butuh untuk memulihkan diri sendiri, maka kunjungilah orang yang tepat. Berilah ruang untuk diri sendiri. Karena hanya orangtua yang bahagia yang bisa membahagiakan anak-anaknya.
Rate this article!
author

Author: