Mengenal Broken Home

BAB I – Keluarga dan Anak

 

Setiap hubungan yang dimulai dari dua orang yang telah mantap untuk memutuskan jenjang pernikahan, pasti memiliki statistik hubungannya masing – masing. Ada naik turun maupun, pasang surut pendapat. Hal tersebut adalah konsekuensi yang tidak bisa dihindari. Cek – cok, pertengkaran, ngambek, dan berbagai masalah pelik lainnya.Tak jarang perpecahan dalam rumah tangga dimanfaatkan oleh orang lain yang iri terhadap hubungan yang sedang kalian jalani sekarang. Dan ketika fondasi rumah tangga tidak kokoh dari awal, maka perceraian adalah jalan keluar satu – satunya yang terlintas di fikiran kalian. Bahkan tanpa memikirkan akibat dari perbuatan kalian dalam jangka panjang.

 

Untuk yang telah memiliki buah hati khususnya, bukankah seharusnya anak kalian menjadi perekat hubungan dalam suatu rumah tangga? Bukankah itu seharusnya adalah point pertama yang kalian perlu pertimbangkan? “Jika diri ku sendiri tidak bahagia, bagaimana caraku membahagiakan anakku?” Bukankah ini fikiran dasar kalian. Bukan ingin mematahkan atau membantahnya, karena pada hakikatnya memang seperti itu cara membagi kebahagiaan. Apa yang akan kalian bagi jika bahagia tidak melekat dalam diri.

 

Apa sih Broken home itu? Apa penyebabnya? Apa Broken home hanya terjadi pada seorang anak yang orang tuanya bercerai saja? Apa pula dampaknya untuk psikologi anak? Apa mereka akan baik – baik saja? Miris memang, tapi banyak anak hanya diam ketika mengetahui sesuatu yang buruk terjadi pada orang tua nya. Apa yang mereka lakukan? Apa yang mereka katakan? Mereka diam dan berpura – pura tidak tahu apa apa. Apa mereka depresi? Apa mereka bahagia? Dear Para orang tua, pikirkan ulang. Pastikan bahwa kalian berfikir menggunakan hati dan fikiran yang tidak terbawa emosi. Jangan jadi egois.

 

Ada dua golongan anak yaitu golongan yang berasal dari keluarga harmonis dan broken home. Keluarga harmonis adalah keluarga yang bahagia, didasari oleh ikatan cinta kasih, kerelaan, dan keselarasan hidup lahir batin serta senantiasa merasa cukup dan puas atas segala sesuatu yang ada dan telah diberi oleh Tuhan Yang Maha Esa. Berbeda dengan keluarga harmonis, keluarga broken home atau dalam bahasa Indonesia berarti perpecahan dalam keluarga adalah kondisi dimana keluarga tidak harmonis dan berjalan layaknya keluarga yang rukun, damai,, dan tenang. Penyebabnya karena sering terjadi keributan serta perselisihan yang membuat pertengkaran dan berujung pada perceraian. Dan yang paling penting adalah ketika ayah dan ibu tidak dapat berperan dan berfungsi sebagai orang tua sebagaimana mestinya.

 

Anak yang tuumbuh dan berkembang dari dua keluarga ini, juga tidak sama. Perbedaan yang mereka miliki sangat signifikan. Khususnya anak – anak yang sedang melewati fase remaja, mereka sangat membutuhkan perhatian orang tua dalam masa mencari identitas dirinya. Anak remaja (anak berusia dua belas sampai dua puluh satu tahun) yang berasal dari keluarga broken home proses carian identitas nya akan terhambat dan menimbulkan rasa kebingungan identitas (confused of identity).  Perhatian, belaian, pelukan, ciuman, kecupan, dan senyuman diperlukan sebagai  keperluan guna memberi kehangatan dalam hati dan jiwa anak sehingga dapat membantu anak dalam menguasai emosinya. Sedangkan untuk membuat anak menjadi peka terhadap lingkungannya, anak membutuhkan sentuhan hati berupa simpati dan empati.

Rate this article!
Mengenal Broken Home,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply