Mengapa Kita Harus Mempunyai Etika?

Judul di atas membawa kita pada suatu fakta adanya problematika dekadensi moral yang pelan tapi pasti tengah terjadi di jaman ini.. Sehingga menimbulkan berbagai pertanyaan yang berkecamuk dalam benak kita. Mengapa anak-anak sekarang banyak yang tidak memiliki sopan santun? Mengapa banyak terjadi kasus asusila? Mengapa banyak terjadi tawuran antar pelajar? Mengapa seorang anak bisa bersikap kasar terhadap orangtua dan gurunya? Mengapa banyak terjadi kasus korupsi?

Titik persoalan utama atas berbagai kasus di atas adalah karena semakin berkurangnya kesadaran akan beretika pada generasi muda sekarang ini. Kemajuan teknologi dan informasi di masa kini memang berkembang begitu pesatnya. Namun sayang tidak diimbangi dengan makin tingginya kesadaran dalam beretika dari para pemuda/pemudinya. Padahal dengan etika itulah peradaban suatu bangsa dapat dijaga dan diperindah.

Adanya etika membuat derajat manusia jauh lebih mulia dibandingkan hewan, meskipun sama-sama makhluk ciptaan Allah Swt. Sehingga melalui etika akan terlihat batas pembeda yang jelas antara manusia dan hewan. Karena tak hanya manusia, beberapa hewan tertentu juga mempunyai semacam ‘kecerdasan’, sehingga bila dilatih serius mampu melakukan berbagai hal sesuai instruksi. Manusia dan hewan juga sama-sama mempunyai nafsu yang berfungsi untuk melanjutkan keturunannya.

Tapi manusia dikaruniai akal budi dan hati nurani oleh Allah Swt. sedangkan hewan tidak.  Atas dasar karunia-Nya itulah,  manusia mempunyai etika. Dengan etika manusia dapat mengatur sikap dan kehidupannya sehari-hari baik yang bersifat vertikal (berhubungan dengan Sang Pencipta) maupun yang bersifat horisontal (berhubungan dengan sesama makhluk ciptaanNya) sehingga tercapai keharmonisan dan kebahagiaan dalam hidupnya.

Etika bila ditinjau dari ajaran agama Islam berkaitan dengan akhlak. Pedoman utama akhlak umat Islam adalah Al Qur’an dan Al Hadits. Nabi Muhammad Saw. adalah sosok panutan (uswatun hasanah) bagi umat Islam karena kemuliaan akhlaknya. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Al Qur’an, surat Al Ahzab ayat 21. Maka akhlak umat Islam harus berlandaskan pada aqidah/keyakinan kepada Allah Swt. sebagai Sang Pencipta dan Nabi Muhammad Saw. sebagai utusan-Nya. Maka bisa dikatakan bahwa kadar akhlak seorang muslim itu dapat dilihat dari seberapa besar kadar keyakinannya terhadap Allah Swt. dan Nabi Muhammad Saw. sebagai utusan-Nya.

Tingkat tertinggi dari kadar keimanan seseorang setelah Islam dan Iman adalah Ihsan, yaitu keyakinan bahwa Allah Swt. akan selalu melihatnya, apapun yang dilakukannya, dimanapun, dengan siapapun dan kapanpun.

Di sini saya akan sedikit menceritakan pengalaman saya saat mengikuti study tour ke negara Jepang beberapa tahun yang lalu. Saat itu ada seorang peserta yang ketinggalan smartphonenya di toko souvenir. Sebelum ia repot mencarinya, dalam waktu singkat smartphonenya telah diantar oleh penjual toko souvenir tersebut.

Lalu ada lagi seorang teman ketinggalan dompetnya yang berisi sejumlah uang dan surat berharga saat di bandara Narita. Saat ia panik mencarinya, tiba-tiba seorang petugas bandara datang membawakan dompet yang dicarinya tersebut. Saat diperiksa, isi dompet masih utuh dan tak ada satupun yang hilang.

Di Jepang saya juga dapat menyaksikan sendiri betapa tinggi kesadaran masyarakatnya dalam menjaga kebersihan dan ketertiban lingkungannya. Mereka mau mengantre dengan sabar. Sejak anak-anak mereka juga dilatih tertib, jujur, disiplin dan saling menghormati karena ketaatan mereka pada dewanya.

Bila masyarakat Jepang saja mampu berlaku jujur dan menjaga kebersihan lingkungannya karena rasa takutnya akan dewa sesuai keyakinannya, maka kaum muslimpun seharusnya lebih bisa menjaga akhlaknya karena takut kepada Allah Swt.

Jadi dapat saya simpulkan bahwa manusia harus mempunyai etika karena etika itulah yang mengangkat derajatnya dan mampu membedakannya dengan hewan/ makhluk ciptaanNya yang lain. Dan seorang muslim harus mempunyai akhlak yang mulia agar harmonis kehidupannya dan sebagai bentuk aplikasi atas keyakinannya terhadap Sang Pencipta yang telah memberikan pedoman hidup melalui kitab suci-Nya dan sunnah melalui utusan-Nya.

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply