Mengapa harus Menulis – Ubah Dunia dengan Untaian Kata Penuh Makna

Mengapa harus Menulis?

Ubah Dunia dengan Untaian Kata Penuh Makna

Adi Rustandi

 

Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa setelah mendengarkan, berbicara, dan membaca. Menulis itu ibarat orang sedang berbicara. Artinya, mengatur kata-kata yang disampaikan secara lisan, berekspresi dengan mimik wajah, dan diikuti dengan intonasi, artikulasi, serta volume suara yang jelas. Biasanya, orang yang berbicara dengan enak dan tanpa beban itu seperti air yang mengalir. Mengalir dari hulu menuju hilir. Begitu pun dengan menulis, mengalir dari hati penulis menuju hati pembacanya.

Ada ungkapan, menulislah sebelum nama kita ditulis dibatu nisan. Ungkapan ini jelas sangat memotivasi kita untuk berkarya melalui tulisan. Sekalipun kita telah tiada, jika kita mampu menulis dan menghasilkan karya lewat tulisan, maka karya itu akan terus dibaca oleh orang lain. Mungkin, inilah yang disebut karya yang abadi.

Akhadiah (2003:1-2)[1] merinci berbagai keuntungan yang hendak dicari orang dalam menulis. Dengan menulis (1) lebih mengenali kemampuan dan potensi diri kita, (2) mengembangakan berbagas gagasan, (3) lebih banyak menyerap, mencari, serta menguasai informasi dengan topik yang kita tulis, (4) mengorganisasikan gagasan secara sistematis, (5) dapat menilai gagasan secara lebih objektif, (6) lebih mudah memecahkan permasalahan, (7) mendorong kita lebih aktif, dan (8) membiasakan kita berpikir serta berbahasa secara tertib.

Melalui menulis, kita dapat mengubah dunia dengan untaian kata dan makna. Bahkan Habiburrahman El Shirazy pernah mengatakan bahwa menulis itu merangkai huruf menjadi kata, menguntainya menjadi kalimat, menyulamnya menjadi paragraf, menganyamnya menjadi bacaan, dan menerbitkannya sebagai karya yang penuh manfaat.[2]

Melalui menulis, kita dapat dikenal oleh orang banyak. Melalui menulis, kita akan mendapatkan uang tambahan. Dan banyak keuntungan lainnya yang akan didapatkan oleh seorang penulis. Bukan hanya materi, tapi kepuasan batin pun bisa dirasakan. Dewi “Dee” Lestari, rela meninggalkan keluarganya demi sebuah tulisan yang berkualitas. Andrea Hirata, rela melakukan penelitian tengah malam dan menyusuri belantara hutan di Belitung, hanya untuk menikmati sebuah rasa takut yang sangat hebat serta kemudian, dituangkannya dalam sebuah tulisan yang kini bukunya bisa dinikmati, Laskah Pelangi.

Menulis juga menaikkan kualitas hidup kita ke tingkat lebih tinggi. Menulis menyebabkan terjadinya perubahan yang sangat hebat. Salah satunya, kualitas hidupnya, fisiknya, keuangannya, karirnya, mentalnya, sosialnya, dan bahkan kepekaannya terhadap apa yang dilihatnya, serta apa yang dirasakannya.

Ada banyak fakta menarik tentang orang yang sukses dalam bidang kepenulisan. Mereka semuanya memiliki kesamaan dalam satu hal: kebiasaan menulis secara teratur mengubah hidupnya yang biasa menjadi luar biasa. Andrea Hirata, Ahmad Fuadi, Dewi “Dee” Lestari, Habiburrahman El Shirazy, dan Bambang Pamungkas merupakan segelintir contoh yang meluangkan waktu di antara kesibukan sehari-harinya dengan menulis.

Penulis yang saya teladani, pendiri Komunitas Menara, dulunya seorang jurnalis, tapi sekarang menjadi novelis, motivator, dan sekaligus pengarang buku trilogi novel Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, dan Rantau 1 Muara, Ahmad Fuadi, mengatakan dalam bukunya: Menulislah dengan dilandasi oleh semangat dan petuah Rasulullah “Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat buat orang lain.”

Kunci suksesnya penulis tidak terlepas daripada membaca. Karena dengan membaca, bukan hanya menambah wawasan dan ilmu pengetahuan, tapi bagi penulis dengan membaca akan menjadi sebuah amunisi dalam menuangkan idenya menjadi sebuah karya.

Ya, ternyata, menulis itu bukan hanya menyenangkan, tapi dengan menulis kita mampu mengubah dunia dengan untaian kata penuh makna. Dan dengan menulis, kita belajar kesantunan berbahasa.

Jangan tunggu hari esok, jika mampu menulis hari ini!

Ayo, mulailah menulis! Luruskan niat dan sempurnakan tulisan!

Daftar Pustaka

[1] Akhadiah, S. (2003). Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta:  Erlangga.

[2] http://aktubufillah.blogspot.co.id/2013/03/tips-menjadi-penulis-hebat-ala_15.html. Diunduh 15 Desember 2016

 

Tags:
author

Author: