MENEMBUS MAKNA PUISI LEWAT LARIK “TERATAI”

(Sebuah Awal dari Suatu Keniscayaan Arti Apresiasi)

Filosofi Teratai (latin: Nymphae)

Bunga teratai adalah tumbuhan air (hidro-hayati). Bunga ini memiliki akar yang menghunjam lumpur (tanah), batang yang ada di dalam air, dan daun yang lebar di atas permukaan air, serta bunga dengan kelopak yang indah dan menyebarkan merbak wangi. Secara biologis, bunga teratai berada pada tempat yang berair (rawa), bahkan terkesan kotor. Tetapi, bunga ini tidak terkontaminasi oleh kekotoran lingkungan, malah memberikan keindahan pada alam sekitar.

Bunga teratai mempunyai akar yang mencengkeram tanah (lumpur). Sebuah kondisi fisik yang punya pendirian kokoh. Tidak terombang ambing oleh arus air yang setiap jeda menghantam dirinya. Hal ini yang tetap menjadikan bunga ini sebagai hakikat kehidupan yang “asasunnafsi,” teguh pendirian.

Batang bunga teratai fleksibel. Artinya, panjang pendeknya batang ditentukan oleh kedalaman air. Kondisi ini yang menjadikan ia tetap eksis. Sebagai cagak batang yang siap untuk menopang kehidupan yang lebih baik dan lebih bijak untuk waktu yang tidak terbatas.
Daun bunga teratai hijau dan lebar. Sebagai bagian dari adaptasi morfologi, bahwa dengan daun lebar ia mampu memberi ruang uap yang lebih banyak. Dan pada akhirnya, kehidupan yang ia inginkan tercapai. Daun yang lebar juga memberikan rasa nyaman untuk hidro-hayati lainnya. Seperti ikan, belalang, katak, dan serangga bisa menjadikan daun teratai sebagai habitat hidupnya. Jadi, teratai memberikan kehidupan untuk aneka hayati lainnya.

Bunga teratai mempunyai delapan kelopak. Hal ini sebagai gambaran delapan penjuru mata angin. Bermakna sebagai makhluk yang bisa menjaga amanah di seluruh kehidupan. Wangi bunganya sebagai gambaran “surga” yang menjadi tujuan hidup semua makhluk (manusia).
Teratai dalam Puisi

Tulisan ini bermula dari sebuah puisi yang saya posting di grup FB Ruas (Ruang Aksara). Puisi “Teratai Putih, Labbaik!” ditulis saat saya menghadiri undangan Selamatan Haji. Acara tersebut ditempatkan di sebuah masjid, maka titi mangsa pun tertulis di masjid. (Hee,.. sorry saya tidak tahu nama masjidnya?)

Tersebab lahirnya puisi berkenaan dengan “haji” saya rasa tidak ada yang perlu saya jelaskan lagi, bahwa sebuah doa dan asa bergurindam di dalam dada sebagai bentuk hasrat untuk berbuat lekuk cinta di hadapan “baitullah.” Amin ya Robb!

TERATAI PUTIH, Labbaik!
(Rusdi El Umar)

menjaring cahaya purnama
getar ‘syahadah’ semburat cinta
pada gulita
berkeluh tentang rindu
diam berpeluk dekap Dia
dalam sujud kesahku
berpinta punya asa, pada-Mu!

Masjid, 23072016

Mengapa teratai, mengapa haji? Apa korelasi antara keduanya? Ingat, teratai tidak hanya berwarna putih. Ada yang merah, ungu, dan mungkin juga kuning dan jingga. Maka, dialektika teratai putih tidak akan lepas dari makna haji, dimana jutaan manusia tumpah ruah di sekitar “baitullah” bertalbiyah, menyebut dan menyeru nama Tuhan. “Labbaikallahumma labbaik. Labbaika la syarikalaka labbaik,….”

Putih, putih, dan bersih. Mereka satu dalam tujuan pasti, menghamba sebagai manusia yang rindu dengan perjumpaan Tuhannya. Saya? Semoga!
***

Teratai telah menjalari emosi pemikiran kita. Maka muncullah puisi “teratai” dengan polah yang tidak sama, tetapi masih dalam koridor keagungan bunga ini. Teratai telah membangun jiwa bunga, dengan segala harum yang terpancar di antara jiwa-jiwa yang cinta keindahan.
Berikut, puisi yang lahir dari kreasi ideologis, sepinggan wacana yang menghentak pemikiran kita.

TERATAI MERAH, API
(Margono Glenmore)

Aku tahu
Jasadku tanah
Penuh belukar kering
Setiap saat pasti berapi
Bara-bara asap
Sesak, bukan hanya aku
Mengitari sajadah
Hangus! karena api
Tanahpun retak
Enggan mengubur

Malang, 230716

“Teratai Merah, Api” adalah maksud utama di dalam puisi ini. Makna puitik akan berbeda antara senarai teratai putih dengan teratai merah. Ada ukuran logika makna yang terbentuk, berupa makna lambang (sign). Merah (lambang keberanian, angkuh, dan sombong) dan putih (simbolisme kesucian, bersih, dan murni), serta teratai telah membangun dialektika makna yang tidak sepadan.

Puisi Mas Margono Glenmore ini, adalah aku-puisi (aku-lirik) sebagai deskripsi akan eksistensi “aku” —part-prototo— untuk menggambarkan siapa kita yang sebenarnya. Menurut puisi ini, kita adalah tanah, api, dan (jangan lupa, air). Ketiga dimensi ini dengan ukuran dan kadar tertentu akan membentuk wujud insan dengan segala kekhasan dan keunikannya. Sebuah kesempurnaan tingkat tinggi jika diramu oleh kesucian jiwa.

Tanah adalah bagian dari unsur ciptaan manusia yang akan berinteraksi dengan api. Tanah membentuk kadar jiwa setara, sedangkan api adalah letupan nafsu yang akan menghitamkan tanah. Api sebagai lambang jelek, sombong, angkuh, iri, dengki, dan sebagainya, dan semacamnya. Maka karakter api ini harus diiringi oleh unsur air sebagai penyeimbang dalam kehidupan. Air adalah unsur kesejukan, terbangun dari rasa gerah ketika “tubuh” telah berlaku noda.

Mas Margono bermaksud(?) bahwa manusia adalah makhluk “sempurna” dengan segala unsur penyusunnya. /Jasadku tanah/Penuh belukar kering/Setiap saat pasti berapi/. Kalimat ini sebagai penanda bahwa tubuh kita tersusun atas “tanah” dan “api.” Dua unsur penting di dalam “ego” manusia itu sendiri.

Teratai sebagai lambang keindahan dan keagungan, sementara api adalah nyala merah yang berkobar, menghanguskan. Api dalam kadar tertentu akan menjadi unsur yang memberi manfaat. Tetapi, jika api itu berlebih, di luar kebutuhan yang diharapkan, maka api akan menjadi bumerang dalam kehidupan.

“Teratai Merah, Api” adalah letupan rasa sebagai bentuk ke-diri-an yang niscaya untuk berlaku baik oleh logika nurani dan bertindak jahat oleh kerakusan nafsu. Berlakulah apa yang dibahasakan oleh Alquran bahwa manusia bisa “buas” melebihi binatang, atau suci setingkat malaikat. Baik dan jelek adalah sebuah pilihan.
***

Berbeda dengan Mas Margono, Mas Heroe Wine membangun puisi dengan pondasi “teratai” dalam lorong cinta dan koridor rindu. Sudah sangat mafhum bahwa teratai adalah lambang cinta. Keindahan verbalitas kelopak bunga teratai begitu nyata. Merebak harum wangi, serta menciptakan romansa asmara.

TERATAI DI PELUPUK MATA
(Heroe Wine)

Teratai serupa lotus kejernihan
Mekar di air mengalir biarkan
Selembut bayu malam aku dekap
Sehangat cahaya pagi meresap
Teratai puspa kerinduan
Mekar di pelupuk mata
Sebatas ku menggagumimu
wahai bunga
Selembut tutur sang dewi
Kala jemari kelopakmu menarikan sebait kata puja
Seketika badai itu merepih lirih
Kala tembang kerinduanmu mendendang pipih

Entah…
Akupun terhanyut pasrah
menghulu di riamnya kelopak mekarmu
Kadang kau nampak di sepetak telaga mega
Merayu lelangit rinduku
Sebentar kau tenggelam
Sembunyi di balik lautan awan
Membawa segumpal resahku
Selepas senja tawamu mengoda
Kala aku telah terbuai selimut rima
Aku tiada berdaya
Raut ayu puisi wajahmu
membingkai syair dalam mimpimimpi ku
Rindu menganyam memerih sukma
Karena rindu tak pernah bertanya
Bahwa secangkir rindu saja sudah membuat candu
Teratai di pelupuk mata…

Di dalam puisi yang tidak ada “titi mangsa”nya ini, —padahal titi mangsa perlu lho?,— Mas Heroe bertutur tentang “dia” yang adalah teratai melebur cinta dan rindu. /Akupun terhanyut pasrah/menghulu di riamnya kelopak mekarmu/. Kalimat ini sudah tidak bisa diragukan sebagai lagu nurani tentang “dia” bunga teratai yang telah tersemat di dalam jiwa. Hati begitu mekar di antara sapa yang mendayu kisah samsara.

Puisi romantis ini telah menjadi simbolik nyata tentang makna bunga teratai. Yaitu cinta, rindu, dan asmara. Meski begitu, saya masih harus berpikir lebih untuk memaknai kata “merepih” dalam kalimat /Seketika badai itu merepih lirih/Kala tembang kerinduanmu mendendang pipih/. Saya mencoba menelusuri makna “merepih,” mungkin dari dasar kata “repih.” Kemudian teringat lagu Chrisye “Merepih Alam.”

“Merepih Alam/Di malam berselubung kabut kelam/Wajah pun meredup/Tercermin haus cahaya/Meremang gulana/Menatap reruntuhan dalam duka.”

Lirik lagu yang diciptakan oleh Eross Djarot ini lebih kepada alam metafor untuk menciptakan suatu keindahan kalimat dan kedalaman makna. Mari kita memandang alam, apa yang sudah terjadi dengan alam lingkungan kita? Rusak dan hancur bukan?
Mas Heroe bermaksud(?) dengan kata “badai merepih lirih” adalah kenyataan diri yang ‘mungkin’ akan mendapatkan banyak tantangan dan rintangan dalam meraih sang “teratai cinta.” Hee,… nampak melankolis sekali ya? Ya, itulah sekira makna yang memungkinkan untuk berniscaya.
***

Masih dalam diskusi makna puitik teratai, Mas Margono kembali menciptakan bait-bait puitika dengan “Kelopak Teratai.” Puisi ini tidak lebih dari puisi Mas Heroe Wine sebelumnya. Masih dalam jejak rindu, di terowong cinta. Sepertinya, sebagai jembatan dari sebuah larik puisi “Teratai di Selingkar Janur,” yang akan saya bahas berikutnya.

KELOPAK TERATAI
(Margono Glenmore)

Satu-satu menyatu, lalu!
Senja melepas demi satu
gugur layu

Kalimatnya sahaja
Masih ada dalam rindu
Mendekap syahdu
Aku masih satu
Hingga kelopak terakhir
Walau tanahku malu
Teratai merah masih api!
Sebelum lingkar janur
sebelum satu sajadah

Malang, 230716

Kelopak Teratai ini —dalam sepemahaman saya— sebagai sebuah ungkapan syahadah cinta. Dengan /kalimatnya sahaja/ mengingatkan saya pada satu keputusan untuk hidup bersama dalam damai kasih dan cinta. Ijab-kabul mewarnai pikiran saya untuk sebuah keabsahan rindu-kasih yang sebenarnya.

/Hingga kelopak terakhir/ adalah sebuah ungkapan ketulusan yang sempurna. Bahwa cinta yang sebenarnya tidak akan pernah terpisahkan oleh berbagai katastrofa atau beragam ujian cinta yang lainnya.
***

Kemudian, tercipta pula riak larik puitik sebagai pengurai jiwa samsara, pelaku cinta dan kerinduan untuk melengkapi larik puisi “Kelopak Teratai.” Puisi ini juga memanfaatkan lekuk keindahan teratai. Maka, lambang Dewa Amor begitu nyata di dalam akurasi makna puisi ini.

TERATAI DI SELINGKAR JANUR
(Heroe Wine)

Lalu terpetik
Setangkai teratai di sebalik bilik
Tersanggul embun di pucuk janur
Di ujung pagi yang mulai mengabur
Tangkainya menjadi tongkat setegak dhuha
Kelopak tersujud dalam baitan doa
Mekar merekah
Menjadi pengantin waktu dihamparan sajadah
Teratai di selingkar janur

“Teratai di Selingkar Janur” mengingatkan saya pada “lengkung janur kuning” yang menjadi khas dari sepasang pengantin. Tentu saja ada perbedaan larik cinta untuk sebuah harapan kehidupan dua insan yang saling memadu kasih. Pada puisi ini juga begitu nampak religiusitas harapan dengan kalimat, / Kelopak tersujud dalam baitan doa/Mekar merekah/Menjadi pengantin waktu dihamparan sajadah/. Kelopak (teratai) bersujud, berdoa agar pengantin mampu melewati waktu dengan tanpa melewatkan taat dan takwa (hamparan sajadah).

Senada dengan tema puisi sebelumnya, makna puisi romansa “teratai” rupanya telah menjadi penebar jiwa yang haus oleh luapan perasaan. “Teratai Bunga Air,” disamping menjabarkan hakikat teratai yang sesungguhnya, bunga yang tumbuh di air, berdaun lebar, dan berbunga indah.

TERATAI BUNGA AIR
(Heroe Wine)

Mekar di air biarkan
Menjadi bunga kejernihan
Bunga musim kerinduan
Hasratmu bukanlah hujan
Yang menjadi kelopak teratai dalam tetesan
Karena hasratmu serupa gumpalan awan
Teratai mekar di air biarkan
Jarak pandangmu di batas tepian
Antara awan dan hujan
Teratai akan layu di pertapaan
Tanpa air suci kehidupan
Tinggallah baitbait tercampakkan
Seperti kemarau di musim penghujan

/Teratai mekar di air biarkan/ adalah sebuah ungkapan kasat mata tentang keadaan teratai yang hanya bisa tumbuh subur di air. Sebagai realita, tidak perlu lagi jabaran makna. Namun sebagai simbol filosofi, teratai telah memberikan ruang imaji sebagai individu yang tidak tercemar oleh lelaku sosial yang negatif. Justru, individu yang baik adalah yang mampu memberikan manfaat, bahkan di lingkungan yang penuh dengan cemaran.

Membaca larik terakhir dari bait puisi di atas, saya terperangah oleh kejutan makna kesesalan, keterasingan, bahkan kekecewaan, dan keputus-asaan(?).
/Teratai akan layu di pertapaan/Tanpa air suci kehidupan/Tinggallah baitbait tercampakkan/Seperti kemarau di musim penghujan/. Liris bait ini menjadi penanda yang benar-benar membuat saya cengang. /Seperti kemarau di musim penghujan/ adalah kalimat yang bagitu menghunjam. Kemarau dan hujan adalah sebagai simbolik kausalita. Jika ada kemarau, maka hujan pun pergi. Jika ada hujan, maka kemarau pun lenyap. Sebuah paparan realitas makna yang membuat jiwa pencipta puisi tersedak oleh kenyataan teratai cinta. Patah hati? Jangan deh, dunia tidak selebar daun kelor (merunggai, moringa orivera). Hee,….
***

Masih dalam koridor samsara dan lorong asmara, lambang bunga teratai tersampir sebagai keharuman cinta. “Bunga Teratai,” kembali Mas Margono berkisah tentang keagungan bunga.

BUNGA TERATAI
(Margono Glenmore)

Mengambang di atas air
Dinding melingkar
Bungapun diam
Sejuta hasrat
Menjalar ke langit
Tanpa tiang diapun jatuh
Sebait puisi
Merias wajah ranum
Dalam lelah duka
Teratai!
Tak mampu meraih pagar
Hanya beradu pandang
Aku pada batas jarak
Teguh dan renung
Doa hujan untuk teratai
Waktu biarlah lalu
Bunga bolehlah layu
Tapi aku, masih di sini
Dalam bait teratai
Dan ruas-ruas aksara
Menunggu mekar kembali

Malang, 230716

/Bunga pun diam/Sejuta hasrat/ sebagai perlambang akan keadaan kembang teratai. Diamnya telah memberikan nuansa indah. Mekarnya adalah bukti keteguhan cinta. Dan harumnya sebagai jiwa yang selalu berpikir positif. Maka, selandai pemikiran yang deru, selimut kerinduan itu pun pecah di dinding daun teratai, sebagai pelindung untuk kesucian hati.

Wahai, Teratai! (Aku) tak mampu meraih pagar (ayu). (Aku) hanya bisa beradu pandang, pada jarak (yang tidak terjamah). Wuih,..seperti romansa “Kasih Tak Sampai?”
Akhirnya, (sorry, bukan akhir, hee…) Mas Margono dan Mas Heroe terbelenggu(?) oleh ke-jumud-an makna. Hanya, dan hanya saja sebatas teratai yang dipoles oleh lenguh asmara, maka di sini dua Mas ini terperangkap oleh simbolik statis. Padahal masih banyak ragam arti (lain) yang menasbihkan arti teratai dengan laksa arti yang punya arti. Namun, kecenderungan makna teratai telah memaksa pelaku cipta puisi untuk terseret kepada rutinitas simbol (sign).

SAJAK TERATAI
(Margono Glenmore)

Sekuntum terikat
Rampai mengikat
Namun seperti malaikat
Hidup karena air
Suci mengalir
Sapa embun membulir
Napasnya sewangi dewa
Warnanya seindah surga
Kumbangpun terpesona
Jika engkau adalah aku
Pasti terkubur bisu
Terbujur menanti layu
Malang, 230716

Puisi ini tidak lebih dari sekadar bunga teratai yang sunyi. Masih di dalam kehampaan karena tidak ada yang sudi (sanggup) menyentuh. Dan mimpi pun berkesah dan berkisah tentang keheningan. Sedih kan?

Memang, teratai berpaut dengan keindahan dan cinta. Tetapi, terbelenggu oleh “ketiadaan” adalah bagian dari “kematian” kreatifitas. Saya tidak bermaksud bahwa puisi Mas Margono dan Mas Heroe tidak baik. Tetapi, terjebak dalam rutinitas makna harus dijauhi untuk merekam aneka jejak makna yang lain.

Penutup

Teratai adalah bunga indah yang menjadi kiasan para pujangga. Teratai, dalam ragam makna puisi bisa bersimbol feminim ataupun antonim, lawan arti untuk sebuah kesenjangan.
Sebagai bunga yang hidup di tempat (biasa) kotor, namun bunga ini mampu memberikan keindahan dan keharuman untuk lingkungan sekitarnya. Maka, jelaslah bahwa segala sesuatu di muka bumi ini tidak tercipta dengan sia-sia. Sebagaimana yang dijelaskan di dalam Alquran,

“….Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (Surat 3 : 191)

Demikian catatan kecil ini yang dapat saya tulis, sebagai penghormatan untuk sebuah karya agung. Kepada semua pihak, khususnya Mas Margono Glenmore dan Mas Heroe Wine, permohonan maaf yang tiada bertepi jika ulasan kecil ini tidak berkenan dan apa lagi tidak memberikan manfaat sama sekali. Wassalam dan mohon maaf!

Madura, 23/07/2016

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply