Menebar Cinta Dengan Menulis

September lalu saya masih bukan siapa-siapa.

Saya hanyalah seorang ibu rumah tangga yang diam di rumah mengajar anak saya.

Kemudian, saya begitu memiliki keinginan untuk menulis sebuah cerita fiksi setelah menonton film Chris Evans “Before We Go” yang menurut saya sangat menyentuh. Sebuah film sederhana tentang kesetiaan dan cinta. Saya membuat sebuah novel yang menurut saya bukanlah sebuah novel yang bagus karena lebih mirip dengan cerita yang sangat panjang. Yang membuat saya sangat bersemangat adalah reaksi teman-teman saya ketika membacanya. Mereka mengatakan tulisan saya terasa bagus walau ditulis oleh seorang pemula. “Efemeral” yang saya tulis itu mampu menghibur teman-teman yang sesama ibu rumah tangga.

Mendengar kesan ini, saya bersemangat untuk mencari ide baru. Saya menemukan ide untuk novel ke dua saya dan mulai menuliskannya hingga jadi sebuah novel lengkap.

Namun di luar dugaan. Ketika membacakan ¬†naskah tersebut kepada suami saya, beliau mengatakan bahwa saya tidak memiliki bakat menulis. Tulisan saya buruk dan tidak layak jual. Sedih. Ya, saya sangat sedih. Namnuk kemudian saya berkata kepadanya, “watch me!”

Sejak itu saya sangat ingin berlatih menulis. Saya mengikuti semua sayembara menulis yang saya temui di facebook. Saya juga menulis untuk wattpad dan membuat blog wonderemak.wordpress.com untuk membantu orang tua pemilik anak autis dalam menyembuhkan anak autis mereka.

Sesuatu yang tidak saya duga terjadi.

Saya masuk sebagai kontributor  dalam antologi yang yang saya ikuti. Sekarang ada 6 buku Antologi yang memuat karya saya di dalamnya. Walau penerbitan indie tapi saya luar biasa senang karena inilah pengakuan orang terhadap karya saya.

Novel yang saya tulis di wattpad juga mendapatkan sambutan positif dari pembaca. Senang dan terharu. Ini perasaan saya.

Ternyata ada orang-orang yang menyukai karya saya.

Dari sini saya belajar untuk tidak pernah memikirkan siapa yang tidak menyukai karena orang akan selalu menemukan titik lemah dan menertawakannya. Pikirkanlah siapa yang mencintai dengan tulus karena merekalah yang memberikan nafas dalam hidup, bukan mematikannya.

Dari sini saya terus berjuang memperbaiki tulisan saya. Saya masih melihat kekurangan dan kelemahan dalam tulisan saya yang entah apa. Saya tahu satu-satunya cara untuk mengatasi maslaah ini adalah dengan meningkatkan kualitas ilmu yang saya miliki. Dengan rakus saya mengikuti kelas kepenulisa, bergabung dengan komunitas-komunitas menulis yang ternyata luar biasa banyaknya dan berisi orang-orang hebat.

Hingga akhirnya saya bertemu dengan KMO.

Di kelas pertama saya snagat terkejut ternyata ada ratusan orang yang memiliki antusiasme dalam bidang penulisan. Bukan hanya saya.

Ketika kelas di mulai dan Pak Tendi membakar semangat untuk menulis dan berkarya, ternyata teman-teman di dalam kelas jauh lebih bersemangat dari pada saya.

Seperti mendapat energi yang luar biasa, saya merasa jauh lebih bersemamngat dan berpengalaman daripada saya tapi mereka tetap terus belajar. Saya merasa inilah tempat saya, berada di sebuah komunitas yang benar-benar ingin menggali ilmu dan terus memberi manfaat kepada orang lain lewat tulisan.

Menulis bukan hanya tentang eksistensi, menulios adalah bagaimana kita, saya dan Anda, memberikan manfaat kepada orang lain. Mengungkapkan sesuatu yang bisa mengubah orang lain, mengubah peradaban.

Menulis bukan hanya mengeluarkan apa yang menjadi pikiran kita, tapi juga mengajak bahkan menghipnotis orang lain agar berada di dalam lingkup pikiran kita.

Menulis adalah bagaimana kita menyentuh orang lain bahkan tanpa bertemu dengannya.

Saya yakin saya bisa melakukannya.

Saya akan menjadi penulis yang memberi manfaat dan menjadi yang terbaik yang bisa saya lakukan. Semangat yang saya dapatkan di KMO akan menjadi bagian dari nyala api semangat perjalanan karir kepenulisan saya.

InshaaAllaah.

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply