MENDIDIK ANAK SESUAI KARAKTERISTIK MASING-MASING ANAK

Pada suatu sore sehabis hujan mengguyur bumi, Sepulang sekolah, salah seorang teman mengajak saya untuk makan bakso. Saya pun langsung mengiyakan saja, apalagi mendengar promosinya yang mengatakan bahwa baksonya enak.
Tibalah kami di penjual bakso tersebut. Penjual bakso gerobak dan tak ada tenda. Hanya ada dua kursi panjang. Sudah ada pelanggan lain sebelum kami. Ketika tiba giliran kami. Penjual bakso itu mulai bertanya
“Mau pake mie atau tidak?”
“Ya” jawab teman saya.
“Mau pake telur atau tidak?”
“Ya”
“Mau pake bakso kasar atau tidak?”
“Ya”
“Mau pakai penyedap atau tidak?”
“Tidak”
“Mau Pake sambal atau tidak”
“Tidak”
Begitu seterusnya. Penjual itu bertanya dengan lancar. Semua yang ingin ditambahkan ditanyakannya terlebih dahulu. Kemudian mangkok yang telah berisi bakso pun di antarkan kepadaku. Selanjutnya dia membuatkan untuk teman saya dengan pertanyaan yang sama. Tadinya saya pikir pertanyaan itu berlaku untuk kami berdua. Jadi mulailah penjual bakso itu bertanya setiap ada yang ingin ditambahkan ke dalam mangkok bakso tersebut.
Penjual bakso itu begitu paham dan menghargai bahwa pelanggan baksonya adalah orang yang berbeda-beda, sehingga punya selera juga berbeda. Oleh karena itu setiap ada yang datang membeli baksonya, dia bertanya seperti pertanyaan-pertanyaan di atas.
Begitu pun harusnya seorang guru dalam menghadapi siswanya. Karena setiap siswa adalah makhluk yang unik. Kenapa di sebut unik? Karena tidak ada seorang siswa pun yang karakternya mirip. Bahkan anak kembar sekalipun.
Oleh karena itu dalam memperlakukan siswa tidak boleh sama. Setiap siswa di kelas mempunyai kecerdasan yang berbeda-beda. Ada 8 potensi kecerdasan yang bisa dimiliki oleh siswa yaitu, Kecerdasan musik, kecerdasan kinestetik, kecerdasan linguistik, kecerdasan spasial, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalis, dan kecerdasan logika-matematika.
Kedelapan kecerdasan itu bisa ada sekaligus pada siswa, tetapi bisa saja setiap siswa hanya menonjol satu atau dua saja. Jika seorang siswa menonjol pada kecerdasan logika-matematika dan tidak pada kecerdasan linguistik, maka siswa tersebut akan kesulitan jika diminta mengarang atau membuat puisi. Tetapi jika kecerdasan linguistik yang menonjol maka tentulah jika diminta membuat karangan siswa tersebut akan dengan mudah mengerjakannnya. Begitupun sebaliknya.
Jika seorang guru sudah memahami karakteristik siswa sesuai kecerdasannya, maka tugas guru adalah mengenal gaya belajar yang cocok dengan siswa tersebut. Karena kecenderungan kecerdasan berpengaruh pada gaya belajar siswa.
Oleh karena itu seorang guru harus memahami setiap siswanya. Kecerdasan mana yang menonjol sehingga bisa disesuaikan gaya belajarnya. Dengan begitu siswa tentu akan merasa nyaman belajar karena sesuai dengan gaya belajar masing-masing. Siswa akan bisa memahami pelajaran yang diajarkan oleh sang guru.

Tags:
author

Author: