Mencintai Takdir

Mungkin sendiri dan bersama itu sama sama tidak mudah. Tapi bagaimanapun, yang sendiri, yang bersama, itu sejatinya tengah meretas jalan menuju kesendiriannya bukan ? dia takkan ditemani oleh suami, istri, anak, ayah, ibu maupun sahabat – sahabatnya, dia hanya berteman apa yang telah diperbuatnya kepada istri, suami, ayah, ibu, maupun sahabat – sahabatnya, amal perbuatanlah yang akan mengabdi selamanya.

Yang sedang sendiri, Alloh menyediakan pahala istimewa di tengah sepi yang mendera, pun yang berjalan bersama, pasti ada usaha luar biasa untuk selalu sejalan, tak selalu mudah dua – duanya, tak selalu menyenangkan dua – duanya. Pun yang kembali sendiri,  Alloh tengah menguatkan pijakan pada kaki – kaki yang mungkin kelelahan.

Ada bahagia yang menguar memburai pedih. Semoga pula ada ganjaran yang tersenyum manis di ujung perjuangan hidup kelak.

Apapun itu, jadikan ia sebagai  bentangan menuju jannahNya,  segala proses yang dilalui hingga hari ini, jangan sampai semakin menjauh dariNya,  meski buruk dimata mahlukNya , jangan sampai timbul syak wasangka atas ketetapanNya. Dia genap tahu yang terbaik bagi hambaNya,  yang paling dibutuhkan, bukan yang dinginkan.

Sebab yang menjadi masalah sebenarnya bukan apa yang ada di ujung sana, apa hasil dari usaha yang dianggap mati-matian ini, tapi bagaimana cara bersikap terhadap kisah yang dihadirkan-Nya.

Jangan pernah lelah, karena perjalanan masih teramat panjang.  Hingga Dia hadiahkan indahnya surga.

”Qadarullaah wama sya’a fa’ala..”

Rate this article!
Mencintai Takdir,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: