MENCARI YANG HILANG

MENCARI YANG HILANG

Ramadhan tahun ini di sekitar Pusdai. Aku sedang mencari makanan untuk berbuka sore itu sepulang kerja. Hari itu aku memakai “pakaian kebesaranku”, kemeja warna orange, warna ngejreng, persis warna wortel impor.
Aku menelusuri jejeran pedagang makanan yang menggelar makanannya di jalanan di depan Pusdai. Tanpa kusadari tiga wanita yang jauh lebih muda dariku, juga berbaju orange, sudah berada di sampingku. Tak salah lagi, kami satu perusahaan.

Kami bertemu muka. Sedetik dua detik, tak terjadi interaksi di antara kami. Senyum pun tidak. Timbullah kenakalanku.

“Orang Pos ya?” tanyaku dengan senyum lebar jenaka.

“Eh …iya…Bu…” jawab mereka bertiga hampir serentak, tampak gelagapan.Kami berpisah melanjutkan belanja masing-masing.

“Apakah begitu anak jaman sekarang?!” tanyaku pada kolegaku Asih, beberapa minggu kemudian. Topik kami tentang sopan santun.

“Ya memang begitu” jawabnya dengan suara tinggi, menunjukkan kekesalan.”Ketika mengajar di kelas mereka, para Management Trainee itu, sampai aku katakan bahwa ada norma standar pada budaya kita. Ya…minimal tersemyumlah pada yang lebih tua”.

“Ha?! Sampai harus diajari begitu?” aku tercengang.

“Ya karena aku juga mengalami hal yang sama”, kata Asih.

Aku jadi ingat kembali peristinwa beberapa hari ketika aku baru bekerja di Bandung. Aku satu kost dengan seorang karyawati yunior. Sebagai penghuni baru, sudah sewajarnya aku yang mendahului berkenalan. Ternyata, kami sama sama bekerja di Pos. Hanya beda direktorat. Walau kami bekerja di perusahaan yang sama, dan serumah pula, tidak ada interaksi di antara kami. Bahkan yang sifatnya basa basi sekalipun. Aku cukup bingung menghadapi situasi itu. Tetapi kebingungan itu akhirnya terjawab.

Suatu sore aku pulang kantor. Sebelum masuk rumah aku lewat di depan sang karyawati muda yang sedang menelepon. Suaranya keras dan ceria. Tampaknya cowok, di ujung sana telepon. Dia duduk di kursi dengan kedua kaki diangkat menjejak jok kursi. Pahanya hampir utuh kelihatan. Dia memakai short yang sangat short, memyamai (maaf) celana dalamnya. Aku cukup heran, ketika aku lewat di depannya, dia tidak menurunkan kakinya. Tetapi bukankah selama beberapa hari ini tak ada interaksi di antara kami? Okelah. Demikianlah nilai kesopanan yang dia anut. Beberapa bulan kemudian dia di-PHK dari perusahaan karena selesai kontrak kerjanya.

Kalau sudah seperti ini aku jadi bertanya tanya, apa yang bisa dibanggakan dari nilai seperti itu. Dunia kerja adalah dunia interaksi. Tidak cukup hanya bisa menghitung ini, menganalisis itu, mengoperasikan aplikasi ini atau seharian memencet keyboard komputer. Banyak persoalan kerja yang selesai dengan “human touch”. Lantas bagaimana si wanita muda tadi akan bisa berada dalam team work kalau basic hubungan antar manusia – senyum dan sapa – dia tak tahu atau tak hendak tahu? Apa sebenarnya yang hilang dari bangsa ini?

Bandung, 2 Oktober 2015
Lisa Tinaria

Rate this article!
MENCARI YANG HILANG,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: