MENCARI TEMPAT BERTEDUH

(Apresiasi Puisi “BINGUNG!” Karya Virginia Chantiqa)

Pendahuluan

Sejujurnya saya katakan bahwa sebenarnya saya belum kenal lebih jauh dengan sahabat Virginia Chantika. Saya hanya tahu VC ini melalui pertemanan di FB. Selebihnya, saya hanya bisa berkomunikasi terbatas lewat status dan komentar-komentarnya.

Jika kemudian saya memberanikan diri untuk me-nafsir-puisi-kan karyanya yang berjudul “bingung”, semua itu tergerak oleh energi positif yang tiba-tiba menjadi motor power untuk segera mengapresiasinya.

Bingung, sebuah judul puisi yang diposting oleh VC di grup puisi 2,7, pada tanggal 14 Agustus 2013, menarik minat saya untuk menyelaminya, karena terkesan oleh kualitas ambiguitas yang bernas, penuh terisi ‘sesuatu’ yang pantas untuk diungkapkan. Terlepas dari kapabilitas kreator pemuisi, atau pun kelihaian apresiator, maka dengan segala daya saya berusaha untuk bermuhasabah (introspeksi) dengan cara –yang mungkin kata sebagian orang agak nyelenih– apresiasi.

Apresiasi puisi ialah Penghargaan atas puisi sebagai hasil pengenalan, pemahaman, penafsiran dan penikmatan atas karya sastra yang didukung oleh kepekaan batin terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam puisi tersebut (http://erwanpras.blogspot.com/2010/12/apresiasi-puisi.html?m=1). Dari pemahaman ini dimaklumi bahwa apresiasi puisi adalah semacam kado penghargaan bagi penciptanya. Tentu saja, kado yang akan saya berikan ini adalah sebuah keniscayaan, yang bisa jadi diterima dengan senang hati, atau bahkan mungkin dilempar begitu saja ke kubangan sampah. Apa pun yang akan terjadi, saya sebagai apresiator, sebelumnya mohon maaf.

Apresiasi Puisi Bingung!

Saya rasa Virginia Chantiqa tidak dalam keadaan ‘bingung’ ketika menciptakan puisi ini. Mengapa? Mari kita coba telaah lebih jauh.

BINGUNG!

Kehilangan tongkat?
Bu, ada biru memerah: abuabu

VC 14082013

Makna leksi kata ‘bingung’ memiliki arah yang beragam, mempunyai multi dimensi perlambang, atau semiotika sebagaimana dipaparkan dalam sebuah Apresiasi Puisi “The Here and The Now” karya Mitsuo Aida oleh Eunike Kuswandi dalam blognya. Di dalam KBBI bingung artinya adalah: hilang akal (tidak tahu apa yang harus dilakukan); tidak tahu arah (mana barat mana timur dsb); tidak tahu jalan; gugup tidak karuan; bodoh; tolol; dan (merasa) kurang jelas (tentang sesuatu); kurang mengerti. Dari beberapa dimensi semiotik tersebut, saya lebih mengarah pada makna kehilangan arah dan tidak tahu apa yang mesti dilakukan.

Ada banyak problematika kehidupan yang dapat melahirkan kebingungan. Seperti kehilangan, sakit, tidak mempunyai kerja atau pengangguran, banjir, macet, sunami, tanah longsor, dan segala macam permasalahan yang dapat membuat kita merasa bingung. Tidak bisa menentukan hal yang pasti, apa yang seharusnya dilakukan untuk lepas dan terhindar dari rasa bingung tersebut. Tetapi, hal yang paling pokok dari tempat mengadu, tempat berteduh tersebab oleh rasa bingung adalah Allah swt.

Dalam al-Quran Allah swt berfirman, “maka jika kamu telah ber’azam (memutuskan suatu perkara yang harus dilakukan), maka hendaknya kamu tawakal (berserah diri kepada Allah swt).” Sandarkan segala permasalahan hanya kepada Yang Mahakuasa. Karena Dia-lah yang akan memberikan keputusan terbaik dari apa yang telah kita inginkan.

Kehilangan tongkat? Rupanya Virgi berusaha untuk memberikan penekanan yang luar biasa terhadap kebingungannya. Bahwa ia benar-benar bingung. Benar-benar kehilangan arah dan tujuan. Diiringi dengan perlambang tanda tanya “?”. Virgi bersikokoh dalam arah yang tidak pasti.

Secara harfiah, tongkat adalah sebentuk batang panjang yang biasanya digunakan untuk menopang diri. Tidak hanya itu, tongkat juga digunakan berbgai macam manfaat yang lain, seperti untuk meringankan beban bawaan, sebagai alat mengembala, dan untuk mempertahankan diri dari hal-hal yang tidak kita inginkan.

Sirah, sejarah tongkat yang paling terkenal dan fenomenal adalah kisah tongkatnya Nabi Musa yang dijelaskan dalam al-Quran. Bhawasanya Nabi Musa mempunyai tongkat yang beliau gunakan untuk segala macam keperluan. Yang ternampak dalam sirah tersebut adalah tongkat Nabi Musa dapat merubah menjadi ular raksasa, dan dengan mudah dapat mengalahkan tukang-tukang sihir raja Fir’aun. Masih menurut al-Quran, tongkat Nabi Musa juga dapat membelah Laut Merah, dan beliau beserta rombongannya selamat dari kejaran Raja Fir’aun beserta bala tentaranya.

Sepertinya, Virginia Chantiqa beretorika, bertanya tapi tidak tahu kepada siapa ia harus melambungkan tanya itu. Melihta carut marutnya bangsa. Korupsi merajalela. Uang rakyat dilipat hingga berkerut. Mereka menahan lapar, sementara para koruptor membuncit kekenyangan. Virgi benar-benar bingung. Pegangannya sudah hilang. Tongkatnya terpental entah ke mana. Dalam hal ini, saya teringat dengan puisi Beni Guntarman yang mengatakan, “……….. aku menjadi orang bingung//musafir kehilangan petunjuk arah//petualang kehilangan ribuan kisah//terlantar di belantara ilmu-Mu.” (www.jendelasastra.com).

Kemana pemuisi ini mengadu? Ke pemerintah? Ke pejabat-pejabat? Atau kepada presiden? Dalam hal ini Virgi benar-benar bingung. Ia tidak tahu kemana harus mengadu. Kepada siapa ia harus menumpahkan problematikanya. Maka karena ia begitu dekat dengan “ibu”, kepadanyalah ia mencoba berpetualang. Mengapa harus kepada ibu?

Saya jadi teringat dengan puisi yang diciptakan oleh si Celurit Emas. Sastrawan Madura yang sudah malang melintang di kancah perpuisian. Tidak saja di Indonesia, bahkan sampaik ke manca negara. Dialah D Zawawi Imron.

IBU
D Zawawi Imron

Kalau aku merantau
lalu datang musim kemarau
sumur-sumur kering, daun pun gugur bersama reranting
hanya mata air air matamu, Ibu
yang tetap lancar mengalir

Bila aku merantau
sedap kopyor susumu dan ronta kenakalank
di hati ada mayang siwalan
memutikkan sari-sari kerinduan
lantaran hutangku padamu
tak kuasa kubayar

Ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
saat bunga kembang menyemerbak bau sayang
ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti

Bila kasihmu ibarat samudra
sempit lautan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara, dan kembang laut semua bagiku

Kalau aku ikut ujian
lalu ditanya tentang pahlawan
namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
Engkau ibu dan aku anakmu

(Bantang-Batang – Madura)

Di dalam al-Quran Allah swt berfirman,

“Dan janganlah kamu mengatakan “uh” dan jangan pula membentak keduanya (Ibu dan Bapak), tapi katakanlah kepada keduanya dengan perkataan yang mulia (lemah lembut dan sopan).”

Secara naluri, ibu adalah tempat kita berteduh. Tempat kita mengadu. Karena antara anak dan ibu diikat oleh ikatan emosional, sehingga terjalin sebuah kekuatan nurani yang sangat kuat. Secara spontanitas, seorang anak akan mencari ibunya manakal ia mendapatkan sebuah permasalahan dalam hidupnya. Bahkan seorang balita sekalipun. Maka, benarlah apa yang dikatakan oleh D Zawawi Imron dalam puisinya di atas, “ibu adalah gua pertapaanku.” Tempat berlindung, mengadu, dan menumpahkan permasalahan-permasalahan. Tetapi tidak semua anak mampu memberikan hal yang terbaik terhadap ibu. Masya’ Allah.

Virgi mempunyai ikatan naluri yang begitu kuat dengan ibu. Sehingga dalam puisi “bingung”nya ini, ia memanggil ibu untuk berbagi problematika.

Bu, ada biru memerah: abu-abu// adalah ungkapan “spotanitas” Virgi ketika ia menuangkan sebuah sajak puitika. Ada biru memerah, adalah perpaduan warna yang melahirkan “abuabu”. Warna yang beragam, adalah problematika (baca: bangsa) yang juga beraneka. Abu-abu juga dapat diartikan sebagai perbuatan yang tidak pasti. Dalam bahasa agama (Islam) disebut ‘subhat’. Tidak bisa dipastikan, apakah barang/perbuatn ini halal atau haram.

Rasulullah saw bersabda,

“Yang halal sudah jelas, dan yang haram juga sudah jelas. Maka di antara keduanya ada hal yang subhat. Barangsiapa jatuh ke perkara subhat, maka berarti ia telah melakukan hal yang haram.”

Biru memerah juga dapat ditafsirkan sebagai manusia yang terkontaminasi oleh hawa negatif. Tidak berpegang teguh kepada kemampuan dirinya sendiri. Atau dapat pula disamakan dengan ayam berbulu musang. Manusia yang munafik, hipokrit, dan cenderung ingin senang (menang) sendiri.

Penutup

Melalui sajak atau puisi, kita bisa membakar dunia. Menuangkan segenap pemikiran, bahkan mampu mengubah dunia. Dengan puisi, mari kita ciptakan bangsa yang bermartabat, bernuansa arif, serta berperilaku demukratis yang sebenarnya.

Melalui puisi, Virginia Chantiqa ingin mengungkapkan ‘kebingungannya’ terhadap problematika yang nampak di depan mata. Carut marut bangsa, serta tindakan-tindakan radikalis, sporadis, dan sadistis yang selalu tayang di seantero tanah air tercinta, Indonesia.

Akhirnya, saya mohon maaf kepara penikmat sastra, terutama kepada Virginia Chantiqa, jika dalam penilaian ini kurang berkenan. Retorik apresiator sebagai bagian dari dikta diskusi kali ini, mengapa Virgi tidak mengadukan problemnya kepada Allah swt? (Jawabannya ada dalam apresiasi saya ini, Insya Allah)

Pribahasa:

Bingung tak dapat diajar, cerdik tak dapat diikuti (berlagak pandai; tidak mau mendengarkan nasihat orang). Kita semua tidak termasuk dalam pribahasa ini. Amin!

Refrensi:

Al-Quranul Karim
Hadits Rasulullah saw
Larik puisi ‘IBU’ karya D Zawawi Imron
KBBI Elektronik
www.erwanpras.blogspot.com
www.jendelsastra.com
www.puisiketulusanhati.blogspot.com
www.watashiwaeunike.wordpress.com

Rate this article!
MENCARI TEMPAT BERTEDUH,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: