Memutus Mata Rantai Sifat Buruk

Anak adalah cerminan orangtua, sebuah pepatah mengatakan demikian. Namun, kenyataannya adalah benar. Orangtua adalah tauladan anak karena fitrah anak adalah belajar dari sekitar dan pembelajaran pertama anak melalui orangtuanya.

Kita sebagai orangtua, tentu ingin menjadi tauladan terbaik bagi anak. Tapi bagaimana jika kita sendiri masih memiliki trauma masa lalu yang tidak kita sadari dan terbawa dalam pola asuh terhadap anak? Contohnya dahulu ketika kita berbuat salah, maka kita akan dihukum cambuk dengan sapu lidi. Ternyata tanpa disadari, kini saat anak berbuat salah kita pun cenderung “main” tangan. Kita tahu ini adalah hal yang salah, tapi tidak kuasa melawan. Terkadang, kita baru sadar setelah semua terjadi.

Setiap manusia memiliki masa lalu. Jika manusia memiliki masa lalu yang buruk, hanya manusia itu sendiri yang bisa merubah apakah dia ingin meninggalkan masa lalu yang buruk demi masa depan yang indah.

Ini pun tercantum dalam ayat Al Qur’an.
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [QS. Ar-Ra’d/13:11]

Namun bagaimana caranya memutus mata rantai sifat buruk yang terlanjur melekat dalam diri?

1. Niat.
Semua diawali dari niat untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Niat ini akan menjadi motor penggerak dalam usaha untuk berubah.

Berniatlah untuk berubah karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jika niat sudah diluruskan, insya Allah tantangan sebesar apapun akan dihadapi dengan pantang menyerah.

2. Melatih kesabaran dan kesadaran.
Ketika datang emosi, maka yang bekerja adalah alam bawah sadar. Itu sebabnya kebanyakan sifat buruk seperti menjerit ketika marah, memukul anak, mengamuk dan sebagainya terkadang tidak disadari oleh kita.

Melatih kesadaran bisa dilakukan dengan cara menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan sembari berhitung satu sampai sepuluh. Cara ini membuat jeda waktu sehingga kita bisa tetap sadar.

Dari sana, lambat laun akan terlatih kesabaran kita menghadapi keadaan yang menguras emosi.

3. Berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Tidak ada daya upaya tanpa pertolongannya. Berdoa adalah yang utama dalam perjalanan kita menuju perubahan yang baik. Karena Allah adalah sebaik-baik pertolongan yang dapat kita minta.
Bulan Ramadhan ini adalah saat yang tepat untuk memulai perubahan memutus mata rantai sifat yang buruk.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : “Dan apabila hamba-Ku bertanya kepada-Mu (wahai Muhammad) tentang Aku, maka (sampaikanlah) sesungguhnya Aku dekat, Aku menjawab permohonan doa yang dipanjatkan kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu mendapatkan petunjuk” [al-Baqarah/2:186]

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa menjaga niat dan usaha kita untuk memutus mata rantai sifat yang buruk. Allahuma Aamiin.

(Ayas Ayuningtias)
#SahurKata #KMO15
Sumber informasi firman Allah: https://almanhaj.or.id/3954-ramadhan-bulan-berdoa.html

Rate this article!
Tags: