Meminimalkan Sibling Rivalry

Sibling rivalry, apapun penyebabnya sangatlah wajar terjadi. Namun jika tidak ditangani dengan baik, gesekan kecemburuan bisa merugikan bahkan membahayakan anak-anak.

Nah, bagaimana cara meminimalkan sibling rivalry di antara saudara hingga yang ada bukan persaingan, melainkan kerja sama dan kekompakan. Yuk, simak tips berikut ini.

  1. Kenalkan kakak dengan calon adik bayi

Mengenalkan kakak dengan calon adik akan membuat kakak lebih bisa menerima kehadiran adik bayi. Buatlah kondisi agar kakak antusias menanti kehadiran adiknya. Biarkan kakak mengusap-usap perut ibu dan mengajak bicara calon adiknya itu.

Sambil menanti hari kelahiran, ajarkan pada kakak untuk mengucapkan kalimat afirmatif. Seperti ini contohnya, “Adik bayi yang pintar, kapan adik mau ketemu kakak? Kakak sudah gak sabar nie ingin ketemu kamu. Cepet lahir ya!” Dengan begitu, kehadiran adik tidak lagi menjadi ancaman bagi kakak. Bahkan menjadi hadiah yang ia tunggu-tunggu.

 

  1. Setelah adik lahir, libatkan kakak dalam aktivitas merawat adiknya

Ibu, janganlah asyik sendiri dengan kegiatan merawat bayi. Agar kakak tidak merasa diacuhkan, ajaklah kakak menikmati bahagianya memiliki adik. Misalnya, Ibu bisa berkata “Masya Allah, Kakak sudah wangi ya. Sekarang giliran kita mandikan adik bayi, yuk!” Persilakan tangan kakak mengusap tubuh bayi dengan sabun. Begitu juga dengan memakaikan popok atau pakaian bayi. Intinya, jangan acuhkan kakak, tapi libatkan. Melibatkan beda dengan menyuruh ya, Bu.

Kegiatan ini bisa dilakukan sambil bicara banyak hal. Ibu bisa memuji kakak yang sayang adik. Ibu mencoba menggoga adik dan meminta kakak melakukannya juga. Ketika adik tertawa, Ibu dan kakak ikut tertawa.

Dengan begitu, Ibu sudah melakukan banyak hal. Merawat bayi: iya. Mengisi waktu bersama kakak: dapat. Bonusnya, ibu telah menciptakan bonding atau kedekatan antara ibu-kakak  dan antara kakak-adik.

 

  1. Tanamkan pada anak bahwa tiap orang punya kelebihan dan kekurangan . Yang membuat orang itu mulia adalah takwanya.

Adik memang tidak semahir kakak dalam mengerjakan soal matematika. Tapi hasil gambar kakak juga tidak sebagus gambaran adik. Itulah, setiap orang memang punya kekurangan, tapi pasti ada kelebihan yang ia miliki. Dan kelebihan itu bukanlah yang membuat orang itu mulia. Yang memuliakan seseorang adalah takwanya.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertawa di antara kamu.” (Al Hujurot: 13)

Orang yang bertakwa adalah orang yang mengharap ridho dan pahala Allah sehingga ia selalu menyegerakan kebaikan. Misalnya istiqomah sholat di awal waktu, berbakti pada orang tua, berkata dan berbuat baik pada saudara, teman dan tetangga, dan lain-lain. Orang bertakwa juga takut akan adzab Allah sehingga selalu mejauhkan larangan-Nya. Seperti berdusta, berbuat curang, menyakiti saudara dan lain-lain.

 

  1. Ajarkan pada anak bahwa “Hasil itu sebanding lurus dengan usaha”

Seperti kisah Habil dan Qobil putra Nabi Adam. Mengapa qurban Qobil tidak diterima oleh Allah? Karena Allah hanya menerima qurban orang yang bertakwa.

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Qabil dan Habil) dengan sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah satunya dan tidak diterima dari yang lainnya. Maka berkata yang tidak diterima kurbannya, ‘Sungguh aku akan membunuhmu.’ Dan berkata yang diteirma kurbannya, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang bertakwa.’ “ (Al Maidah: 28)

Dikisahkan, qurban yang dipersembahkan Qobil adalah qurban yang jelek. Tidak seperti qurban Habil yang terbaik dari yang ia miliki. Lihatlah, jika kita berusaha yang terbaik, kita akan mendapatkan yang terbaik pula, insya Allah.

 

  1. Biasakan anak untuk mengevaluasi diri

Jika Qobil mau mengevaluasi diri, seharusnya ia bisa legowo mengapa qurbannya tidak diterima Allah. Ia bisa belajar mengapa qurba milik Habil yang di terima.

Jika anak mengalami kegagalan, misal nilai ujiannya jelek. Janganlah Ibu mencelanya atau mencela gurunya. Ajari anak untuk mengevaluasi usahanya. Mungkinkah  kemarin ia lebih banyak santai dan tidak giat belajar? Atau anak sudah merasa giat belajar tapi teman-teman di kelas lebih giat lagi.

Evaluasi ini dilakukan agar anak tak mudah menyalahkan orang lain. Ini juga diharapkan agar anak tidak melakukan kegagalan yang sama di lain waktu.

 

  1. Beri setiap anak perhatian dan cinta yang khusus dan istimewa.

Kisah Nabi Yakub yang menganak-emaskan Yusuf dibanding anak-anaknya yang lain adalah pelajaran berharga buat kita. Janganlah sekali-kali menonjolkan rasa sayang berlebih pada salah satu anak saja. Tapi sayangilah mereka dengan cinta yang khusus dan istimewa.

Misalnya saat adik bayi tidur, Ibu bisa bermain dengan kakak. Ketika Ibu sedang sibuk dengan adik, Ibu bisa meminta ayah/nenek/saudara lainnya untuk menemani kakak bermain.

Ibu juga bisa meminta ayah untuk memperhatikan kakak. Misalnya saat ayah pulang kerja, sapalah kakak terlebih dahulu baru adiknya. Atau ketika tamu-tamu datang menjenguk bayi, mintalah mereka juga menyapa kakak.

 

  1. Jangan membanding-bandingkan anak.

Hindari perkataan, “Soal begini aja gak bisa. Lihat adikmu, nilainya 100 semua!” Ucapan semisal itu tidak akan memotivasi anak. Justru perlahan-lahan menumbuhkan rasa cemburu dan kebencian terhadap saudaranya tersebut.

Tapi ucapkanlah kalimat positif, “Adik pandai menggambar. Kakak mahir matematika. Ibu bangga sama kalian berdua.”

 

  1. Libatkanlah anak dalam menentukan tugasnya sendiri serta konsekuensinya bila ia melanggar.

Jika anak-anak ingin memiliki tugas di rumah, libatkanlah mereka dalam menentukan apa saja kewajiban yang harus mereka kerjakan. Termasuk menentukan konsekuensi apabila mereka melanggar.

Sehingga, ke depannya tidak ada yang merasa dicurangi karena semuanya sudah disepakati bersama.

 

Nah Ibu, pengertian, penyebab dan cara meminimalkan sibling rivalry sudah kita bahas tuntas.

Pertanyaan berikutnya adalah, mengapa Allah menghadirkan rasa cemburu di antara saudara?

Hmm… Sibling rivalry ini pasti ada hikmahnya. Mau tahu apa hikmah di balik sibling livalry? Selamat menanti artikel berikutnya ya, Bu…

(bersambung)

Rate this article!
Tags: