Membujuk Anak tanpa Berbohong

Membujuk anak itu memang ngegemesin, gimana enggak? Kadang mereka nurut, kadang cuek, kadang malah marah-marah. Yang pusing tujuh keliling tentu yang membujuk, bagaimana caranya agar anak mau nurut.

Sayangnya kadang orang dewasa membujuk anak dengan berbohong berupa iming-iming, tapi ternyata berbohong kepada anak fatal akibatnya. Dampak negatif dari berbohong ini bisa dibaca di Bebohong Kepada Anak, Bahayakah? Jadi bagaimana agar anak mau dibujuk tanpa kita harus berbohong dalam keadaan mendesak?

Sebenarnya caranya gampang, kalau kita sudah membujuk dengan iming-iming sesuatu ya penuhi saja, kalau sudah dipenuhi berarti kita tidak bohong kan? Hehehehe, berikut ini beberapa tips agar anak mudah dibujuk.

  1. Pelajari pangkal masalah

Pelajari kenapa anak tidak mau melakukan sesuatu. Apa karena dia sedang sibuk bermain? Atau tidak mau karena memang tidak suka. Misalnya disuruh mandi. Apa yang menyebabkan malas mandi dan apa yang membuatnya semangat mandi.

Misalnya anak semangat mandi dengan membawa mainannya, maka bujuklah anak dengan mengajaknya memandikan mainan. Atau anak lebih suka mandi bersama-sama kakak, abang atau orangtuanya, maka ajaklah anak mandi bersama.

  1. Gunakan kalimat yang lebih mudah dipahami anak.

Biasanya anak akan melawan jika kita menggunakan kalimat ditaktor. Seperti “ayo, adek harus mandi sudah sore.” Biasanya anak akan merespon dengan penolakan. Coba ganti dengan kalimat ajakan atau kalimat solusi misalnya “Dek, badan adek bau nih yuk kita mandi biar harum” atau “Dek, main air yuk”.

Kalimat-kalimat yang digunakan kita sesuaikan dengan kebiasaan sehari-harinya sehingga mudah dipahami si anak. Jika anak merasa senang melakukannya membujuk bukanlah suatu hal yang sulit.

  1. Perlu chemistry

Ternyata membujuk anak bukan hanya sekedar mengeluarkan kata-kata. Perlu chemistry kalau istilah kerennya. Caranya posisikan badan kita sejajar dengan si anak. Buat kontak mata dengannya. Jika anak masih melawan sentuh pundaknya atau badannya. Intinya kita harus fokus memerhatikan anak. Jika kita membujuk dan berbicara masih sambil lalu maka anakpun tidak akan menganggap apa yang kita bicarakan dengannya itu penting.

  1. Lihat situasi dan kondisi.

Berbicara kepada anak perlu memerhatikan situasi dan kondisi. Apakah dia sedang sibuk bermain? Apakah dia sedang marah dan tidak ingin bicara dengan siapapun? Situasi dan kondisi ini harus kita pahami. Ketika anak sedang sibuk bermain atau menonton acara kartun kesukaannya biasanya dia akan sulit dibujuk. Kecuali jika mainannya diajak serta atau acara kesukaannya sudah habis. Beri mereka kesempatan jangan terlalu memaksa di saat itu juga.

Jika anak sedang marah dan dibujuk makin marah, maka jangan ikut marah. Biarkan saja dulu. Anak-anak kadang juga memerlukan waktu untuk sendiri apalagi di usianya yang mulai meninggalkan balita.

  1. Minta tolong

Anak walaupun masih kecil tapi juga senang jika mereka dihargai atau dianggap sama seperti orang dewasa. Ketika ingin mereka melakukan sesuatu coba ucapkan kata tolong di awal kalimat. Kata tolong merupakan penghargaan kepada mereka sebagai anak yang bisa diandalkan dan menunjukkan bahwa orang dewasa juga memerlukan bantuan mereka.

  1. Teladan

Anak adalah peniru terbaik, dan kita sebagai orang tua adalah role model bagi anak. Maka berikan contoh perilaku terbaik kita didepan anak-anak. Jika kita suka berteriak dan suka marah maka begitulah anak. Jika kita suka memukul maka begitulah anak. Jika kita suka mengajak anak berdiskusi maka anakpun akan senang berdiskusi sehingga tidak perlu adu otot. Jika kita berbicara lembut maka anakpun akan demikian.

 

Memang tidak mudah melakukan itu semua. Tapi dengan berproses dan berusaha menjadi lebih baik mudah-mudahan kita bisa menjadi orang tua teladan untuk anak-anak kita.

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply