Membentuk Generasi Robbani Dimulai dari Kehamilannya

Memiliki amanah Allah yang kelak menjadi generasi Robbani adalah impian semua orangtua. Menjadikan mereka qurrota ‘ayyun dan kelak menjadi pendoa bagi kita orangtuanya. Menjadi Al-waladun sholeh atau sholihah. Mudahkah bagi kita wahai ibu sholihah? Merancang dan mempersiapkan ini? Semua harus dimulai sejak kehamilannya.

Mungkin tak ada satupun teori yang tepat untuk menemukan secara pasti sebab musabab rusaknya mental dan fisik para remaja zaman sekarang. Namun satu hal yang pasti, rusaknya generasi muda jaman sekarang tak bisa dilepaskan dari Kemajuan teknologi dan penerapan metode pendidikan yang mulai menjauh dari Islam. Lihatlah betapa Gempuran Media yang tak henti-hentinya meracuni pikiran generasi kita dengan tayangan yang tidak mendidik atau bahkan merusak moral anak-anak secara terang-terangan, gadget tercanggih yang memudahkan anak-anak kita memasuki gerbang kebebasan, dan metode pendidikan terbaru dan termodern yang justru menjauhkan generasi kita dari nilai-nilai keislaman.

Anak adalah rahmat dari Allah SWT kepada para orang tua yang harus disyukuri, dididik dan dibina agar menjadi generasi terbaik, berakhlak terpuji dan berkepribadian kuat. Setiap muslim yang beriman tentunya sangat mendambakan generasi masa depan adalah generasi rabbani, karena mereka sadar jika label “rabbani” sendiri merupakan gambaran dari generasi emas umat islam. Generasi rabbani sendiri memiliki pengertian sebagai generasi yang mempunyai sifat yang sesuai dengan tuntunan Allah SWT. Untuk pendidikan menuju generasi robbani tidak bisa kita mulai hanya saat bayi lahir, tetapi itu harus dimulai sejak bayi dalam kandungan sang ibu.
Menjalani fase kehamilan merupakan keistimewaan yang hanya diberikan Allah kepada kaum wanita. Oleh karena itu, hendaknya mereka yang sedang dipilih untuk menjalani momen istimewa ini tidak lupa berucap syukur pada Sang Pemberi nikmat. Yuk lakukan hal-hal sebagai berikut:

1. Memperbanyak membaca do’a dan ibadah, baik ibadah sholat maupun diluar itu. Dengan banyak berdo’a dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, berarti telah merealisasikan hubungan vertikal atau hablum minallah. Kita tidak bisa lepas dari doa. Sebab, nasib dan takdir anak ditentukan ketika dia masih dalam kandungan. Banyak sekali do’a yang dapat dibaca, diantaranya: “Ya Allah, karuniakanlah kepada kami keturunan yang shâlih”. “Wahai Tuhan kami, anugerahkan pada kami pasangan-pasangan hidup dan keturunan yang menyejukkan mata (penyenang hati) kami dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa” (QS Al Furqân: 74)
2. Memperbanyak membaca Al Qur’ân. Setiap huruf dalam Al Qur’ân mendatangkan pahala dan kebaikan. Hendaknya setiap ibu hamil banyak membaca kitab suci ini, juga mengkaji isinya yang luar biasa. Alangkah baiknya jika selama hamil sering mengkhatamkan bacaan Al Qur’ân, tidak hanya memilih surat-surat tertentu. Namun membaca surat-surat tertentu pun juga lebih baik dari pada tidak membaca sama sekali.
3. Memperbanyak amalan yang baik, seperti shadaqah, infaq, berbuat baik dan mengasihi semua makhluk Allah, dan masih banyak lagi sebagai manivestasi dari hubungan horizontal antar manusia (hablum minan nâs).
4. Banyak melakukan kegiatan dan aktivitas bermanfaat. Misalnya, belajar dan mengajar. Kegiatan itu akan berdampak baik bagi ibu hamil sendiri, bermanfaat bagi orang lain, sekaligus mengajarkan jenis-jenis aktivitas yang baik kepada anak, bahkan sejak dalam kandungan. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa apapun yang dikerjakan ibu hamil akan berdampak pada sifat dan sikap anak yang dikandungnya.
5. Berpikir positif, optimis, dan selalu berbaik sangka. Kita harus menjauhi buruk sangka, terutama kepada Allah. Hendaknya setiap pasangan suami istri yakin bahwa Allah akan memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya yang bertaqwa. Jangan sampai ada pikiran buruk misalnya anak yang lahir nanti akan diberi makan apa, mampu menyekolahkan atau tidak, dan macam-macam lagi kekhawatiran yang berhubungan dengan faktor ekonomi. Bukankah Allah sudah berjanji akan mencukupkan rezeki bagi anak-anak yang akan dilahirkan? “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut akan kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah dosa yang besar.” (QS Al Isra’ :31
6. Menambah pengetahuan tentang pendidikan anak untuk calon ibu, hendaknya banyak membaca buku-buku tentang pendidikan anak sejak baru lahir. Sekarang sudah banyak buku yang isinya sangat bagus mengenai kiat-kiat pendidikan dan dunia anak. Ada yang disusun dari sudut pandang Islam, psikologi, kesehatan, dan sebagainya. Jika memungkinkan, hendaknya mengikuti acara-acara kajian tentang pendidikan anak. Hal itu untuk menambah pengetahuannya tentang seluk-beluk kejiwaan anak dan bagaimana cara serta kiat pengasuhannya. Tanpa menafikan peran seorang bapak, kenyataannya ibulah yang memegang peranan paling penting dalam masa-masa awal kehidupan anak.

Demikian rangkuman yang bisa saya berikan dari berbagai sumber internet. “Ibu adalah sekolah (bagi anak-anaknya). Jika kau persiapkan dengan baik, maka engkau telah mempersiapkan rakyat atau bangsa yang baik pula” dari pepatah Arab yang saya kutip. Semoga Allah mengabulkan segala doa dan keinginan kita, terlahir generasi robbani yang akan menjadi qurrota ‘ayyun dunia akhirat.

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply