Membawa Bekal untuk Anak Didik Kita

(Revolusi Mental dalam Dunia Belajar Mengajar)

Hari ini, 27 Mei 2017, adalah hari pertama pelaksanaan ibadah puasa. Sekaligus, hari terakhir dalam program laksana kegiatan Bimtek K-13 dengan sasaran guru mata pelajaran (mapel) di SMPN 1 Dasuk, se Kabupaten Sumenep. Sebuah program yang telah mengorbankan banyak aspek. Ya, tentang fisik, jiwa, dan anak didik kita yang ditinggalkan. Tentu, sebuah asa yang harus kita “petik” dari suatu kegiatan yang harus bermakna dan bernilai guna.

Apa itu makna dan nilai guna? Setelah kita berkutat dan berpaut dengan materi Bimtek, tentu ada banyak pemahaman yang harus kita bawa. Ya, pemahaman dan pengetahuan tentang Kurikulum 2013, kurikulum teranyar, yang harus kita praktikkan di dalam pembelajaran. Idealisme yang kita tunjukkan di dalam “peer-teaching” harus kita daya-gunakan di dalam konsep pembelajaran “real-teaching.” Hal ini sebagai upaya untuk menjadikan kualitas pembelajaran kita lebih bermakna dan mampu membawa peserta didik pada tatanan karakter yang lebih kuat (materi Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)).

Ada banyak hal yang bisa kita ambil manfaat dari kegiatan Bimtek ini. Setidaknya, sebuah pertemuan membawa kita pada banyak pengalaman yang tidak kongruen. Masing-masing kita mempunyai ekspektasi kehidupan pedagogik yang tidak sama. Sehingga, memungkinkan kita untuk saling bertukar pengalaman dan menjadi pijakan yang lebih baik dalam rangka Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).

BIMTEK K-13 harus kita sikapi sebagai sebuah dinamisasi pendidikan. Meski terkesan adanya perubahan menteri, terjadi perubahan kebijakan, tetapi kebutuhan akan sebuah teknis yang dinamis dan lebih baik sangat diperlukan. Oleh sebab itu, kita harus bersikap positif (positive thinking) terhadap perubahan ini. Insya Allah, jika teknis teoritis dalam pelaksanaan K-13 kita aplikasikan dalam pembelajaran, kualitas KBM kita akan semakin berkualitas.

Pemahaman kita semakin baik dalam hal metodologi pembelajaran. Metode “ceramah” sudah harus kita batasi. Karena di kurikulum ini, pusat kegiatan ada pada siswa. Sementara, guru hanya sebatas pemantau di dalam suatu pembelajaran. Memberikan motivasi kepada peserta didik untuk menemukan suatu pemahaman sendiri dalam suatu materi. Hal seperti ini akan bernilai skeptis dan apatis jika tidak disikapi sebagai sebuah dinamika pembelajaran yang bermakna. Mencoba yang terbaik dalam sebuah pengajaran adalah suatu keniscayaan.

Ada kiat-kiat khusus yang dapat memungkinkan bagi kita untuk menerapkan teknik Kurikulum 2013:

a. Niat dan Komitmen

Sudah menjadi kesepahaman bahwa kemauan dan niat yang tulus adalah bagian awal dari sebuah kesuksesan. Termasuk sukses dalam KBM ditentukan oleh seberapa kuat niat tulus di dalam jiwa kita. Jika kita punya komitmen untuk melaksanakan K-13, apa pun konsekwensinya, maka menjadi sebuah keniscayaan untuk menggapai sebuah kesuksesan.

Sukses dimulai dari sebuah kemauan yang kuat. Dari kemauan tersebut akan berubah menjadi sebuah tindakan. Bagaikan sebuah energi, sukses dalam KBM dimulai dari sebuah perubahan paradigma terhadap keberhasilan K-13. Semoga niat kita menjadi penyemangat untuk tetap konsisten dalam pelaksanaan Kurikulum “hebat” ini. Aamiin!

b. Berpantang Menyerah

Menemukan sebuah kendala dalam pelaksanaan K-13 tidak dijadikan alasan untuk menyerah. Pada setiap kegiatan, kita pasti dihadapkan pada suatu tantangan. Baik tantangan yang datang dari dalam diri kita sendiri, ataupun halangan yang datangnya dari luar.

Tantangan dan halangan pasti ada. Namun, tidak menyerah kepada suatu tantangan adalah hal lain yang akan membawa kita kepada kesuksesan. Sukses itu sendiri tidak datang dengan sendirinya, tetapi perlu diusahakan, diupayakan, dan dimaksimalkan dalam penyelesaiannya.

“Janganlah kalian berputus asa atas rahmat Allah, karena tidak mereka tidak akan berputus asa kecuali orang-orang yang zalim.” (Firman Allah swt dalam Alquran)

c. Daya dan Usaha

Usaha adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam menerapkan sebuah kebijakan. K-13 adalah kebijakan yang telah dinilai guna oleh otoritas yang berkompeten. Maka, berdaya upaya untuk melaksanakan sebuah kebijakan merupakan suatu kewajiban. Kita harus berjiwa pantang menyerah. Revolusi Mental (jargon Presiden Jokowi) dijadikan muara transformasi dari sesuatu yang kurang baik menjadi baik. Dari hal yang baik menjadi lebih baik, dari sesuatu yang lebih baik menjadi sangat baik.

Usaha adalah sebuah kewajiban sebelum takdir itu datang kepada kita. Usaha adalah langkah utama untuk mencapai kesuksesan dalam pelaksanaan sebuah program. Termasuk program K-13, akan mencapai tingkat sukses yang maksimal jika diusahakan dan diupayakan secara maksimal.

d. Find and Discovery

Tentu, di lapangan tidak sebagaimana dalam teori. Ketika kita mendapatkan berbagai materi, kemudian kita memahami bahwa teori itu memungkinkan untuk kita lakukan, namun realitas di lapangan tidak semudah yang dibayangkan. Ada banyak hal yang terjadi di luar teori yang telah kita pelajari. Maka, find and discovery adalah sebuah solusi yang mungkin untuk kita upayakan.

Find (menemukan) adalah sebuah teknis untuk menemukan jalan keluar dari sebuah permasalahan. Discovery (penemuan) adalah harapan dari sebuah find. Maka, jika perusahan untuk menemukan suatu solusi, Insya Allah, temuan yang kita harapkan akan kita dapat.

Beberapa cara yang mungkin kita lakukan untuk menemukan solusi dari suatu permasalahan adalah dengan cara praktik. Terjun langsung di lapangan, berusaha untuk menemukan jalan keluar. Di samping itu, komunikasi dengan teman sejawat, membaca buku-buku yang relevan, serta dengan cara googling adalah teknis yang “mungkin” untuk kita lakukan.

Tujuan akhir dari sebuah pembelajaran adalah “Penguatan Pendidikan Karakter.” Di sinilah puncak harapan dari suatu pengajaran. Apakah kita mampu untuk mencapainya? Jawaban dari tanya ini hanya mampu dijawab oleh masing-masing nurani kita. Mampukah? Kenapa tidak! Optimis yuk!
***

Rate this article!
Tags:
author

Author: